Wi Tek Tong Thian :
Bung Kreshna, sebetulnya keterangan dari Bro Sumita, Ika, Junaidy 
dan Steeve sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Anda. 
Tak seorang pun yang dapat mencapai status ontologis Nirvana hanya 
dengan mengandalkan spekulasi intelektual belaka. Untuk menyelami 
Nirvana satu-satunya jalan adalah laku bathin dengan melaksanakan 
penyucian diri dan pemurnian roh melalui Sadhana (atau kalau dalam 
Theravada melaksanakan Sila untuk mencapai Samadhi dan Panna). 
Sedangkan penjelasan, keterangan, perumpamaan dan sebagainya 
tentang "Nirvana" hanya terbatas pada validitas epistemologis dari 
Nirvana (yang belum tentu benar sebagaimana apa adanya!)bukan 
hakekat Ta Onta 'Nirvana" sendiri!

Dengan kemampuan intelektual kita yang sangat terbatas dan melalui 
bahasa manusia yang sangat minim, Nirvana dijelaskan sebagai sesuatu 
yang bukan locus dan juga tidak bersifat fisik material. Nirvana 
adalah sebuah keadaan (sebetulnya juga tidak tepat 
dikatakan "keadaan", karena "keadaan" adalah sesuatu yang masih 
bersyarat) yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah memutuskan 
semua belenggu kilesa, dengan suasana bathin yang acala (stabil dan 
tak tergoyahkan) parisudhi dan bebas dari lingkaran tunimbal lahir. 

Lalu, bagaimana menjelaskan Nirvana itu kepada orang awam? Para Arya 
dan sesepuh kita berupaya mendeskripsikannya melalui perumpamaan-
perumpamaan yang sekiranya (mungkin) bisa ditangkap oleh daya nalar 
manusia pada zaman yang berbeda-beda.

Anda benar bung Kreshna, bahwa konsep Nirvana tidak bisa dirumuskan 
sembarangan melainkan harus mengikuti alur pemikiran agama Buddha, 
tapi cara untuk menyampaikan, menjelaskan dan mengumpamakan konsep 
itu bisa berubah-rubah dari zaman ke zaman. Jadi BUKAN PENGERTIAN 
NIRVANA YANG BERUBAH! TETAPI CARA MENDESKRIPSIKANNYA YANG BERUBAH 
DENGAN DISESUAIKAN PADA KONDISI DAN TINGKAT PENGETAHUAN MANUSIA 
SEZAMAN.
Demikianlah pendeskripsian Nirvana melalui perumpamaan "Api Lilin 
yang Padam" adalah cara yang paling tepat yang dilakukan pada zaman 
dahulu. Tetapi sering dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan 
teknologi, manusia di zaman kita sekarang ini seharusnya bisa 
mengambil perumpamaan lain yang sesuai zaman, salah satunya adalah 
contoh "Frekuensi Radio/HP yang Lenyap".

Mengenai tambahan pernyataan saya yang kedua yang anda katakan bisa 
diartikan bahwa "setelah mencapai Nirvana masih bisa muncul lagi" 
memang demikian yang saya maksud! 
Bukan hanya Anda, tetapi banyak sekali umat Buddha Indonesia yang 
tidak (mau) mengerti dan membantah saya habis-habisan. Saya bisa 
memaklumi mereka semua, karena sebagaimana kebanyakan umat Buddha 
Indonesia, mereka memang hanya mengerti dogma Theravada, dan 
konsep "Nirvana" yang dimengerti pun hanya terbatas 
pada  "Nirupadhicesa-Nirvana " (Nirvana Tuntas). Yakni suatu 
pencapaian tingkat Bodhi yang total bersama dengan leburnya bentuk 
wujud fisik jasmani yang bersangkutan mengikuti padamnya segala 
macam kilesa, tanpa sesuatu apa pun yang tersisa.

Namun dalam tradisi Mahayana (dan Tantrayana) masih dikenal 
konsep "Sopadhi-cesa-Nirvana" (Nirvana Bersisa). Artinya walaupun 
segala macam bentuk kilesa telah dipadamkan dan telah mencapai 
tingkat Bodhi, namun dengan kekuatan cettana yang bersangkutan 
bentuk wujud fisik masih tetap dapat diwujudkan eksistensinya.

Inilah yang terjadi pada diri para Bodhisattva, Mahasattva,
Vajrasattva serta para Dalai Lama, Panzhen Lama, Rinpoche yang
dikenal dalam Tantrayana yang katanya dapat menentukan sendiri untuk
reinkarnasi dan turun kembali dalam wujud fisik ke dunia saha untuk
memberikan bimbingan dan menolong para mahluk hidup.

Sedikit catatan untuk bung Kreshna:
Dalam posting ini saya mengganti istilah-istilah "Budha" 
dan "Budhis" dari Anda menjadi "Buddha" dan "Buddhis", karena memang 
itulah kata yang benar untuk merujuk pada agama yang dimaksud.


Maitricitra,


Erik
---------------------------------------------------------------------
In [email protected], kreshna amurwabumi wrote:
>
Rekan Erik yth,
    
Dari jawaban anda ada beberapa hal mohon dijelaskan.
Suatu perumpamaan  untuk menerangkan suatu pengertian tentunya 
fungsinya hanya untuk memudahkan mengerti apa yang dimaksud. Jadi 
kalau ada apa-apa dengan perumpamaan itu kita harus kembali ke 
pengertian yang ingin diterangkan. Dalam paragraph pertama anda 
mengatakan bahwa .... hal itu paling tepat diberikan pada zaman 
Siddharta Gautama .....  Saya tidak mengerti maksud anda dengan 
pernyataan ini. Apakah pengertian nibana itu seharusnya berubah 
menurut waktu ? atau cara menggambarkannya yang harus berubah,supaya 
orang modern lebih bisa menghayati, jadi pengertiannya tetap?.

Dalam paragraph kedua anda mengatakan.... Hilang lenyap dan musnah 
atau masih tetap eksis sebagai sebuah frekuensi yang potensial 
ditampilkan kembali....  Tambahan pernyataan yang kedua bisa 
diartikan bahwa setelah mencapai nibana masih bisa muncul lagi 
(kalau benar ini yang dimaksud, apa tujuan mereka muncul kembali dan 
kondisi untuk muncul itu apa?). Apa ini yang anda maksud ?.

Kalau menurut anda konsep Budhis tentang nibana itu apa?.Sayang 
agama lain tidak mengenal konsep nibana jadi kita tidak bisa 
merumuskan sembarangan melainkan harus mengikuti alur pemikiran 
agama Budha.
    
Terima kasih atas perhatiannya
    
Kreshna






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke