Namo Buddhaya,

Saudara Erik yang budiman,

Jika kita memang hendak bergerak, mungkin langkah pertama adalah 
membuat semacam "email berantai" yang dimulai dengan kita-kita di 
sini. Maksud saya kita sebarkan e-mail ini pada sebanyak-banyaknya 
orang yang kita kenal (tentunya yang menurut kita juga akan menolak 
pandangan tersebut). Kekuatan dari "email berantai" ini tidak dapat 
dibilang ringan. Nanti setelah terkumpul banyak dukungan, kita dapat 
meminta tokoh2 Buddhis atau kelompok minoritas lainnya untuk 
mengajukannya pada presiden. Tetapi sekali lagi ini hanya sekedar 
usulan dan saya masih belum ada ide lain. Sekarang yang perlu kita 
bicarakan adalah teknis pelaksanaannya. Ini yang lebih penting. 
Kemudian perlu kita pikirkan sebagaimana yang juga Anda sarankan, 
bagaimana melakukan protes ini dengan bijaksana. Oleh karena itu, 
sekali lagi masukan dari rekan-rekan sekalian sangat lah diperlukan. 
Kalau hanya kita berdua saja yang jalan, tentu mustahil. Suatu 
gerakan haruslah didukung oleh banyak orang. Saya kira sekian dulu.

Salam metta,

Tan

--- In [email protected], "Erik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih bro Tan atas pencerahannya!!
> Saya setuju seratus prosen pada pandangan anda.
> Saya juga adalah yang sangat-sangat keberatan dan menentang (isi) 
RUU
> APP yang sedang dipersoalkana itu.
> Anda benar, sikap dan nilai moral memang sangat penting untuk 
dijunjung
> tinggi, tanpa harus terpengaruh oleh pandangan kawan. Itu benar!!
> Namun, bila yang bersuara bukan lagi kita sebagai pribadi, tetapi
> mewakili suatu kelompok tertentu, maka kita sudah memasuki kancah
> politik (bukan lagi wilayah moral) dan dampaknya pun adalah dampak
> politis! Karenanya perlu dilakukan dengan sangat-sangat hati-hati 
dan
> bijaksana. Tidak asal menyuarakan suara hati saja, tetapi perlu
> diperhatikan dampaknya bagi kebersamaan kita di masa depan.
> Jangan terlalu lugu menyuarakan sesuatu yang benar (secara moral) di
> wilayah politik, sehingga membuat kita menghadapi kesulitan besar 
dalam
> kehidupan sosial masyarakat di Indonesia kelak hari.
> Itu pendapat saya. Mohon dimengerti, saya tidak pernah mendukung 
(isi)
> RUU APP, malah sangat-sangat keberatan dengannya. karena isinya 
sangat
> bias Islam.
> Salah satu contohnya adalah tidak dibedakan antara pengertian porno 
dan
> kesopanan. Tidak sopan serta-merta dikategorikan sebagai porno. Itu
> sangat-sangat ngawur!!
> 
> Saya tidak setuju dengan Anda bahwa kita boleh  menerima RUU APP itu
> dengan beberapa catatan. Tidak perlu banci-bancian seperti itu, kita
> harus tegas dalam prinsip, yakni menolak secara keseluruhan semua 
isi
> RUU APP, karena disahkan dan diberlakukannya RUU itu akan sangat
> membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa kita di kemudian hari. 
(anda
> sendiri sudah ungkapkan beberapa point tentang hal ini).
> Namun, sekali lagi bagaimana caranya agar penolakan itu berhasil dan
> tidak membawa dampak buruk bagi kita, saya kira kita perlu bersikap
> bijaksana.  Itu yang saya maksudkan!!
> Usul saya, mungkin bisa dilakukan dengan (misalnya) membuat 
pernyataan
> bersama dengan beberapa kelompokminoritas lain yang juga keberatan
> dengan RUU APP itu??
> 
> 
> Maitricitra,
> 
> Erik
> --------------------------------------------------------------------
----\
> ------------------------------------------------
>   In [email protected], "dh4rm4duta" wrote:
> 
> Namo Buddhaya,
> 
>   Sdr. Erik yang budiman,
> 
>   Perkenankanlah saya mengungkapkan pandangan saya. Menurut saya 
dalam
> menyuarakan sesuatu yang kita anggap benar, maka kita hendaknya 
tidak
> terpaku pada pandangan kawan, sahabat, atau orang yang kita cintai.
> Kebenaran adalah tetap kebenaran. Jadi meskipun PB.NU yang dipimpin 
Gus
> Dur dekat dengan kita, tetapi tidak berarti bahwa kita 
harus "membeo"
> semua pendapat NU. Kalau mempelajari sejarah kita melihat bahwa 
banyak
> pahlawan dan martir2 agung yang berani mengorbankan dirinya demi
> memperjuangkan kebenaran, sekalipun <snip>
> Sebenarnya masih ada jalan ketiga atau jalan tengah. Kita dukung 
RUU.  
> itu tetapi dengan beberapa pembatasan. Menurut saya yang diatur 
dalam
> RUU itu cukup:
> 
>   1.Jangan sampai anak-anak di bawah umur memperoleh literatur itu.
>   Jadi misalnya majalan Playboy hendak dijual, maka pembelinya harus
> menunjukkan KTP. Menjual barang-barang semacam itu kepada anak-anak
> dapat dikenakan sanksi. Kalau tidak salah ini yang berlaku di
> negaraJerman dan demokrasi Barat. Jadi generasi muda kita tetap
> terlindungi.
> 
>   2.Jangan menampilkan gambar2 anak di bawah umur. Ini untuk 
mencegah
> pelacuran anak-anak.
> Saya kira yang perlu diatur hanya itu saja. Cukup satu atau dua  
pasal.
> Jadi kita setujui UU itu, tetapi dengan pembatasan. Ini sayakira 
jalan
> tengah terbaik.
> Sekarang bicara masalah implikasi politis, justru saya melihat 
bahwajika
> UU ini disahkan akibatnya dapat sungguh mengerikan. Ini merupakan 
salah
> satu langkah dari entah berapa langkah lagi untuk menuju negara 
berdasar
> syariat agama tertentu. Bisa-bisa nanti semua
> wanita harus mengenakan busana khas agama tertentu (sebut saja X
> tersebut). Kalau mau jujur dan mempelajari sejarah maka agama X 
tersebut
> juga terkadang minim toleransi. Oleh karena itu, demi masadepan kita
> semua dan keturunan kita, maka dengan menghalangi satu langkah ini 
kita
> telah ikut mencegah jatuhnya Indonesia ke tangan kelompok agama X
> tersebut (yang  terkadang juga luar biasa zalim dantirannya). Kita 
semua
> harus berjuang, Bro dan Sis. Sebenarnya sayamenulis ini bukan buat 
diri
> saya sendiri, tetapi buat kita semua.
> Jujurnya kalau sampai negara kita jatuh ke tangan agama X, maka 
sayadan
> keluarga bisa saja minta suaka ke salah satu negara Eropa tempat 
saya
> menuntut ilmu dahulu. Saudara saya beberapa ada di sana dan sudah
> berstatus warga negara. Tentu mereka akan bantu. Tetapi
> bagaimana bila tidak sempat lari? Tentu saja saya tidak
> mengharapkanbahwa negara kita menjadi seperti Afghanistan, tetapi 
siapa
> yang tahu apa yang akan terjadi. Mohon renungkanlah ini semua.
> 
>   Salam kasih,
> 
>   Tan
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke