PIDATO DALAM RANGKA MEMPERINGATI 80 TAHUN NU  30 Januari 2006  Oleh Kwik Kian Gie      Selamat Malam,    Assalamu'alaikum, Warohmatullohi, Wabarokatuh,    Yth. Bapak Ketua Umum PB NU, Bapak Hasyim Muzadi.    Yth. Pucuk Pimpinan Lajnah Ta'lief Wan Nasyr NU.    Bapak, Ibu, Saudara-Saudara dan Para Hadirin yang saya hormati.    Izinkan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas  kepercayaan dan kehormatan yang diberikan kepada saya untuk memberikan  paparan dalam acara sangat penting hari ini, yaitu dalam rangka  Selamatan dan Refleksi 80 Tahun Nahdatul Ulama.    Dalam penyusunan sambutan ini saya memperoleh masukan dari Ketua PB NU  Bapak Abdul Azis Ahmad beserta staf, yang intinya yalah adanya  perasaan gelisah, gamang, galau tentang kehidupan berbangsa dan  bernegara kita dewasa ini, 60 tahun setelah Indonesia merdeka dari  penjajahan dan Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan berdiri atas  dasar falsafah negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.   
 UUD 1945 telah diamandemen menjadi bentuknya yang sudah sama-sama kita  ketahui. Kalangan sangat luas dalam tubuh bangsa kita diliputi oleh  perasaan galau dan prihatin tentang amandemen ini; tidak karena kita  semua men-sakralkan UUD 1945, tetapi caranya mengamandemen yang  terburu-buru dan tidak terlepas dari intervensi oleh dan untuk  kepentingan pihak-pihak asing.    Tentang terancamnya keutuhan NKRI, kecuali kemelut yang sudah terjadi  di mana-mana, kita semua dikejutkan dengan bunyinya pasal demi pasal  MOU antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka. Halaman 2 harian  Kompas pagi ini mengutip Gus Dur yang antara lain mengatakan : "....  saya jug takut karena yang berunding saja namanya Gerakan Aceh   Merdeka".    Para Hadirin yang saya hormati,    Benarkah keprihatinan, kegamangan dan kegaulauan kita tentang  kehidupan bernegera dan berbangsa kita ? Ataukah kita hanya mengada-ada   ?    Marilah kita melakukan refleksi tentang apa jadinya dengan negara  bangsa kita
 setalah 60 tahun merdeka ? Izinkan saya mengajukan 8 buah  pertanyaan reflektif yang fundamental kepada diri kita sendiri sebagai  berikut :    1. Kemandirian    Apakah kita dalam bidang kemandirian mengurus diri sendiri, yaitu  mandiri dan bebas merumuskan kebijakan-kebijakan terbaik buat diri  sendiri mengalami kemajuan atau kemunduran ? Apakah de facto yang  membuat kebijakan dalam segala bidang bangsa kita sendiri atau bangsa  lain beserta lembaga-lembaga internasional ?    2. Peradaban dan kebudayaan    Dalam bidang peradaban dan kebudayaan, terutama dalam bidang tata  nilai, mental dan moralitas, apakah setelah 60 tahun merdeka dari  penjajahan lebih maju atau lebih mundur ? Benarkah Bung Hatta yang  sejak puluhan tahun yang lalu sudah mengatakan bahwa korupsi mulai  menjadi kebudayaan kita. Benarkah kalau sekarang dikatakan bahwa KKN  sudah "mendarah daging" dan merupakan gaya hidup bagian terbanyak elit  bangsa kita ?    3. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi    Apakah
 setelah 60 tahun merdeka bangsa kita unggul dalam bidang  penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ? Dibandingkan dengan zaman  penjajahan, kemampuan kita menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang diciptakan oleh bangsa-bangsa lain memang boleh dikatakan cukup  up to date. Tetapi yang dimaksud apakah ilmu pengetahuan itu temuan  kita sendiri, dan apakah teknologinya ciptaan oleh bangsa kita sendiri  ? Ataukah harus membeli dengan harga sangat mahal dari bangsa-bangsa  lain ?    4. Persatuan dan kesatuan    Apakah persatuan dan kesatuan bangsa kita lebih kokoh atau lebih rapuh  ? Referensi yang dapat kita gunakan adalah amandemen UUD 1945. Bentuk  dan praktek otonomi daerah, baik dalam bidang pengelolaan administrasi  negara maupun dalam bidang keuangannya. Gerakan Aceh Merdeka beserta  cara penanganannya. Aktifnya gerakan Papua Merdeka di dunia  internasional. Konflik antar etnis dan antar agama yang cukup keras  walaupun belum di banyak wilayah RI. Hilangnya Sipadan dan
 Ligitan.  Digugatnya Ambalat.    5. Pertahanan dan keamanan    Apakah dalam bidang pertahanan dan keamanan, kondisi kita semakin kuat  atau semakin lemah. Referensinya adalah persenjataan dan alat-alat  perang yang kita miliki, dikaitkan dengan kemampuan serta prospeknya  untuk membeli di kemudian hari.    Apakah reformasi tidak terlampau meminggirkan kedudukan dan peran TNI  sampai melampaui batas-batas yang membahayakan negara ?    6. Tempat dan kedudukan bangsa kita dalam pergaulan internasional    Dalam pergaulan antar bangsa dan dalam kaitan keanggotaan kita dalam  organisasi-organisasi internasional, apakah bangsa kita mempunyai  tempat dan kedudukan yang lebih terhormat ataukah lebih terpuruk ?    7. Kemakmuran yang berkeadilan    Tidak dapat disangkal bahwa pendapatan nasional per kapita meningkat  sejak kemerdekaan sampai sekarang. Namun seperti diketahui, pendapatan  nasional tidak mencerminkan pemerataan maupun keadilan dalam menikmati  pendapatan nasional.    Referensi
 yalah bandingannya dengan negara-negara lain yang setara  dalam tahapan pembangunannya. Jumlah angka pengangguran yang masih  tinggi. Kemiskinan yang sudah menjurus pada busung lapar dan mati  kelaparan. Piramida yang tajam sebagai gambaran perusahaan berskala  besar dan usaha kecil menengah (ukm).    8. Keuangan negara    Keterbatasan dalam infra struktur, pendidikan, pelayanan kesehatan,  penyediaan public utility oleh pemerintah disebabkan karena keuangan  negara yang boleh dikatakan sudah bangkrut, ataukah atas dasar prinsip  (semacam ideologi) bahwa pemerintah haruslah sesedikit mungkin  bekerja, dan sebanyak mungkin produksi dan distribusi barang dan jasa  apa saja sebaiknya diserahkan kepada swasta; the best government is  the least government ?    Para Hadirin Yth.,    Karena malam ini sifatnya melakukan refleksi, kita tidak perlu  menelusurinya sampai memperoleh jawaban yang jelas. Namun demikian  rasanya sudah dapat dipastikan bahwa semua jawaban dari 8 pertanyaan  krusial
 tersebut menjurus pada arah yang negatif.    Dengan demikian, sadar atau tidak, bangsa kita sejak lama telah  mengalami keterpurukan atau malaise.    Berlanjutkah malaise itu sampai saat ini, dan kapan dimulainya ?    Dalam mencari jawabannya, izinkan saya sekarang mengutip observasi  dari seorang wartawan terkemuka berkewarganegaraan Australia yang  bermukim di Inggris, yaitu John Pilger yang membuat film dokumenter  tentang Indonesia dan juga telah dibukukan dengan judul : "The New  Rulers of the World". Dua orang lainnya adalah Prof. Jeffrey Winters,  guru besar di North Western University, Chicago dan Dr. Bradley  Simpson yang meraih gelar Ph.D. dengan Prof. Jeffrey Winters sebagai  promotornya. Yang satu berkaitan dengan yang lainnya, karena beberapa  bagian penting dari buku John Pilger mengutip temuan-temuannya Jeffrey  Winters dan Brad Simpson.    Sebelum mengutip hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, saya kutip  pendapatnya John Pilger tentang Kartel Internasional dalam 
 penghisapannya terhadap negara-negara miskin. Saya kutip :     "Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami  yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah  memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program  penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat  kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar. Ini terkenal  dengan istilah "nation building" dan "good governance" oleh "empat  serangkai" yang mendominasi World Trade Organisation (Amerika Serikat,  Eropa, Canada dan Jepang), dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF  dan Departemen Keuangan AS) yang mengendalikan setiap aspek detil dari  kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka  diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara  termiskin membayar $ 100 juta per hari kepada para kreditur barat.  Akibatnya adalah sebuah dunia, di mana elit yang lebih sedikit dari  satu milyar orang menguasai 80 %
 dari kekayaan seluruh umat manusia."    Saya ulangi sekali lagi paragraf yang sangat relevan dan krusial,  yaitu yang berbunyi :     "Their power derives largely from an unrepayable debt that forces the  poorest countres...." atau "Kekuatan negara-negara penghisap  didasarkan atas utang besar yang tidak mampu dibayar oleh  negara-negara target penghisapan."    John Pilger mengutip temuan, pernyataan dan wawancara dengan Jeffrey  Winters maupun Brad Simpson. Jeffrey Winters dalam bukunya yang  berjudul "Power in Motion" dan Brad Simpson dalam disertasinya  mempelajari dokumen-dokumen tentang hubungan Indonesia dan dunia Barat  yang baru saja menjadi tidak rahasia, karena masa kerahasiaannya  menjadi kadaluwarsa.    Saya kutip halaman 37 yang mengatakan : "Dalam bulan November 1967,  menyusul tertangkapnya `hadiah terbesar', hasil tangkapannya dibagi.  The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa  yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia.
 Para  pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia,  orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat  diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors,  Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American  Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper  Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto  yang oleh Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".    "Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan `the Berkeley Mafia',  karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah  Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley.  Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang  diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang  dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah  yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang   besar."    Di
 halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah  dibagi, sektor demi sektor. `Ini dilakukan dengan cara yang  spektakuler' kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern  University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk  gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen  konperensi. `Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di  satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain,  perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase  Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan  kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor  lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling  dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan  : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur  hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar  situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global
 duduk dengan para  wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan  merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam  negaranya sendiri.    Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat  (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat  nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari  bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang  dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan  Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang  dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini  bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia,  kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on  Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat,  Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter  Internasional dan Bank Dunia."    Hadirin Yth.,    Kalau kita percaya John
 Pilger, Brad Sampson dan Jeffry Winters, sejak  tahun 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan  oleh para elit bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa.    Setelah itu sampai meledaknya krisis ekonomi di tahun 1997 yang  disusul dengan depresi yang cukup hebat, kondisi moneter dan  kepercayaan Indonesia hancur. Rupiah merosot nilainya dari Rp. 2.400  per dollar menjadi Rp. 16.000 per dollar. Kepercayaan dunia  internasional maupun para pengusaha Indonesia sendiri merosot sampai  nol. Dalam kondisi seperti itu Indonesia sebagai anggota IMF  menggunakan haknya minta bantuannya, yang diberikan dalam bentuk  Extended Fund Facility atau yang lebih terkenal dengan sebutan program  Letter of Intent.    Pada akhir pemerintahan Megawati sebuah badan evaluasi independen di  dalam tubuh IMF yang bernama Independent Evaluation Office mengakui  bahwa IMF telah melakukan banyak kesalahan.    Di Indonesia, kesalahan yang paling mencolok yalah dengan ditutupnya  16
 bank tanpa persiapan yang matang dengan akibat BLBI sebesar Rp. 144  trlyun, Obligasi Rekapitalisasi Perbankan sebesar Rp. 430 trilyun  beserta kewajiban pembayaran bunganya dengan jumlah Rp. 600 trilyun,  atau seluruh beban menjadi Rp. 144 trilyun BLBI, Rp. 430 trilyun  Obligasi Rekap. dan minimal Rp. 600 trilyun beban bunganya, atau  keseluruhannya Rp. 1.174 trilyun. Kalau kurs dollar AS kita ambil Rp.  10.000 per dollar, jumlah ini ekuivalen dengan 117,4 milyar dollar AS.    Dari Obligasi Rekap yang Rp. 430 trilyun dan melekat pada bank-bank  yang semula 100 % dimiliki oleh pemerintah dijual kepada pemodal  swasta, terutama asing dengan harga murah, tetapi di dalamnya masih  mengandung tagihan kepada pemerintah dengan jumlah uang yang luar  biasa besarnya itu tadi.    Hadirin Yth.,    Buat saya, masih merupakan pertanyaan besar, apakah semua utang dalam  negeri yang diciptakan oleh IMF beserta kroni-kroninya itu sebuah  kesengajaan ataukah sebuah kebodohan ? Besarnya utang dalam
 negeri  yang diciptakan dalam hitungan minggu jumlahnya lebih besar dari utang  luar negeri yang diakumulasi selama 32 tahun.    Adapun utang luar negeri pemerintah, saldonya pada saat ini sekitar 80  milyar dollar AS, tetapi selama 32 tahun jumlah yang telah dibayarkan  berjumlah sekitar 128 milyar dollar AS.    Apa lanjutan dari Konperensi Jenewa di tahun 1967 ? Di tahun itu juga  dibentuk IGGI, sebuah perkumpulan antar negara kaya yang kegiatannya  memberi utang kepada pemerintah Indonesia. Utang ini banyak  persyaratannya. Kebanyakan hasil utang harus dipakai untuk membeli  barang dan jasa dari perusahaan-perusahaan negara pemberi utang.  Harganya di mark up. Indonesia mendapatkan barang dan jasa dengan  harga yang kemahalan. Sekitar 80 % uang tunainya hasil utang mengalir  kembali ke negara-negara pemberi utang menurut perhitungan oleh  Bappenas. Utang bertambah terus, demikian juga bunganya. Seperti telah  saya katakan tadi, jumlah utang dan bunga yang sudah dibayar sekitar 
 182 milyar dollar AS, dan saldonya sekarang masih sekitar 80 milyar  dollar AS.    Liberalisasi perbankan dan dampaknya    Sekitar 200 bank bermunculan dalam waktu singkat atas dasar Paket  Kebijakan Oktober (PAKTO) tahun 1988 yang membolehkan siapa saja  mendirikan bank dengan modal disetor sebesar Rp. 10 milyar. Bank-bank  ini didirikan, dimiliki dan dikelola oleh para pedagang besar yang  sama sekali tidak mempunyai latar belakang perbankan. Dana masyarakat  yang dipercayakan disalah gunakan dengan cara memakainya untuk  membiayai pendirian perusahaan-perusahaannya sendiri dengan mark up.  Maka bank sudah kalah clearing. Tetapi Bank Indonesia ketika itu  bukannya menghukum, malahan memberikan fasilitas yang dinamakan  Fasilitas Diskonto I. Setelah itu masih kalah clearing lagi. Oleh BI  juga masih dilindungi dengan memberikan Fasilitas Diskonto II.  Akhirnya toh tidak tertolong sehingga bank-bank tersebut di-rush.  Untuk menghentikannya, pemerintah menyuntik dana yang dinamakan 
 Bantuan Likwiditas Bank Indonesia (BLBI) sampai jumlah sekitar Rp. 144  trilyun. Setelah mengauditnya, BPK menyatakan sekitar 90 % tidak dapat  dipertanggung jawabkan.    Setelah gejolak perbankan reda, ternyata  sangat banyak bank rusak  berat. Pemerintah menginjeksi dengan surat utang negara yang dinamakan  Obligasi Rekapitalisasi perbankan (Obligasi Rekap.) sampai jumlah Rp.  430 trilyun dengan beban bunga sebesar Rp. 600 trilyun. Bank-bank ini  menjadi milik pemerintah. Terus dijual dengan harga murah, padahal di  dalamnya masih ada tagihan kepada pemerintah yang besar. Sebagai  contoh, BCA dijual dengan nilai sekitar Rp. 10 trilyun, tetapi di  dalamnya ada tagihan kepada pemerintah (Obligasi Rekap) sebesar Rp. 60  trilyun. Jadi pembeli membayar Rp. 10 trilyun, dan langsung mempunyai  surat utang negara sebesar Rp. 60 trilyun. Beban bunga per tahun dari  Rp. 60 trilyun ini selama belum dilunasi besarnya melebihi hasil  penjualan yang Rp. 10 trilyun.    Dampaknya pada besarnya
 beban utang pemerintah, baik utang luar negeri  maupun dalam negeri untuk tahun anggaran 2006 sebesar Rp. 140,22  trilyun, yaitu beban bunga sebesar Rp. 76,63 trilyun dan cicilan utang  pokoknya sebesar Rp. 63,59 trilyun. Jumlah ini pengeluaran terbesar  setelah keseluruhan pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah  daerah, baik rutin maupun pembangunan.    Menuju ke arah liberalisasi mutlak    Sejak Republik Indonesia berdiri sampai tahun 1967 tidak pernah ada  rincian konkret dari ketentuan pasal 33 UUD 1945 yang bunyinya :  "Barang yang penting bagi negara dan cabang-cabang produksi yang  menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan  dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."    Penjabaran yang konkret sampai bisa menjadi peraturan tidak pernah ada  sampai tahun 1967, yaitu yang tertuang dalam UU no. 1 tahun 1967  tentang Penanaman Modal Asing.    Saya kutip pasal 6 ayat 1 yang berbunyi : "Bidang-bidang usaha yang  tertutup  untuk penanaman modal asing
 secara pengusahaan penuh ialah  bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hadjat hidup  rakyat banyak sebagai berikut :    a. pelabuhan-pelabuhan;  b. produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum;  c. telekomunikasi;  d. pelajaran;  e. penerbangan;  f.  air minum;  g. kereta api umum;  h. pembangkitan tenaga atom;  i. mass media. "    UU tersebut sekaligus menentukan bahwa kepemilikan asing dalam  cabang-cabang produksi tersebut tidak boleh lebih dari 5 %.    Setahun kemudian, UU no. 68 mengulangi lagi kata-kata krusial dari  pasal 33 UUD tersebut, lengkap beserta rincian konkretnya dari  cabang-cabang produksi dari a sampai dengan i yang persis sama dengan  UU no. 1 tahun 1967, tetapi asing sudah boleh memiliki 49 %.    Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1994 mengulangi lagi kalimat  krusial dari UUD 1945, yang juga dilengkapi dengan rincian konkret  dari cabang-cabang produksi a sampai dengan i. Tetapi dalam PP  tersebut ditentukan bahwa asing boleh
 memiliki, menguasai, mengelola  sampai 95 %.    Belum lama yang lalu, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie  menyelenggarakan apa yang dinamakan Infra Struktur Summit. Dalam  kesempatan itu beliau mengumumkan bahwa Kabinet Indonesia Bersatu  membolehkan asing memiliki 100 % dari cabang produksi apa saja.    Tidak lama setelah itu Meneg BUMN juga menyelenggarakan apa yang  dinamakan BUMN Summit, yang mengumumkan bahwa pada dasarnya pemerintah  tidak dibenarkan memiliki unit usaha. Maka privatisasi akan dijalankan  terus. Bukan semata-mata karena pemerintah perlu uang, tetapi atas  dasar prinsip dan school of thought.    Pengadaan infra struktur tidak lagi oleh pemerintah dengan pendanaan  dari pajak, tetapi diserahkan kepada pemodal swasta yang akan  mengambil keputusan membangun infra strutkur atau tidak atas dasar  perhitungan rugi/laba. Maka pengguna infra struktur akan dikenakan  bayaran yang dinamakan tol, dan harganya harus dapat memberi  keuntungan yang memadai kepada
 investornya. Sedikit banyaknya,  kenyataan ini akan memberi andil dalam membuat ekonomi Indonesia  menjadi high cost economy.    Rakyat Indonesia harus membayar BBM dengan harga yang ditentukan oleh  New York Mercantile Exchange (NYMEX). Maka harga BBM dinaikkan secara  drastis. Dasarnya UU Migas yang menentukan bahwa harga BBM ditentukan  oleh mekanisme pasar. Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa ketentuan  tersebut bertentangan dengan pasal 33 UUD kita. Tetapi diabaikan oleh  pemerintah tanpa ada yang berdaya.    Hadirin Yth.,    Last but not least, benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglits  dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa utanglah yang  dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia ?    Dalam rangka ini, izinkankanlah saya mengutip buku yang menggemparkan.  Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : "The Confessions of  an Economic Hitman", atau  "Pengakuan oleh seorang Perusak Ekonomi".  Buku ini tercantum dalam New York Times bestseller list
 selama 7   minggu.    Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai  berikut.    Halaman 12 : "Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di  Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11  orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan  pembangkit listrik buat pulau Jawa."    Halaman 13 : "Saya tau bahwa saya harus menghasilkan model ekonomterik  untuk Indonesia dan Jawa". "Saya mengetahui bahwa statistik dapat  dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang  dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya."    Halaman 15 : "Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran  (justification) untuk memberikan utang yang sangat besar jumlahnya  yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsutan di mana John  Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti  Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui  penjualan proyek-proyek
 raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.  Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman  tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah  dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh  kreditornya, sehingga negara pengutang (baca : Indonesia)  menjadi  target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis  militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam  lainnya."    Halaman 15-16 : "Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek  tersebut yalah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan  membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima  utang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing.  Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima utang menjadi  permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari  pemerintah-pemerintah penerima utang. Maka semakin besar jumlah utang  semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang
 sangat besar  menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan,  pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun  tidak perlu masuk dalam pertimbangan."    Halaman 15 : "Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik  Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap  pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang  harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang  bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB."    Halaman 16 : "Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB  yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya  menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa  publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang  kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin.  Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi."    Halaman 19 : "Sangat menguntungkan buat para
 penyusun strategi karena  di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu  pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan  organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF."    Bab tiga khusus tentang Indonesia dengan judul : "Indonesia, pelajaran  buat Penghancur Ekonomi".    Halaman 21 : "Prioritas dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat  yalah supaya Suharto melayani Washington seperti yang dilakukan oleh  Shah Iran. AS juga mengharapkan bahwa Indonesia akan menjadi model  buat negara-negara di sekitarnya. Washington mendasarkan sebagian dari  strateginya pada asumsi bahwa manfaat yang diperoleh dari Indonesia  akan mempunyai dampak positif pada seluruh dunia Islam, terutama di  Timur Tengah yang eksplosif. Dan kalau itu tidak cukup, Indonesia  mempunyai minyak. Tidak seorangpun yang mengetahui dengan pasti  tentang besarnya dan kwalitas  dari cadangan minyaknya, tetapi para  akhli seismologi sangat antusias tentang kemungkinan-kemungkinannya." 
   Halaman 28 : "Akhirnya kepada kami diberikan keanggotaan dari Bandung  Golf & Racket Club yang ekslusif, dan kami bekerja dalam kantor cabang  Bandung dari Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN), perusahaan listrik  yang dimiliki oleh pemerintah."    Dari sanalah John Perkins dengan Tim-nya beroperasi, yang didukung  sepenuhnya oleh para anak bangsa yang menjadi pengkhianat terhadap  rakyat dan bangsanya sendiri.    Hadirin Yth.,    Kelompok ekonom yang terkenal dengan nama teknokrat dengan sebutan The  Berkeley Mafia tidak pernah absen mengendalikan ekonomi Indonesia  sejak tahun 1967 menjalankan tugas apa saja yang diperintahkan oleh  Kartel IMF, sambil terus menerus menakut-naukti Presidennya sendiri.    Hanya dalam periode ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI mereka  sama sekali tidak mempunyai perwakilan di dalam pemerintahan. Maka  dengan berbagai cara dan tekanan akhirnya berhasil membentuk Dewan  Ekonomi Nasional dan Tim Asistensi pada Menko EKUIN. Untung
 dampaknya  tidak besar atau boleh dikatakan nihil sama sekali.    Namun sayang bahwa sejak Ibu Megawati menjabat sebagai Presiden,  kendali ekonomi jatuh ke tangan Berkeley Mafia lagi, yang sekarang  kendali serta kekuasaannya bertambah mutlak.    Kondisi Politik, Pertahanan, Keamanan dan kesatuan NKRI    Saya tidak mempunyai pengetahuan dan kompetensi berbicara dalam bidang  ini.    Namun saya kebetulan mengetahui bahwa Gus Dur mempunyai hubungan yang  sangat baik dan komunikasi yang intensif dengan Jenderal Ryamizard  Ryacudu beserta para Jenderal lainnya, sehingga buat NU bukan hal yang  sulit memperoleh gambaran yang lengkap tentang kondisi HANKAMNAS.    IPOLEKSOSBUD    Tentang kondisi dalam bidang IPOLEKSOSBUD dan pertanyaan apakah dalam  bidang inipun kita sedang terpuruk, saya kira NU sendiri adalah   akhlinya.    PENUTUP    Sebagai penutup, apa yang harus kita lakukan dan peran apa yang dapat  dimainkan oleh NU ? Jelas bahwa cengkeraman dan kerusakan sudah  mencapai taraf
 yang tidak dapat dibelokkan ke arah perbaikan tanpa  gerakan yang massif, yang menyadarkan seluruh rakyat Indonesia dengan  maksud menyatukannya.    Negara bangsa kita boleh miskin dan boleh sangat terpuruk. Namun kalau  rakyat seluruhnya bersatu padu, tidak ada kekuatan dengan persenjataan  yang secanggih apapun yang dapat mengalahkannya. Contohnya adalah  Vietnam, Korea dan mungkin Irak. Contoh yang sekarang gilang gemilang  kedudukannya dan hanya bermodalkan kesatuan dan persatuan yang kokoh  adalah China, yang mungkin disusul oleh India.    Nahdatul Ulama adalah organisasi yang lebih tua dari Republik  Indonesia dengan akar yang dalam dan cakupan yang meliputi seluruh  Nusantara. Jumlah anggotanya juga tidak tanggung-tanggung.    Rakyat melihat, meminta dan mengharapkan agar dalam kondisi yang  separah dan seterpuruk ini, bersama-sama dengan seluruh komponen anak  bangsa NU memainkan peran yang penting.    Para Hadirin Yang saya cintai dan saya hormati,    Saya akhiri paparan
 saya dengan sekali lagi mengucapkan terima kasih  yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan kehormatan yang telah  diberikan kepada saya.    Selamat Malam,    Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke