13 Maret

   Apakah yang mempertahankan orang baik di jalan
kebajikan? Yaitu rasa malu serta kesusilaannya.

   Suatu ketika Bodhisattva mengambil kelahiran
sebagai putra seorang brahmana mulia, sangat dihormati
karena keturunan serta tingkah lakunya, sebuah
keluarga yang menjunjung tinggi adat istiadat,
mengendalikan dirinya serta menjalankan praktik. Ia
menerima diksa sebagaimana umumnya, serta upacara
penyucian yang diwajibkan, dan pada usianya yang telah
pantas, ia dikirimkan agar tinggal bersama seorang
guru untuk belajar, kelahirannya (kastanya) dan juga
suri teladan tingkah lakunya.

   Anak tersebut dengan segera mengerti apa yang
diajarkan kepadanya, bertanggung jawab (yang sangat
ditekankan oleh keluarganya), kelakuan baiknya serta
tingkah lakunya yang tenang, semuanya sangatjarang
menghiasi seorang pemuda, membuat gurunya
memperlakukannya dengan lebih sayang serta senang.
Singkatnya, jika kesaktian kebajikan dapat
mempengaruhi bahkan mereka yang terbakar oleh api
kebencian, apalagi terhadap mereka yang memang baik
hati.

   Gurunya, untuk menguji moralitas para siswanya,
bermaksud mengeluhkan derita serta kemiskinan dirinya.
Di saat jeda pelajaran.suci ia mengeluh:

   "Bagi orang yang tak memiliki sarana keluarga, tak
punya kebahagiaan, bahkan di hari raya! Mengemis
makanan membuatku lelah. Kemiskinan sungguh keadaan
yang menakutkan dan tiada harapan adalah buahnya.
Menjadi orang miskin sama halnya dengan menjadi orang
buangan, lahir hanya untuk membanting tulang!
Kemiskinan adalah keadaan yang lemah, tiada
kegembiraan serta tiada habisnya kesusahan."

   Seperti kuda yang berjingkat tertusuk duri, para
siswanya begitu tersentuh oleh ucapan gurunya hingga
mereka bersemangat mengumpulkan makanan lebih banyak
dan lebih baik untuknya. Namun demikian hanya
membuatnya kecewa saja, ia berkata: “Nak, tak usah,
lakukan berbagai kesulitan itu. Sisa makanan yang
dikumpulkan dari mengemis setiap hari tak akan dapat
menghapuskan kesulitan kemiskinan. Bila kesulitanku
telah menjadi beban bagimu, pusatkan usahamu untuk
meningkatkan kekayaanmu! Itulah cara yang tepat
dilakukan. Mengapa aku berkata seperti ini?

   “Sebagaimana rasa lapar yang dihilangkan dengan
makanan, rasa haus dengan air, sebagaimana rasa sakit
disembuhkan dengan obat serta jampi-jampi yang sesuai,
demikian pula halnya penyakit kemiskinan terhapus oleh
harta kekayaan. Untuk menghapus kemiskinan, orang
harus mendapatkan harta dengan cara bagaimanapun."

   Siswanya menjawab: "Tapi apa yang dapat kita
lakukan? Kita tak punya apa-apa. Jika harta seperti
halnya makanan, yang dapat diperoleh dengan mengemis,
kami tak akan membiarkanmu mengalami kemiskinan
seperti ini. Tapi seperti yang kau tahu, brahmana
hanya memperoleh harta dengan menerima pemberian,
sementara orang-orang di sisi lain, jauh dari
kemurahan hati. Sehingga kita tak berdaya dan penuh
kesulitan."

   Jawab gurunya: “Lihatlah ke dalam buku agama. Di
sana terdapat cara lain bagi seorang brahmana untuk
mendapatkan kekayaan! Sayangnya, aku tak sesuai untuk
menjalankannya karena aku sudah tua dan juga tidak
kuat."

   "Bukankah kami masih muda dan kuat!" ujar mereka.
"Bila engkau menganggap kami sesuai untuk menjalankan
ajaran tersebut, katakana pada kami apa itu. Kami
pasti akan membalas kebaikan ajaranmu!" 

   "Tidak!" jawab gurunya. "Cara untuk mendapatkan
harta seperti itu sangat sulit bagi anak muda yang
pikirannya kurang teguh. Tapi baiklah mengingat bahwa
kalian dengan hormat mendesakku, untuk itu aku akan
sekali saja membuka jalan itu. "Dalam ajaran,
dikatakan bahwa pada masa-masa sulit mencuri merupakan
cara hidup yang diakui oleh brahmana. Dan kesulitan
apa yang lebih besar dari kemiskinan di dunia ini?
Lalu apa yang menghalangi kita dari menikmati harta
orang lain? Sebenarnya, seluruh benda di dunia ini
menjadi milik brahmana. 

   "Sekarang, meskipun kalian dengan tanpa ragu
melihat harta seperti itu tergeletak, kalian harus
ingat terhadap nama baik kalian, dan tidak mengambil
benda apa pun dengan cara begitu saja. Gunakan
kemahiranmu yang tak terlihat, di tempat yang sepi dan
waktu yang lengang."

   Ungkapan yang demikian memutuskan kendali para
siswanya, yang seketika menganggap bahwa nasihat buruk
tersebut seolah-olah baik, di mana mereka semua sangat
bersemangat melakukan apa yang telah dianjurkan oleh
gurunya. Semua siswa, kecuali Bodhisattva, di mana
sifat baiknya tak membiarkannya menerima nasihat
gurunya, meskipun itu telah diterima oleh siswa yang
lain sebagai tugas.

   Malu, dengan mata tertunduk, Bodhisattva tertegun
diam. Gurunya, yang mengenali kebajikan murid mudanya
yang begitu mulia, melihat bahwa Bodhisattva tak
menerima ataupun berbicara menentang rencananya. la
lalu berpikir dalam hatinya: "Mengapa ia melawan?
Apakah ia kurang keberanian? Apakah karena ia tak
memedulikanku, ataukah ia mengerti Dharma, dan tahu
bahwa pencurian tersebut merupakan perbuatan jahat?"

   Berharap dapat membuka isi hati anak itu" gurunya
bertanya pada Bodhisattva: "Oh Brahmana Agung" semua
orang dwijati itu" tak sanggup melihat kemalanganku"
berkehendak mengikuti jalan para pahlawan" bersemangat
dan pemberani. Pada dirimu aku tak melihat apa pun
kecuali kemalasan serta kelambanan. Jelas sekali bila
dirimu sama sekali tak peduli pada kesulitanku.
Bukankah penderitaanku nyata adanya? Apakah aku tak
pernah mengutarakannya secara terbuka? Engkau hanya
duduk di sini. Bagaimana bjsa Engkau tak tersentuh
oleh kesulitanku?"

   Mendapat teguran, Bodhisattva dengan hormat
membungkuk pada gurunya dan menjawab: "Mohon, jangan
menganggapku demikian! Bukannya tak terpengaruh,
ataupun karena keras hati yang membuatku diam; bukan
pula tak tergerak oleh penderjtaanmu. Namun tjndakan
yang Guru anjurkan tak dapat djlaksanakan. Kenapa
tidak? Sungguh tak mungkin melakukan perbuatan jahat
tanpa dilihat.

   "Bagi pelaku kejahatan tak ada tempat yang disebut
sepi: Di mana pun tak ada orang yang benar-benar
sendirian. Bukankah mata dewa para makhluk agung,
bukankah para Muni suci senantiasa melihat perbuatan
kita? Tidak melihat mereka, orang bodoh melakukan
perbuatan jahat, menyangka dirinya sendirian. Tetapi
memahami hal ini, tak akan membuat hal seperti itu
terjadi.

   "Bahkan, di mana pun yang tak ada orang lain,
kosongkah tempat itu dari diriku sendiri? Kesaksianku
justru jauh lebih bisa dipercaya daripada siapa pun.
Orang lain barangkali memang tidak melihatku, karena
sibuk dengan urusan lain, tapi bila aku melakukan
perbuatan salah, bersemangat menyerah pada kehendak
keinginanku sendiri, apakah benar-benar tak tahu apa
yang kulakukan itu? Karena alasan inilah aku tak mau
mengikuti yang lain."

   Mengetahui jika gurunya puas dengan jawabannya,
Bodhisattva melanjutkan: "Aku tak akan meyakinkan
diriku bahwa Engkau memperdayai kami dengan cara ini,
semata-mata hanya untuk memperoleh harta. Barang siapa
yang mengerti perbedaan antara kebajikan dan
kejahatan, dapatkah tergoda oleh harta dengan membunuh
kebajikan?

   "Lebih baik memakai pakaian usang dan mengangkat
mangkok pengemis, meskipun di tengah-tengah musuh
kemewahan, daripada tanpa malu melawan ajaran, bahkan
menjadi pemimpin bagi para dewa."

   Dengan kata-kata tersebut, gurunya bangkit dari
duduknya, sangat senang dan penuh kekaguman. Memeluk
siswanya, lalu berkata: "Sangat bagus, kata-kata yang
benar, Oh Brahmana Mulia! Kata-kata seperti itu
tentulah muncul pada orang dengan kepandaian yang
dihiasi oleh keseimbangan batin. Orang bodoh mungkin
saja tergelincir dari kewajibannya, tergoda oleh
berbagai macam hal. Tetapi orang yang baik tak akan
pernah keliru, bahkan ketika mereka berada dalam
kesulitan berat. Praktik pertapaan, belajar dan
kebijaksanaan adalah kekayaan yang cukup bagi mereka. 

   "Sebagaimana bulan musim gugur menghiasi cakrawala,
demikianlah dirimu menjadi perhiasan bagi keluargamu.
Tingkah lakumu menunjukkan bahwa dirimu telah memahami
makna kitab-kitab suci, dan tugasku adalah memberkati
dengan berbagai keberhasilan."

   Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana
Mahasattva, mengikuti ketetapan hatinya, tak melanggar
batas sikap baik. Untuk alasan ini, orang yang berhati
mulia senantiasa dihiasi dengan kekuatan rasa malu
serta kesusilaan. Arya Shravaka, terlindung dengan
baik oleh benteng keteguhan hatinya, menghindari apa
yang tidak baik dan memperkuat apa yang baik. Kisah
ini juga mengacu pada kitab-kitab pujian pada adat
istiadat serta kehormatan diri.

(Brahmana Jataka)
(Kelahiran Sebagai Brahmana)
(JATAKAMALA)
(Untaian Kelahiran Bodhisattva)
(Acharya Aryasura)
(BHUMISAMBHARA)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke