|
Kalau melihat
dari kronologis maka ada dua
hal yang saya dapatkan yaitu: 1. Tidak maunya ketua pelaksana melaksanakan jadwal yang telah ditetapkan oleh KASI, perbedaan krusial ada di
jam acara Dharmasanti yang akan dihadiri
oleh Presiden 2. Adanya perwakilan
WALUBI yang diundang ketua pelaksana untuk menghadiri rapat Untuk point 1. dari kronologis
tersebut tidak terungkap apakah "ngotot"nya ketua pelaksana untuk tetap mempertahankan
di jam 19.00 dikarenakan keterbatasan "protokoler kepresidenan" yang "maunya"
di jam 19.00 Kalau demikian
halnya maka KASI pada posisi sulit
untuk mempertahankan acara tersebut di 16.30 - 17.30 Sebenarnya adu argumentasi
disuatu rapat itu adalah hal yang biasa
terjadi. Segala
cara dilakukan
oleh peserta rapat untuk saling
menyakinkan. Hal ini mengingatkan saya pada masa mahasiswa
dulu disuatu rapat pimpinan senat mahasiswa yang pernah saya ikut
terlibat bisa saya gambarkan jauh lebih ricuh dan
gaduh dimana dua kelompok saling
mempertahankan pendapatnya Tapi khan yang putus itu hak
“preogratif” ketua,
nah kalau ketua melenceng maka cabut saja SK pengangkatannya
dan keluarkan SK pengangkatan Ketua baru (atau jangan2 kepanitiaan ini tidak ada SK pengangkatan?
;-) Untuk point 2. sekali lagi
kita mesti banyak belajar seorang ketua punya
wewenang yang sangat besar karena itu
dia mesti dipagari dengan rambu2 yang jelas. Tapi dalam
kronologis tidak terungkap apa
peran perwakilan WALUBI tersebut? Apakah juga mengadakan
interfensi atau hanya memberikan saran dikarenakan “pengalamannya”
mengadakan perayaan Waisak di Borobudur? Apakah Waisak Borobudur
tahun ini diselenggarakan oleh KASI atau WALUBI? Waktu jualah yang akan
membuktikannya. Keputusan sudah diambil dan kalau sudah
tidak ada lagi jalan tengah
yang bisa diambil maka saya sebagai
umat mendukung keputusan
yang pahit ini. Semoga apa yang menjadi kelemahan (yang saya artikan bukan
di spiritual, tapi lebih kearah DIPLOMASI, interaksi kedunia diluar lingkungan kita) bisa kita
perbaiki dikemudian hari dan menjadi
pelajaran yang berharga (sebenarnya sudah banyak kejadian yang mirip/sama yang bisa menjadi pelajaran tapi kita yang tidak mau belajar) Bachtiar Ismail ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
