Yamin Prabudy wrote: > Jadi dengan menjadi seorang Buddhist dan mempraktik Buddhist... kita > diharapkan menjadi sesuatu yang *suci* ? Siapa yang mengharapkan? Mempraktekkan Dhamma dengan benar dan tekun, kesucian datang dengan sendirinya. > > apakah itu berarti saya harus berlagak suci ? supaya nantinya tidak > terjadi culture shock dalam menghadapi kehidupan yang suci .. toh pada > akhirnya tujuan saya menjadi manusia suci karena praktik Buddhism Wah gimana yah caranya berlagak suci? Rintangan terbesar dalam menapaki jalan kesucian adalah "merasa sudah suci padahal belum". Dalam buku "Knowing and Seeing" karangan Pa Auk Sayadaw, seorang meditator terkenal dari Myanmar, dikatakan bahwa halangan yang sangat besar untuk maju dalam meditasi adalah ketika seorang meditator jatuh dalam "bhavanga" dan merasakan semua pikiran berhenti. Jika ia mengira bahwa inilah "Nibbana", maka kemajuan meditasinya berhenti sampai disana. Jadi dalam hal kesucian tidak ada istilah "fake it before you make it".
Bahkan untuk seorang bhikkhu, jika mengakui memiliki kemampuan batin (atau kesucian) padahal tidak memilikinya, maka ini adalah pelanggaran yang sangat berat, dan seorang bhikkhu langsung dianggap gagal dan otomatis kehilangan kebhikkhuannya. Culture shock? Apa kesucian berkaitan dengan culture? > > Kalau tujuan utama kita mencapai Nibbana... sepertinya email terdahulu > bisa di tanya lagi.. Nibbana ada di mana sih ? Ndak tau Nibbana ada dimana. Sang Buddha yang mengatakan sendiri bahwa "Nibbana adalah Tujuan Tertinggi". Jangan percaya begitu saja. Dari pada sibuk berdebat dan meraba-raba dimana gerangan "Nibbana" berada, mendingan mulai mempraktekkan dhamma. Pada zaman ketika Sang Buddha masih hidup, banyak sekali orang-orang dengan 'sedikit debu' dimata batinnya. Ada yang sedemikian sedikit debunya, sehingga begitu mendengar sedikit mengenai 'nama-rupa' langsung mengerti dan mencapai kesucian tingkat pertama, kedua, ketiga, maupun keempat. Ada yang debunya lebih banyak sehingga Sang Buddha perlu membabarkannya menjadi Lima Khanda. Sekarang ini sangat jarang ditemukan orang dengan sedikit debu, yang banyak justru orang-orang yang mata batinnya sudah tertutup kerak lumpur (maaf, seperti saya). Jadi belajar Dhamma, berlatih meditasi (merealisasi delapan pencapaian dan bervipassana untuk menumpas avijja) adalah satu-satunya pilihan yang ada. Dan dengan keyakinan yang kuat karena menyelami sendiri, kita sendiri yang akhirnya akan paham "dimana" Nibbana berada. > mohon pencerahannya.. > Demikian, semoga bermanfaat. -gunardi wu ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
