Kompas,  Selasa, 21 Februari 2006
Kegundahan Emil Salim
Keharuman dan kebesaran nama pribadi tidak ada artinya apabila tidak memberi manfaat bagi bangsa. Itulah kegundahan hati seorang Emil Salim.
Karena kekonsistenannya untuk memperjuangkan pelestarian lingkungan, ahli ekonomi ini mendapat penghargaan dari Zayed International Prize for Environment. Kita, bangsa Indonesia, sepantasnya ikut bangga bahwa ada putra bangsa yang mendapat penghargaan begitu tinggi di bidang konservasi lingkungan.
Namun, seperti disampaikan Emil Salim sendiri, kita tidak cukup hanya puas dan bangga dengan penghargaan itu. Di lain pihak kita pantas prihatin karena setiap hari kita bukan menyaksikan kondisi lingkungan yang lebih baik, tetapi sebaliknya lebih buruk.
Hampir setiap hari kita ikuti pemberitaan tentang bencana alam akibat kerusakan lingkungan. Jalur Tasik-Garut terputus karena longsor. Di Manado beberapa warga tewas karena tertimbun tanah longsor. Di Bogor beberapa warga ketakutan karena tanah tempat tinggal mereka bergerak 15 sentimeter setiap satu jam.
Kalau kita lihat keadaan di sekeliling kita, sering kali perasaan kita mendua. Tidak usah jauh-jauh, jalan saja dari Jakarta menuju Bandung. Kita lihat pembangunan yang berkembang begitu pesat. Namun, kemajuan itu harus kita bayar sangat mahal karena kerusakan lingkungan yang diakibatkannya sangat tidak sebanding dengan kemajuan yang kita lihat itu.
Benarlah Emil Salim bahwa kalau kita tidak segera menyadarkan seluruh masyarakat akan keadaan yang gawat ini, maka dalam waktu sepuluh atau 20 tahun yang akan datang, kita harus membayar kekeliruan kita ini dengan sangat mahal. Kita bukan hanya kehilangan seluruh potensi alam yang begitu murah hati diberikan Yang Mahakuasa, tetapi akan sangat menderita karena setiap saat harus menuai malapetaka alam.
Dari mana perbaikan itu harus dimulai? Karena kultur yang berlaku di negeri ini paternalistik, perbaikan tidak bisa lain kecuali dari pemimpinnya. Para pemimpin, baik formal maupun informal, harus bersatu padu merumuskan kebijakan pembangunan yang juga pro terhadap pelestarian lingkungan.
Beratnya masalah ekonomi memang membuat orang sering berpikir pendek. Sekadar untuk bertahan hidup orang tega untuk memanfaatkan sumber daya alam, yang sering dianggap sebagai anugerah yang boleh diperlakukan sesukanya.
Padahal, sejak ada Protokol Kyoto, sebenarnya kita bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari upaya melestarikan lingkungan. Informasi ini bukan hanya harus disosialisasikan kepada masyarakat, tetapi ditunjuk dengan hasil nyata bagaimana masyarakat bisa memetik manfaat dari tindakan melestarikan lingkungan. Inilah yang harus kita lakukan apabila kita tidak ingin terus menimba bencana seperti sekarang ini.
Emil Salim sudah memulai semua itu. Mengapa kita tidak lalu mengikutinya?


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke