ketahanan pangan
Bioteknologi Bukan Segalanya
Bioteknologi Bukan Segalanya
Maria Hartiningsih
Proyek Tujuan Pembangunan Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa atau MDGs memperkirakan 850 juta penduduk di dunia kekurangan gizi dan jumlah ini terus meningkat mendekati 1,3 miliar.
Jumlah penduduk Bumi mencapai sembilan miliar tahun 2050, hanya 3 persen lahan di dunia yang bisa digunakan untuk tanaman pangan. Angka-angka statistik terkait dengan hal ini menjadi pembuka penjelasan sedikitnya tiga ilmuwan yang ditemui oleh 24 jurnalis dan ilmuwan dari 11 negara di Donald Danforth Plant Center dan di Kantor Pusat Korporasi Transnasional di bidang benih, Monsanto, di St Louis, Amerika Serikat, pekan lalu.
"Tidak seperti saat Revolusi Hijau, saat ini ilmuwan menghadapi kendala besar," tegas Dr Harvey L Glick, Direktur Scientific Affairs dari Monsanto. "Tanah pertanian sangat terbatas, air bersih tidak mencukupi, keragaman hayati terancam, dan terjadi degradasi lahan," ujarnya.
Karena itu, bioteknologi merupakan solusi yang paling penting untuk menanggapi semua ini,
ujar Robe Rose dari Donald Danforth Plant Center.
Tujuan seluruh penelitian ilmiah mengenai tanaman di pusat riset itu adalah membantu menyediakan pangan cukup bagi penduduk Bumi, memperkaya kandungan gizi dan zat-zat di dalam tanaman yang penting bagi kesehatan manusia, mengembangkan tanaman yang mampu menyeleksi racun dari tumbuhan, dan menciptakan tanaman pangan yang tidak terkontaminasi logam berbahaya dari tanah.
"Selain itu juga meningkatkan panen dan membantu negara berkembang mandiri," sambungnya. Pusat riset tersebut didanai oleh Pemerintah AS (30 persen), selain bekerja sama dengan korporasi-korporasi transnasional di bidang pertanian serta individu-individu yang menaruh perhatian pada lingkungan.
Dr Tom Nickson dari Pusat Riset Teknologi Ramah Lingkungan
Monsanto menambahkan, tanaman transgenik yang lebih dikenal sebagai tanaman rekayasa genetika (GM crops) sama sekali tidak menyalahi hukum alam.
"Secara tradisional, penggunaan organisme hidup yang berguna bagi manusia sudah dilakukan sepanjang sejarah," ujarnya, mencontohkan penggunaan toksin Bacillus thuringiensis di dalam spesies pertanian oleh Monsanto supaya tanaman lebih tahan hama. "Ilmu pengetahuan tidak mengambil posisi apakah tanaman transgenik aman atau tidak aman karena setiap kasus ada landasan ilmiahnya," ujarnya.
Kontroversi terhadap bioteknologi, katanya, lebih disebabkan cepatnya perkembangan bioteknologi sehingga mengejutkan banyak orang. Tetapi, ia yakin, semuanya akan dibuktikan oleh waktu, seperti banyak penemuan di masa lalu yang sangat berguna bagi manusia.
Namun, terlepas dari kontroversi itu, menurut Dr Eric Sachs, harus diakui bahwa keamanan pangan sangat penting. "Gizi dibutuhkan untuk kesehatan, ketergantungan pada bahan kimia untuk pertanian harus diputus, wilayah tumbuhan liar dan hutan hujan harus dilindungi, dan polusi harus dikurangi," ujar Eric.
Kesalahpahaman mengenai bioteknologi di bidang pertanian, menurut Eric, berakar pada pemahaman yang kurang mengenai pentingnya peran rekayasa genetika di dalam tanaman. "Para pembibit telah melakukannya selama berabad-abad," ujar Eric.
Komersialisasi tanaman
Sementara Brett Begemann menjelaskan, setelah 10 tahun komersialisasi tanaman transgenik, pada tahun 2005, wilayah global yang disepakati untuk tanaman transgenik mencapai 90 juta
hektar atau 222 juta acre, atau lebih dua kali dibandingkan dengan tahun 2000.
Pada tahun 2005, terdapat 21 negara dengan 8,5 juta petani mengembangkan tanaman transgenik dari 14 negara pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2005, tiga negara Eropa mulai mengembangkannya, yakni Portugal, Perancis, dan Ceko. Iran dan China adalah dua negara yang berada di depan dalam komersialisasi beras transgenik. Pada tahun 2005, AS diikuti Argentina, Brasil, Kanada, dan China berada di barisan terdepan dalam perdagangan produk-produk pertanian transgenik.
Penjelasan di atas bukan tidak masuk akal. Namun, banyak hal tidak dijelaskan secara lebih terbuka. Para ilmuwan itu tampaknya enggan menjelaskan hal yang paling esensial dari hukum alam, bahwa keunggulan yang direkayasa dari suatu produk tanaman akan melemahkan keunggulan yang dimiliki tanaman itu secara
alami. Mereka tampaknya sangat meyakini bahwa ilmu pengetahuan mampu "menyempurnakan" apa yang tidak dilakukan oleh alam.
Berdasarkan riset ilmiah mereka, diyakini bahwa transfer gen dari produk pangan transgenik ke sel manusia hampir tidak mungkin. Sementara publikasi FAO/WHO sampai beberapa tahun lalu masih menyimpulkan bahwa dampak jangka panjang konsumsi pangan yang dimodifikasi gennya masih sangat sedikit diketahui.
Penelitian sangat canggih di beberapa laboratorium Monsanto di St Louis tampaknya tidak mampu mengesankan semua peserta. "Yang dikehendaki dengan semua ini hanya satu, yaitu ekspansi pasar," ujar Rodrigo Restrepo dari Colombia dalam perbincangan di luar forum. "Negara berkembang adalah pasar yang besar," sambung Tranh Minh Hieu dari Vietnam
Itulah
soalnya bioteknologi tidak berada di ruang kosong. "Saya tidak antibioteknologi. Tetapi, politik di belakangnya sangat rumit dan berakhir pada kehendak untuk menguasai," sambung Rodrigo.
Industri pangan transgenik saat ini didominasi oleh lima korporasi transnasional, yakni Monsanto, Astra Zenneca, Du Pont, Novartis, dan Avantis, dengan Monsanto yang diperkirakan menguasai 88 persen pasar benih transgenik di AS.
Dalam wawancara dengan Dr Glick, Rodrigo menanyakan soal transfer teknologi ke negara berkembang. "Dr Glick mengatakan, tidak ada transfer ilmu pengetahuan. Kalau ada negara yang menginginkan, kami akan membuat laboratorium di negara itu. Saya kira jawaban itu jelas sekali," lanjut Rodrigo.
Korporasi bukanlah lembaga derma. Ini dijelaskan dengan sangat
gamblang oleh Dr David Fischoff dalam percakapan khusus dengan Kompas. "Riset untuk satu produk membutuhkan waktu delapan sampai 10 tahun untuk dilempar ke pasaran. Biayanya antara 50 juta dollar AS sampai 100 juta dollar AS," ujarnya. Menurut pejabat humas Monsanto, Gary Burton, dari sekitar 6 miliar dollar AS penghasilan tahun 2005, Monsanto menyisihkan 588 juta dollar AS untuk riset dan pengembangan.
Pernyataan itu menjelaskan mengapa Monsanto bersama 13 TNCs bergabung dalam Komisi Kekayaan Intelektual melontarkan prakarsa Persetujuan Perdagangan yang Terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual (TRIPs) dalam Putaran Uruguay. Prakarsa itu didukung koalisi industri, AS, Uni Eropa, dan Jepang, kemudian diberlakukan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tahun 1995.
Monsanto baru melemparkan produk transgeniknya ke pasaran, yakni kedelai,
pada tahun 1996. Menurut Gary Burton, saat ini Monsanto mempunyai paten atas lebih dari 100 produk, dengan jangka waktu yang bervariasi.
Namun, pandangan bahwa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berarti menguasai dunia ditampik dengan halus oleh Dr Fischoff. "Kami hanya ingin mengembangkan teknologi yang diterima dengan baik oleh petani," katanya. Diakui, teknologi hanyalah salah satu solusi mengatasi persoalan pangan dan kelaparan di dunia.
Ketidakadilan
Selain faktor eksternal, beberapa fakta juga memperlihatkan kelaparan berdampingan dengan sumber daya alam. Dari 10 anak yang kekurangan gizi di negara berkembang, delapan di antaranya hidup di negara-negara yang menghasilkan pangan yang cukup.
Kasus di Indonesia adalah satu di antaranya. Kasus yang ekstrem terjadi di Etiopia. Saat terjadi kelaparan yang mengerikan tahun 1985, negara itu tetap mengekspor makanan ternak ke Eropa. Tahun 1995, India mengekspor lima juta ton beras dengan gandum, sementara satu dari lima warganya menderita kekurangan gizi.
Pemenang Nobel Ekonomi tahun 1998, Amartya Sen, yang melakukan penelitian cukup lama mengenai kelaparan di Banglades, India, Etiopia, dan di negara-negara Afrika subsahara menyimpulkan, penyebab utama krisis pangan bukanlah bencana alam atau ketiadaan pangan, tetapi kemiskinan, harga pangan yang tinggi, dan tidak adanya kebijakan yang memadai dari pemerintah.
Ini antara lain disebabkan oleh utang. Otoritas pemerintah membuat kebijakan yang melindungi rakyatnya tergadai dan semakin sulit bergerak pada
era perdagangan bebas, selain masalah nepotisme, korupsi, dan kekeliruan pengelolaan ekonomi.
Orang kelaparan karena miskin dan tidak punya alat produksi sehingga tidak mampu membeli atau memproduksi makanan. Yang terdepan dari kelompok itu, ironisnya, justru para penghasil pangan di negara berkembang, seperti petani gurem, petani tanpa tanah, masyarakat adat, dan nelayan.
Maka, "ketahanan" pangan, kata Rodrigo, harus diartikan bahwa masyarakat, khususnya yang terpinggirkan, punya kemampuan mengakses dan mengembangkan potensi yang ada untuk menghasilkan pangan yang cukup; punya kedaulatan.
"Dunia sebenarnya surplus pangan," kata Rodrigo. "Tetapi sistem yang tidak adil, termasuk sistem perdagangan, baik di tingkat internasional maupun lokal, menyebabkan yang satu hidup
berkelimpahan, banyak lainnya tak bisa makan."
Karena itu, ia menampik pandangan korporasi transnasional mengenai soal kekurangan pangan di negara berkembang. Bukan terlalu banyak orang untuk sepotong kue, tetapi terlalu banyak orang tak bisa menggapai kue dan sedikit lainnya sakit perut karena terlalu serakah makan. Nah!
(Maria Hartiningsih dari St Louis, AS)
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone calls to 30+ countries for just 2¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
