Balita Gizi Buruk Kritis
Tangerang, Warta Kota

Seorang bocah balita penderita gizi buruk di Kota Tangerang bernama Muhammad Okto Febrianto (18 bulan)  harus kehilangan penglihatannya lantaran penyakit hydrochepalus. Penyakit ini benar-benar membuat kondisinya kritis.
Saat ditemui, Senin (24/4) siang, Febrianto tengah menangis meraung-raung di pelukan ibunya karena lapar. Anak kedua pasangan Arifin dan Leha, warga Kampung Tanah Seratus RT 05/06, Sudimara Jaya, Kota Tangerang,  hanya bisa makan bubur karena tak mampu lagi mengunyah. Tak heran, berat badan Febrianto hanya 6 kg.
"Semakin hari badannya semakin lemah dan kurus karena kurang gizi. Terpaksa setiap hari dia saya bawa ikut jualan, karena nggak bisa ditinggal sendirian di rumah," kata Leha yang ditemui tengah menunggui warung rokok di pinggir jalan HOS Cokroaminoto, Ciledug, Kota Tangerang.
Tak seperti balita seusianya, Febrianto belum bisa berdiri apalagi berjalan. Sehari-hari balita itu hanya tergolek dipelukan ibunya. Saat menangis, balita berwajah layu itu tak mengeluarkan air mata. Bocah yang seharusnya sudah mampu berbicara itu, hanya mengeluarkan suara erangan lemah jika meminta sesuatu kepada ibunya.
Menurut Leha, anaknya pernah menjalani perawatan di RSU Tangerang. Saat dirawat, dokter menyatakan Febrianto mengidap penyakit paru-paru dan kelainan jantung, penyakit yang biasa menyertai gizi buruk. Disamping itu, Febrianto juga divonis menderita gejala hydrochepalus.
Walau belum sembuh benar, Leha terpaksa membawa bayinya pulang ke rumah lantaran mengaku tak memiliki biaya bagi pengobatan anaknya. Maklumlah,  sebagai pedagang rokok kaki lima,  penghasilan Leha dan Arifin hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Sejak divonis menderita gejala hydrocepalus, tambah Leha, mata sebelah kiri Febrianto mengalami kebutaan.  "Mata sebelah kirinya sudah tak bisa melihat lagi. Anak saya semakin lemah, karena juga mengidap kelainan jantung dan penyakit paru-paru. Saya tak  tahu harus berbuat apa lagi, karena semua upaya telah kami lakukan. Namun, anak saya belum bisa sehat juga,"  tutur wanita itu.
Leha kini hanya bisa berharap uluran tangan dermawan untuk membantu pengobatan anaknya. "Saya berharap ada orang baik yang mau membantu kami," katanya miris. (Has)


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke