Tokoh Antagonis Darmo Gandhul

Tragedi Sosial Historis dan Keagamaan di Penghujung Kekuasaan Majapahit

Penulis: Nurul Huda

Penerbit: Pura Pustaka, Yogyakarta, Centakan pertama, November 2005

 

Peralihan kekuasaan dari Kraton Majapahit ke tangan Kraton Demak Bintara menimbulkan ekses sosial, politik, dan keagamaan yang saling berbenturan. Prabu Brawijaya beserta bala tentaranya harus menelan pil pahit atas kehancuran kerajaannya. Sementara Adipati Demak Bintara mendapat angina segar untuk menggantukan dominasi Majapahit yang telah berlangsung lebih dari tiga abad lamanya. Sirna ilang kertaning bumi, habis sudah kejayaan dan kebesaran kerajaan yang dibangun Raden Wijaya.

 

Suluh Darmo Gandhul merekam peristiwa historis yang tragis tersebut. Nasib Prabu Brawijaya yang malang, katula-tula katali, mendapat pembelaan Ki Kalamwadi yang menjadi guru sejaran dan spiritual Darmo Gandhul. Keangkuhan dan kesewenang-wenangan para laskar dan prajurit dari Demak Bintara yang mencerai-beraikan Kraton Majapahit mendapat kecaman yang sangat pedas. Dengan nada emosional, Ki Kalamwadi tidak membenarkan tindakan yang anarkis dan membabi buta.

 

Reaksi keras juga berasal dari abdi dalem Majapahit yang bernama Sabdopalon dan Nayagenggong. Mereka bersumpah akan membalas dan mengembalikan jaman keemasan Majapahit setelah 500 tahun di kemudian hari. Apakah tanda-tanda yang diramalkan oleh Sabdapalon dan Nayagenggong sekarang ini akan menjadi kenyataan? Dalam buku Tokoh Antagonis Darmo Gandhul ini dikupas secara tuntas dan jelas.

Selamat membaca!

(Kata pengantar dan sampul belakang buku)

 

 

Kisah dalam buku ini diawali dengan pertanyaan dari Darmo Gandhul kepada gurunya, Ki Kalamwadi, tentang perpindahan agama yang dianut oleh masyarakat Jawa.

 

Aku juga kurang paham, akan tetaoi aku pernah diberi tahu guruku. Guruku sangat terpercaya. Ia pernah menceriterakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda ….”

Lalu bagaimana kisahnya?” (halaman 1)

 

Demikianlah, Ki Kalamwadi menceriterakan apa yang pernah terjadi. Kisah ini tentu tidak perna ada di buku sekolah, bahkan dalam terbitan sejarah lainnya dan menurut hemat saya juga belum pantas untuk ditulis di sini. Tidak semua orang dapat menerima peristiwa yang pernah terjadi tersebut.

 

DP



** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke