Pandangan Tentang Kosmologi yang Digali dari Literatur Buddhis
Edisi Revisi
Ivan Taniputera, 30 Maret 2006

Ilmu pengetahuan telah berkembang dengan begitu pesatnya pada seratus 
tahun terakhir ini, para ilmuwan-ilmuwan besar Abad 20 telah tampil 
di muka bumi ini, seperti: Albert Einstein, Schroedinger, Rutherford, 
Niels Bohr, Stephen Hawking, dan lain sebagainya. Mereka telah secara 
dramatis mengubah pemahaman kita akan alam semesta beserta isinya ini
Penemuan para ilmuwan besar di Abad 20 terbukti sama seperti apa yang 
telah diajarkan 2500 tahun yang lalu oleh seorang Pangeran dari India 
yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang kemudian digelari 
Buddha. Buddha mengajarkan beraneka prinsip yang terbukti amat dekat 
dengan kosmologi dan fisika modern.
Para ilmuwan dewasa ini telah menetapkan bahwa alam semesta kita 
merupakan serangkaian pengembangan, penciutan, pengerutan, serta 
penghancuran berupa ledakan besar (big bang) yang berlangsung secara 
terus menerus tanpa akhir. Atau suatu rangkaian fenomena yang tidak 
berujung pangkal. Sang Buddha telah mengajarkan hal yang sama 2500 
tahun yang lalu, marilah kita melihat apa yang Beliau babarkan dalam 
Bhayaberava Sutta ( Sutta ke 4 dari Majjhima Nikaya ):

Ketika pikiran terkonsentrasiKu dengan demikian termurnikan, tidak 
tercela, mengatasi semua kekotoran, dapat diarahkan, mudah diarahkan, 
serta tenang, Aku memusatkannya pada kelahiran-kelahiran yang lampau, 
satu, dua,…. Ratusan, ribuan, banyak kalpa dari penyusutan dunia, 
banyak kalpa pengembangan dan penyusutan dunia.

Dari sini kita langsung memahami bahwa proses penyusutan dan 
pengerutan tersebut berlangsung sangat lama., yang mana apa yang 
disebut "kalpa" adalah satuan waktu India Kuno yang berlangsung 
selama miliaran tahun.
Selanjutnya ilmu pengetahuan dewasa ini telah mengungkapkan akan 
banyaknya galaksi-galaksi dan dunia-dunia lain, secara mengagumkan 
Sang Buddha juga telah mengajarkan hal yang sama sekitar 2500 tahun 
yang lalu. Marilah kita baca Ananda Sutta (Angutara Nikaya III, 8,80):

Ananda apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu 
(tata surya kecil) ? ....... Ananda, sejauh matahari dan bulan 
berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan 
bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam 
seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu 
Sineru, seribu jambudipa, seribu Aparayojana, seribu
Uttarakuru, seribu Pubbavidehana ....... Inilah, Ananda, yang 
dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika lokadhatu). * 
Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "Dvisahassi 
majjhimanika lokadhatu". Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika 
lokadhatu dinamakan "Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu". 
Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan 
suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi mahasahassi lokadhatu, 
ataupun melebihi itu lagi.

Sesuai dengan kutipan di atas dalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika 
lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya. Sedangkan 
dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 
1.000.000.000 tata surya. Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu 
milyard tata surya saja, tetapi masih melampauinya lagi. Ajaran ini 
benar-benar sesuai dengan kosmologi modern.
Sang Buddha juga telah mengajarkan aneka bentuk galaksi-galaksi yang 
ada di alam semesta ini sebagaimana yang ada pada Sutra Avatamsaka 
bab 4: 

Putera-putera Buddha, sistim-sistim dunia (galaksi) tersebut memiliki 
aneka bentuk dan sifat-sifat yang berbeda. Jelasnya, beberapa di 
antaranya bulat bentuknya, beberapa di antaranya segi empat 
bentuknya, beberapa di antaranya tidak bulat dan tidak pula segi 
empat. Ada perbedaan [bentuk] yang tak terhitung. Beberapa bentuknya 
seperti pusaran, beberapa seperti gunung kilatan ahaya, beberapa 
seperti pohon, beberapa seperti bunga, beberapa seperti istana, 
beberapa seperti makhluk hidup, beberapa seperti Buddha….

Galaksi yang berbentuk seperti pusaran misalnya galaksi kita sendiri, 
Bima Sakti dan Andromeda. Yang berbentuk seperti makhluk hidup 
misalnya Nebula Kepala Kuda (Horse Head Nebula).
Keberadaan sinar kosmis telah dinyatakan pula dalam Avatamsaka Sutra 
bab IV:

Terdapat beberapa sistim dunia
Terbentuk dari permata
Kokoh dan tak terhancurkan
Bernaung di atas bunga teratai nan berharga

Beberapa di antaranya terbentuk dari berkas cahaya murni
Yang asalnya tak dikenal
Semuanya merupakan berkas-berkas cahaya
Bernaung di ruang kosong

Beberapa di antaranya terbentuk dari cahaya murni
Dan juga bernaung pada pancaran-pancaran cahaya
Diselubungi oleh awan cahaya
Tempat di mana para Bodhisattva berdiam.

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Buddhisme telah mengenal alam 
semesta yang terdiri dari materi dan cahaya. Kalimat "kokoh dan tak 
terpecahkan" merujuk pada partikel atom yang menyusun materi. Bait 
kedua di atas nampaknya mengacu pada sinar kosmis yang merupakan sisa-
sisa pembentukan jagad raya. Sementara itu bait ketiga mengacu pada 
pancaran cahaya yang berasal dari benda-benda langit. Sebagai 
tambahan sinar kosmis ini mulai diteliti oleh para fisikawan dari 
Institut Teknologi Kalifornia di Pasadena pada tahun 1932, dan 
didapati bahwa di dalamnya terkandung partikel-partikel elementer 
yang belum pernah dikenal sebelumnya. Partikel elementer merupakan 
partikel tunggal yang tidak terbagi-bagi lagi, sehingga inilah 
sebabnya, mengapa kutipan sutra di atas mempergunakan istilah "murni."

Sekarang marilah kita beralih pada ilmu fisika modern mengenai 
kesetaraan massa dan energi, yang mana hal ini baru menjadi subyek 
penelitian para ahli fisika modern seperti: Werner von Heisenberg, 
Max Planck, Albert Einstein dan lain2, pada akhir abad 19 dan 
menjelang abad ke-20
Secara mengagumkan prinsip tersebut juga telah diajarkan di dalam 
Buddhisme. Sutra Hati (Sutra Prajnaparamita Hrdaya) menyebutkan:

Rupa (materi) tidak berbeda dengan kekosongan. Kekosongan adalah 
tidak lain dari rupa (materi).

Hukum kekekalan massa dan energi yang mengatakan bahwa massa dan 
energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan juga telah kita temui 
dalam Buddhisme. Pada Sutra Avatamsaka bab 14 berbunyi: 

Segala sesuatu tidak dilahirkan/ diciptakan, segala sesuatu tidak 
dapat dimusnahkan. 

Sungguh suatu kemiripan yang luar biasa.
Prinsip berikutnya di dalam fisika modern adalah saling 
ketergantungan semua fenomena di dunia dengan yang lainnya 
(interdepensi), interkoneksi, dan interpenetrasi antar fenomena. 
Misalnya jika melihat sepotong kemeja, dapatkah kita melihat awan di 
dalam sepotong kemeja? Tentu banyak yang merasa bingung apabila 
ditanya masalah ini, namun kalau kita merenungkan dari mana datangnya 
kemeja ini, maka kita akan mendapatkan jawabannya. Kemeja berasal 
dari pohon kapas, yang mendapat sinar matahari, dan juga hujan yang 
membuatnya dapat tumbuh, hujan diturunkan oleh awan. Setelah tumbuh, 
kapas diambil dan ditenun menjadi benang, benang dirajut menjadi 
kain, kain menjadi kemeja, dan seterusnya. Maka jelas kita dapat 
melihat sinar matahari dan awan serta hujan di dalamnya. Hal ini juga 
menjadi dasar dari fisika modern, terutama kalau kita sudah memasuki 
dunia partikel elementer, yaitu misalnya positron, boson, lepton , 
dan lain-lain. Ajaibnya hal ini telah diajarkan oleh Sang Buddha pada 
Sutra Avatamsaka bab 39: 

Ia melihat menara tersebut benar-benar luas dan lebar, seluas seluruh 
alam semesta, dihiasi dengan aneka perhiasan yang tak terhitung….. 
Juga di dalam menara besar tersebut ia melihat barisan ratusan ribu 
menara yang serupa [dengannya], ia melihat menara tersebut sebagai 
tak terbatas luasnya bagaikan angkasa, berderet-deret pada seluruh 
penjuru, menara-menara ini tidak bercampur dengan yang lainnya, benar-
benar berbeda satu dengan yang lainnya. Sementara keberadaan mereka 
saling tercermin pada masing-masing [menara] yang lainnya dan segala 
obyek seluruh menara yang lainnya.

Demikianlah keselarasan yang dapat kita lihat antara Agama Buddha dan 
ilmu pengetahuan modern. Diharapkan bahwa artikel ini dapat 
memberikan pemahaman secara ringkas dan sederhana kepada orang-orang 
awam, khususnya umat Buddhis, tentang konsep kosmologi dan fisika 
modern. Sebagai penutup marilah kita kutipkan perkataan Albert 
Einstein: 

Agama di masa mendatang adalah agama kosmik. Agama tersebut 
seharusnya melampaui (transcend) konsep Tuhan yang bersifat pribadi 
(personal God) dan menghindari dogma-dogma teologi. Dengan mencakup 
bidang alam dan spiritual, agama itu harus didasari pada makna agama 
yang lahir dari pengalaman terhadap segala fenomena, natural, dan 
spiritual, dan penyatuan yang bermakna. Buddhisme menjawab deskripsi 
ini…. Bila ada agama yang dapat mengatasi kebutuhan pengetahuan 
modern, agama tersebut adalah agama Buddha.








** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke