http://groups.yahoo.com/group/BeCeKa/message/975
Tanya tentang Karma
From: "as" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu Mar 23, 2006  9:09 am

Sdr Ivads,
  Menarik uaraian Sdr,
  Saya mengamini, dan saya percaya tentang hal itu

Banyak sekali fenomena tersebut yang selalu memunculkan pertanyaan
dalam diri saya. Ketika logika tidak bisa menjelaskan maka yang
diatas selalu disebut sebagai yangbertanggung jawab ;-)

Saya sendiri pernah kecelakan berat, pelipis kanan pecah, darah
keluar dari hidung, telinga, mulut, koma 2 minggu tetapi atas
karunia Allah saya masih diberi kesempata untuk bertemu dan membaca
tulisan anda.  sebuah pertalian ?

  Anak saya menolong temannya yang sedang DB di RS. Uangnya menipis
harus tambah darah dan dia harus mencari donor di malam jam 12:00.
Tiba2 ada seseorang setengah baya datang menawarkan diri tanpa
imbalan apa2. Mungkin kasihan melihat mhs luar daerah yang sedang
kesulitan. Setelah, darah diambil dan anak saya sibuk ngurusi darah
tersebut karena hanya dimabil plasmanya dan kemudian akan mencari
orang setengah baya yang telah memberi darah tersebut untuk
mengucapkan terima kasih, ternyata orang tersebut sudah tidak ada
meskipun dicari di seluruh RS dan ditanyakan ke SATPAM tentang ciri
orang tersebut.  Padahal, dimalam seperti itu, hanya ada satu pintu
masuk yang dijaga leh satpam.

Ketika anak saya bercerita mengenai hal tersebut dengan rasa heran
dan penasaran maka saya hanya mengatakan bahwa eyangmu dan nenek
moyangmu telah menanam budi di masa lalu. Mungkin Allah mengutus
malaikatnya untuk menolong temanmu melalui kamu. Maka, berbuatlah
baik untuk sesama sebagai ucapan terima kasihmu

  tolong dikoreksi dan dicerahkan
  salam
==
==
From: "ivands" <[EMAIL PROTECTED]
Date: Fri Mar 24, 2006  1:43 am
Subject: Balasan Re: Fw: [psikologi_transformatif] Jalan Luar
ivands21
  http://groups.yahoo.com/group/paranormal-lovers/message/5642

Sahabat AS,

Ya, saya kira demikianlah, banyak hal yang tidak bisa kita jelaskan
dengan logika sepenuhnya, dan itu lebih karena kurangnya pemahaman
kita atau juga cermin kita yang kurang bersih sehingga pantulan
cahayaNya tidak bisa kita lihat dengan jelas.

Saya sesungguhnya tidak minat dan tidak berani untuk menjelaskan
masalah Karma (Hukum Karma) ini, terutama sekali karena faktor yang
berkaitan dengan terjadinya sesuatu itu banyak, lebih dari satu,
namun yang pasti seingatan saya bahwa perbuatan kita itu ikut
memberikan andil yang sangat besar di dalam munculnya suatu
peristiwa. Selain itu ada satu hukum lagi yang mesti ikut dibahas
dalam urusan Hukum karma ini, yaitu hukum tumimbal lahir atau
reinkarnasi. Nah Hukum karma saja sudah cukup ruwet apa lagi
Tumimbal lahir alias reinkarnasi, namun demikianlah, kedua hukum itu
mesti dibahas bergandengan agar ada suatu pemahaman yang lengkap.

Yang agaknya musti kita pahami bersama, kata hukum di sini bukan
lalu ada yang menetapkan berlakunya, tapi katakanlah hukum ini lebih
merupakan proses alam yang berjalan di kehidupan ini, kita sadari
atau tidak, kita pahami atau tidak, kita yakini atau tidak, aturan
itu berjalan dan fenomenanya bisa kita amati dan alami sendiri.

Untuk tumimbal lahir ini dari ajaran Sang Buddha itu ada satu
perumpamaan sederhana yang bisa menjelaskan dan perumpamaan ini
masih bisa dipergunakan sampai tataran mendalam dan halus pun ,
masih bisa terwakilkan dengannya. Perumpamaan ini dibuat oleh Beliau
ketika seseorang bertanya apa sih yang bertumimbal lahir itu karena
dari sisi lain ada uraian tentang Anatta atau tanpa ke akuan yang
oleh sebagian besar umat buddha diartikan sebagai tanpa aku karena
secara harafiah atau arti di kamus; an = tanpa , atta = aku,
walaupun dalam uraian spiritual kata-kata atau uraian itu tidak lah
bisa diterjemahkan dengan harafiah, namun mesti melihat konotasi dan
esensi yang dituju, maka menuruh pandangan saya kiranya lebih tepat
anatta diartikan sebagai tanpa keAkuan, tanpa keegoan di dalam diri,
atau jadilah ketulusan ada dalam dirimu. Kalau diartikan sebagai
tanpa aku dan memang ada uraian yang seolah-olah dibaca dan
diartikan bahwa tiada pribadi atau entitas yang kekal abadi lalu
dalam bertumimbal lahir itu siapa yang mengalami tumimbal lahir, dan
di sisi lain banyak tulisan dan uraian yang mempertanyakan bahwa
kalau tiada sesuatu lalu siapa yang mencapai pencerahan, istilah nya
tiada batin tiada pencerahan (mohon dibaca no mind no enlightment).
Namun, kalau anatta itu dipahami dengan arti tiada keakuan,tiada
keegoan, hanya ketulusan hati, kejernihan batin, maka lalu kita bisa
menangkap penjelasan dari Sang Buddha yang saya kutip sebisanya di
sini.

Ketika Beliau ditanyakan, siapakah yang mengalami tumimbal lahir,
reinkarnasi dalam hukum tumimbal lahir itu? Beliau mengumpamakan
tubuh dan hidup itu seperti lilin yang hidup, berapi. Ketika
lilinnya habis apinya padam, ke mana apinya. Lalu kalau kita
menghidupkan lilin yang lain, lilin itu hidup , ada api. Apakah api
yang telah padam sama dengan api yang baru hidup? Ataukah berbeda?
Jadi kita, manusia itu seperti lilin, kalau telah tiba waktunya
meninggal, api di lilin padam, dan kemudian lilin yang lain diberi
api, ada hidup yang lain, tumimbal lahir reinkarnasi. Apakah api
yang sana sama dengan api yang baru padam? hehehe saya tidak bisa
menjawab ini namun fenomena ini mesti kita pahami masing-masing
dalam batin kita, bukannya tidak ingin menjelaskan, tapi rasanya
tidak bisa dan tidak mampu, sahabat. Tapi uraian di atas perlu saya
sampaikan agar kita bisa melihat juga urusan karma turunan ini
dengan lebih jernih dan sedikit logis. Kenapa sedikit, karena banyak
yang mesti kita cerna dan amati sendiri.

Secara kasat mata, memang kita bisa melihat banyak contoh dan bukti
bahwa kalau seseorang itu hidup dikeluarga baik, misalnya saja Nabi
Kong Hu Cu itu, keturunannya itu sampai sekarang masih merupakan
manusia yang berkualitas moral baik dan terpelajar di desa nya.
Apakah itu karena perbuatan baik moyangnya? Nah, kasus yang sama
seperti yang anak anda alami itu. Dan banyak lagi, kasus yang lain
dan saya yakin semua sahabat di sini punya cerita yang sama, karena
memang butuh batin yang sadar, peka untuk bisa mensukuri rahmat dan
anugerah itu.

Namun, kalau saya boleh berbagi pemahaman saya akan hal ini, dari
uraian tentang lilin - api itu, rasanya kita perlu bertanya, moyang
kita berbuat baik, kalau katanya siapa yang menanam dia menuai dan
mereka para moyang itu menanam kita menuai, kan tidak nyambung,
tidak adil, beliau baik kok kita yang menuai. Banyak orang kaya
sekarang dan banyak di antaranya yang kejam, kok tidak mati dan
sengsara juga, lalu bagai mana penjelasannya?

Nah mungkin tentang lilin - api itu bisa menjelaskan dan saya
menduga bahwa ada suatu harmoni dalam hidup ini yang dengan segala
kompleksitasnya itu bisa menjadikan si A yang punya tanaman yang
punya pola yang sama bisa muncul dikalangan yang punya pola tuai
yang pas dengan yang ditanam si A itu.

Katakanlah saya dalam kehidupan saya menaman sesuatu yang menjadikan
saya dalam kondisi yang akhirnya menjadikan saya si irwan hari ini,
lahir dikeluarga ayah - ibu saya dan punya sifat begini, dengan
profile ini. Sebentuk pertalian tersendiri dan sebuah harmoni yang
menarik. Mungkin secara singkat agar tidak membingungkan kelahiran
saya pada keluarga ayah-ibu saya kemudian disebut takdir saya,
menjadi anak mereka. Dan kebetulan -ups masih adakah kebetulan
itu ;)- moyang saya dari pihak ayah itu punya kelemahan di mata,
beliau buta di usia tua dan kakek saya dari ayah juga sama, dan saya
terlahir dengan mata yang kurang baik alias minus saya tinggi, kaca
mata setebal pantat botol Johnny Walker , kalau botol kecap sih
kalah tebal :))

Nah, coba sedikit kita sama-sama bermain dengan andai-andai, katakan
si B, sangat kaya, tampan tapi kejam. Sampai hari ini masih kaya,
punya banyak gundik, tidak pernah beramal atau beramal sekedar demi
nama baik, tentu bagi umat awam, itu sungguh tidak adil. Dia menanam
jelek kok tidak berbuat jelek. Nah, kalau kita menggunakan logika
Karma dan Reinkarnasi itu, tentu kita bisa mengerti bahwa yang
bersangkutan itu sedang menerima tabungan karma baiknya di masa lalu
atas urusan harta dan wajah. Dan dalam beberapa bacaan spiritual
yang pernah saya baca, lupa yang mana, menjelaskan bahwa penuaian
kekayaan dan kebahagiaan fisikal dalam bentuk tubuh yang cantik,
indah dst-dst ini, sebetulnya adalah cobaan yang sangat berat kalau
ybs itu tidak menyikapinya dengan bijaksana. Salah-salah bisa
menanam keburukan dan nanti menuai tulah :)

Dari bacaan yang ada menanam kebaikan yang berupa perbaikan kualitas
spiritual -tapi bukan berbentuk kesaktian- merupakan benih yang baik
bagi pribadi yang menanam, paling tidak kualitas ke manusiaannya
akan terjaga dan bisa menjadi suatu bendungan untuk menjadikan ybs
itu pada kelahiran yang selanjutnya tidak malah menjadi manusia yang
batinnya buta, tidak peka rasa.

Dan sampai disini saya sudahi dulu share saya, mungkin dilanjukan
lain kali, mo kerja lagi...kalau ada yang salah, mohon dimaafkan,
kalau kurang lengkap dan kurang jelas, mohon juga diampuni, masih
lah sama-sama berjalan, berlatih.

salam dan selamat berakhir pekan.
irwan


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke