Kisah Nyata Reinkarnasi: Gunung-gunung Tinggi dan
Sungai-sungai

Xiao Lian

Kata pengantar:
Beberapa dari reinkarnasi saya sangat puitis dan
romantis. Reinkarnasi ini berhubungan dengan dua orang
praktisi Falun Gong yang mana telah memberikan banyak
bantuan dalam perjalanan kultivasi saya sekarang. 

Reinkaranasi ini terjadi pada Dinasti Jin (265 – 420
Masehi) dan Dinasti-dinasti Kerajaan Selatan dan Utara
(420 – 589 Masehi). Pada saat itu, tokoh-tokoh
pahlawan pada awal periode Tiga Negara telah lama
terlupakan. Tujuh Ksatria Besar dari Rumpun Bambu
berasal dari awal periode ini dalam sejarah. Mereka
cukup mempengaruhi peradaban China. Karena pergeseran
kekuasaan politik yang terus menerus, banyak kaum
terpelajar kabur dan sembunyi di pegunungan.

Saya adalah salah satu dari kaum terpelajar itu. Saya
berusia 24 tahun. Guna melarikan diri dari pergolakan
politik, saya bertamasya ke wilayah Tiga Ngarai untuk
bersenang-senang bersama sebuah seruling. Saya
menghabiskan banyak waktu di Tiga Ngarai karena
panoramanya yang menakjubkan. Ketika saya melewati
Kota Raja Putih dengan perahu, saya memandang sungai
yang mengalir dan merasa melankolis. Sesudahnya pada
Dinasti Tang, Li Bai (??) menulis puisi yang terkenal,
”Meninggalkan Kota Raja Putih saat Subuh.”

Meninggalkan Kota Raja Putih saat Subuh
Kota Raja Putih saya tinggalkan saat subuh pagi
berselimutkan awan-awan;
Seribu mil menuju Jiangling kita berlayar dalam
sehari.
Pada kedua tepi laut percakapan siamang terdengar
tanpa henti
Ketika kapal ringan saya meluncur melewati sepuluh
ribu tebing suram

Sedih karena waktu berlalu dengan cepat, saya
tiba-tiba teringat akan Liu Bei, salah satu tiga raja
pada Masa Tiga Kerajaan. Di Kota Raja Putih, ia
meminta penasihat politiknya Zhuge Liang, seorang yang
amat pandai dan berbakat di dalam sejarah China, untuk
mengurusi anaknya yang bodoh. Dalam benak saya,
sejarah dan kenyataan bertentangan dan saya merasa
terharu. Sepertinya otak saya tidak sanggup menahan
kesedihan. Merasa tidak berdaya karena harus melarikan
diri dari lingkungan sosial yang tidak stabil, saya
mencucurkan air mata. 

Kemudian saya mendaki pegunungan terdekat untuk
bersenang-senang. Di atas gunung saya mengalami banyak
pengalaman yang mengagumkan. Contohnya, ketika saya
tidak dapat menemukan jalan, tiba-tiba saya bertemu
dengan orang tua atau anak kecil yang menunjukkan saya
ke jalan yang benar. Ketika saya tersesat di tengah
kegelapan, saya akan mengantuk dan tertidur. Ketika
terbangun pagi harinya, saya menemukan diri saya
berada di sebuah jalan. Kadang-kadang saya memainkan
seruling untuk menghibur diri. Ketika saya terhayut
didalam musik, burung dan kupu-kupu yang indah
melayang-layang di atas kepala saya atau terbang dekat
saya. Kadang-kadang kijang, antilop (semacam kijang
bertanduk tanpa ranting) dan keledai liar datang dan
mendengarkan saya bermain. Melihat dari pandangan
matanya, kijang itu kelihatannya dapat mengerti musik
yang saya mainkan.

Sekali pernah melakukan perjalanan di pegunungan dekat
lembah Xiling untuk bersenang-senang, tetesan hujan
turun di sore hari itu. Saya berpapasan dengan gubuk
jerami yang mungkin dibangun oleh pertapa, jadi
bergegas saya masuk ke gubuk itu untuk menghindari
siraman hujan. Setelah beberapa saat, berubah menjadi
gerimis. Saya pikir saya dapat menggunakan kesempatan
ini untuk menikmati pemandangan yang indah di tengah
hujan. Gerimis ini menjadikan gunung, pohon, langit
dan bumi berkabut. Hatiku sungguh dipenuhi dengan
puisi dan keindahan. Saya merasa kecil dibandingkan
dengan segala kebesaran alam.

Segera semuanya menjadi gelap dan angin menghilang.
Pada saat ini, saya tiba-tiba mendengar guzheng
(sejenis alat musik tradisional China) dimainkan.
Musik yang sangat halus itu menyentuh jiwa saya.
Kadang dimainkan dengan jelas bertenaga kadang
dimainkan berbisik. Hati saya terasa naik turun
mengikuti suasana hati dari musik. Musik itu terasa
berasal dari surga. Melodinya yang indah menyapu semua
kesedihan saya. Setelah mendengar musik ini, saya
merasa sanggup untuk melepaskan segala kesedihan
dunia!

Saya pikir, ”Mungkinkah surga memainkan musik ini
untuk saya karena melihat saya sangat kesepian?” Tak
terasa saya menempelkan seruling di bibir dan
memainkannya menemani musik yang indah tersebut.
Setelah beberapa saat, pemain musik tersebut merasakan
adanya kehadiran pengagum dan memainkannya dengan
lebih baik lagi. Guna menandingi pemusik itu, saya
lebih memusatkan diri pada permainan guna
mempertunjukkan kemurnian dan permainan musik terbaik
yang saya sanggup lakukan. Tanpa sadar, kaki saya
mengajak keluar gubuk walaupun masih gerimis. Saya
berhujan-hujanan dan memainkannya dengan sepenuh hati.
Setelah beberapa saat musik tersebut berhenti. Saya
merasa tersesat dan sedih. Ketika saya akan memasuki
gubuk itu lagi, saya mendengar seseorang berkata,
”Adikku, kembalilah ke dalam rumah. Tidak ada
siapa-siapa di luar. Itu pasti dewa yang memainkan
seruling.” Saya pikir, ”Ada orang yang tinggal di
pegunungan ini. Orang yang baru berbicara pastilah
yang memainkan musik. Saya harus bertemu mereka.” Saya
bergegas keluar dari gubuk dan mendengar suara seorang
wanita muda bersajak, ”Tinggal di pengasingan di
pegunungan, saya bermain guzheng pada waktu senggang.
Musik mengalun jauh mengejar seseorang yang
mengertinya. Hari ini guzheng saya bertemu seruling.
Bagaimana saya dapat bertemu anda untuk bertukar
perasaan?” Mendengar sajak ini, saya menjawab dengan
sajak, ”Dalam perjalanan saya, saya melarikan diri
dari hujan di dalam gubuk. Tiba-tiba saya mendengar
musik guzheng di tengah hujan. Seruling saya menggema
mengiringi musikmu untuk berbagi keindahan dan
kehalusan!” 

“Pria terhormat mana yang menyeramakkan gubuk kami?
Adikku, mari kita sambut persahabatan karib ini
bersama-sama!” Saya berjalan dan menemukan rumah bagus
dengan pekarangan yang besar. Di pagar bambu berdiri
seorang pria muda dan wanita muda. Pria tersebut
berusia sekitar 30 tahun dan wanita tersebut sekitar
28 tahun. Menilik dari pakaiannya, hidup mereka
kelihatan berkecukupan. Saya memberi hormat dengan
mengepalkan tinju di depan dada untuk menunjukkan rasa
hormat dan berkata, ”Saya tidak tahu anda berada di
sini. Rasanya saya menganggu. Maafkanlah saya!”
”Jangan terlalu sungkan. Silahkan masuk!” Setelah kami
duduk, kami saling bertukar cerita. 

Ternyata mereka adalah anak hakim di wilayah Hedong.
Orang tuanya terbunuh pada saat terjadinya pergolakan
politik. Mereka mengepak barang-barang berharga mereka
dan berpergian ke banyak tempat sebelum akhirnya
mereka menetap di gunung tersebut. Mereka memainkan
guzheng untuk hiburan setiap hari. Mereka tidak pernah
menyangka akan menemui pencinta musik seperti saya.

Selama percapakan, adik perempuannya tiba-tiba
berkata, ”Kakakku sering memukulku ketika aku masih
kecil.” Kakaknya menjawab, ”Itu karena engkau nakal
ketika masih kecil. Bagaimana engkau dapat mengeluh di
depan teman baru? Ia mungkin akan berpikir aku
menyiksamu. Adik perempuanku sangat nakal ketika masih
kecil. Tetapi setelah ia dewasa, ia menjadi sangat
pendiam. Ketika ayahku masih hidup dan bekerja sebagai
hakim di Hedong, banyak pria melamarnya tetapi ia
menolaknya semua. Adik perempuanku sungguh sangat
lain. Dunia sekuler sama sekali tidak menyenangkan
dia. Sama sekali tidak terdapat apa-apa kecuali
konflik dan rencana-renacana jahat. Roman dan
percintaan tidak kekal. Setelah semuanya selesai,
mereka berubah menjadi kosong sama sekali. Bukankah
lebih baik menghabiskan waktu dengan bermain musik dan
menulis puisi? Bukankah itu bebas dan menyenangkan
bersantai menghabiskan sisa hidup kita di pengasingan?
Sekarang kami telah bertemu anda, kami tidak lagi
merasa kesepian. Kakakku, mengapa anda tidak tinggal
dan menikmati keindahan pemandangan dan musik dewa?”
”Tinggallah bersama kami,” adiknya berkata. Mulai saat
itu saya tinggal bersama mereka di pegunungan dekat
sungai Yangtze dan menempuh hidup dewa di tempat awan
berlalu dan air terjun mengalir.

Penutup
Kelima cerita mengenai reinkarnasi sangat berdampak
pada kehidupan saya yang sekarang. Ada hubungannya
dengan takdir pertemuan dengan Fa, juga kepribadian
dan keterikatan pada masa hidup sekarang. Karena
kelima kisah ini adalah pengalaman pribadi, pada saat
saya menulis artikel ini, air mata mengalir turun di
wajah. Saya menulis artikel ini dengan sepenuh hati.

Translated from:
http://www.zhengjian.org/zj/articles/2005/9/19/33896.html
http://www.pureinsight.org/pi/articles/2005/10/3/3372.html

www.erabaru.or.id

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke