Untuk melihat neraka tidak perlu pergi kemana-mana...
Neraka ada di rumah, di simpang jalan, di kantor, di mal - demikian pula surga.
Benci / marah / dengki adalah neraka. Kasih adalah surga.
Ketidakpuasan / ketamakan adalah neraka. Rasa syukur adalah surga.
Kebodohan adalah neraka. Pandangan terang adalah surga.  

gary_nathanael <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan Brianz yang baik,

Maklum kita belum pernah ke neraka dan hanya mendengar dan membaca
saja. Maka analogi yang saya berikan juga sesuai dengan kondisi dan
pemahaman pribadi.

Terus terang saya meragukan cerita mengenai bhiksu Taiwan yang pergi
berkunjung ke neraka. Munkinkah dalam meditasi-kesadarannya
menyentuh alam penderitaan, setelah bangun dari meditasi dengan
pikiran yg terkondisi [pikiran selalu terkondisi oleh masa lampau
seperti kitab2 yg pernah dibaca dllnya], beliau menyusun kembali
pengalaman spiritual dengan mengambil kesimpulan begini dan begitu..
keluarlah kitab perjalanan ke neraka. [CMIW]

Kritis boleh kan? tapi bukan tidak percaya loh…

Neraka dalam analogi saya adalah :

Alam neraka ada.

Neraka adalah alam penderitaan yang isinya para makhluk yg mengalami
siksaan [?] yang tidak mempunyai kebebasan, yg terbatas kehendaknya,
tak memilik ketenangan dan kebahagiaan… sepanjang masa usia
merasakan ketidaknyamanan / menderita sesuai karma perbuatannya … di
analogikan sebagai Orang [Panca-skhanda] yang sedang mengalami Sakit
Gigi atau sakit yang menyebabkan keadaan seperti di sebutkan.

`ALAM' Tingkatan berbeda - membentuk kelompok masing-masing sesuai
dengan karma perbuatan.

Penguasa system kerajaan yang mengatur [?] Deva [?]
Terlepas dari KONDISI penderitaan.
Penguasa sebagai makhluk [deva?] tidak lepas dari hukum semesta –
tidak kekal – dapat melakukan kesalahan / karma buruk karena masih
memiliki nafsu.
Mengatur dalam arti yg lain menjalankan dan melaksanakan rambu-rambu
hukum semesta agar selaras – teratur dan tidak saling bentrok.

System pengaturan dapat diartikan dalam analogi sesempit2nya
diibaratkan sebuah rumah sakit jiwa yang isinya para pesakitan.

Kontroversinya adalah Hakim yang menjatuhkan vonis  berat dan ringan
hukuman dan para algojo.

Menurut saya adalah : HAKIM ibarat karma yang memutuskan kita pada
alam mana? Algojo adalah siksaan yang kita terima dari hasil
perbuatan kita.

Demikian pendapat dari pemahaman saya yang dangkal… mohon koreksinya.

Salam
Gary








New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke