Namo Buddhaya:
Mohon maaf. Bukan maksud saya ingin memancing polemik, tetapi sekedar klarifikasi saja, dan sekalian (mudah-mudahan) bisa saling bagi pemahaman saya tentang perbedaan antara religiusitas (agama sebagai Agama)  dan Agama formal (Agama sebagai Kebudayaan).

Lama sekali saya ragu-ragu untuk menjawab rekan-rekan soal "keterikatan" ini.  Pernyataan Bro PIJ bahwa "pada dasarnya kita masih terikat", dan juga komentar Bro Safira terdahulu bahwa "Tidak masalah, Bung agamanya apa. Kalau Bung beragama lain dan punya pikiran Buddhis, kita semua juga senang. Klo ditanya beragama apa? sebutkan saja mis" O ", juga tdk apa apa dan masalah selesai bukan?", telah membawa saya pada kesimpulan bahwa pengertian kita terhadap "Agama" berangkat dari konsep yang sangat berbeda.

Agama sebagai "Agama" dan agama sebagai "Kebudayaan" beda sekali pengertiannya.

Agama sebagai kebudayaan adalah bentuk-bentuk religi dengan pelbagai latar belakang budaya yang ditempa dalam masa yang amat panjang dan kemudian membaku dalam bentuk agama formal sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. (ada Buddha, Hindu, Islam, Kristen, Shinto dll).

Agama sebagai Agama adalah "sesuatu" yang berada/terisi dalam dimensi religius manusia.
Sebagaimana kita ketahui , manusia adalah mahluk multi-dimensional, dan salah satu dimensi kemanusiaan itu  adalah dimensi religius (rasa keberagamaan).  Mulai sejak dilahirkan, dimensi religius manusia ini adalah sebuah tabularasa yang masih kosong dan tertutup. Adalah (biasanya) kedua orang-tua si anak yang bertugas untuk menolong si anak membuka dimensi religiusnya itu dengan memperkenalkan (mengisi dimensi religius)  si anak pada hal-hal yang bersifat kerohanian (bisa ajaran agama formal tertentu, bisa pula pengalaman rohani si orang tua sendiri atau hal-hal lain yang menggiring si anak untuk belajar merenungkan makna hidupnya).
Seiring dengan beranjak dewasanya si anak, pengalaman rohani yang ia alami sendiri, pengetahuan tentang pelbagai ajaran agama formal yang ia pelajari dan juga bimbingan rohaniwan yang diberikan padanya ikut membentuk warna dan corak dimensi religiusnya.
Warna dan corak religiusitas setiap orang tidak pernah sama (sekalipun menganut agama formal yang sama), dan juga selalu mengalami perkembangan seiring dengan perjalanan waktu.

Demikianlah dengan diri saya. Dilahirkan di Indonesia dari keluarga tradisional Tionghoa (orang tua bersembahyang pada Thian dan sekali-kali ke kelenteng), mengecap pendidikan dasar bilingual di sebuah negara yang tidak ada kurikulum agamanya, mengenal agama Nasrani saat kembali sekolah di Indonesia, lalu akrab dengan mahasiswa Buddhis di KMBJ (Hikmahbudhi) waktu masa kuliah. Semua pengalaman-pengalaman itulah yang (untuk sementara) memberi warna dan corak religiusitas saya sekarang ini.  Jadi, apa agama saya? Entahlah! Yang jelas,  selagi masih hidup, religiusitas setiap manusia selalu berada dalam dinamika perkembangan untuk menerima masukan-masukan yang kemudian menjadi bahan permenungan rohani.

Indonesia memang negara edan! Manusia Indonesia sejak kecil sudah mengalami segregasi berdasarkan keagamaan. Mulai dari SD (atau mulai dari TK?? Play grup??) anak-anak Indonesia sudah dipilah-pilah menurut agama pilihan orang-tua, yang ini Islam, yang itu Katolik, yang ono Hindu dan Buddha.  Dan agama pun mendapat fungsi baru di Indonesia, yakni Identitas diri yang membeda-bedakan antar satu sama lain,  dan sekaligus menjadi alat segregasi yang mempermudah penguasa melaksanakan politik devide et impera! 

Akibatnya (menurut saya) religiusitas anak-anak Indonesia adalah religiusitas yang amat sempit, isinya cuma ajaan-ajaran baku dari agama formal tertentu, dan sama sekali tidak terbuka kemungkinan untuk menggali pengalaman rohani sendiri.

Adalah hak setiap manusia, dan sah-sah saja untuk menganut agama formal tertentu.  Demikian pula  memperkenalkan  anak pada agama  formal yang dianut oleh orang tua.  Namun, harus disadari pula, dalam diri kita masih ada sesuatu yang seharusnya masih bisa dikembangkan.  Dan itu sangat potensi untuk memperkaya "sradha" kita terhadap agama formal yang sedang kita anut sekarang ini!! Sehinga dengan demikian, apapun agama kita, kita akan menjadi seorang umat Buddha (atau Nasrani, atau Islam) yang otonom.

Mohon maaf, agak bertele-tele, dan juga ngelantur ke sana-sini.  Pikiran saya memang terpecah antara menjelaskan keagamaan pribadi saya dan menjelaskan perbedaan religiusitas dan agama formal. Jadinya memang saling tumpang tindih!

Kembali saja ke diri saya.  Religiusitas (bukan agama formal) saya sekarang ini untuk sementara mungkin berisi pengetahuan agama Buddha 70 atau 80%, ditambah lain-lain pengalaman rohani pribadi serta masukan-masukan dari ajaran lain.  Sedangkan agama formal, karena Indonesia adalah negara edan yang mengharuskan rakyatnya memilih salah satu agama formal yang ditentukan, dalam kolom agama di KTP saya terisi Budha.  Lantas, apakah dengan begitu saya seorang Buddhis? Saya tidak tahu, sungguh tidak tahu!!  Bukan saya sudah bebas dari kemelekatan, tapi karena memang religiusitas saya masih sedang dalam proses perkembangan.

Bagaimana dengan anda sekalian?  Apakah dengan mengaku beragama Buddha berarti religiusitas anda sudah tertutup dan sama sekali tidak berkembang lagi?  Yakinkah bahwa religiusitas antara kita semua yang mengaku sama-sama beragama Buddha mempunyai warna dan corak yang persis sama??


Maitricitra,

Erik
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------










In [email protected], "PIJ" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Syalom jg,
 Tentu saja untuk memudahkan hidup di masyarakat. biarpun kita dianjurkan
 tidak terikat dengan nama dan rupa tapi pada dasarnya kita masih terikat lo.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Original Message -----
 From: "Erik" [EMAIL PROTECTED]
 To: [email protected]
 Sent: Thursday, February 23, 2006 6:06 PM
 Subject: [Dharmajala] Re: buddhisme vs kesucian + kebijaksanaan
 
 Namo Buddhaya,
Apakah hanya dengan mengaku beragama "Buddha" berarti saya telah  menjadi seorang siswa sang Buddha yang sejati? Atau mengaku beragama  "Nasrani" berarti saya adalah pengikut Yesus yang taat?
Mengapa harus begitu terikat pada Nama dan Rupa?

 Syalom,

 Erik

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke