BUKAN SIAPA-SIAPA ~ Gairah-Hidup dalam Kedamaian
 
"Yang penting bukannya suatu filsafat hidup, melainkan pengamatan tentang apa yang sesungguhnya sedang berlangsung dalam kehidupan kita sehari-hari, baik yang di luar maupun yang di dalam." ~ J. Krishnamurti
 
SUATU SORE YANG BERGAIRAH
 
Sore itu suasananya agak lain. Hari ini adalah hari Minggu. Alun-alun kota yang kini lebih difungsikan sebagai Taman-Kota tampak marak. Lebih marak dari sore-sore sebelumnya. Tepian jalan yang mengelilinginya dipagari oleh sepeda-motor berbagai merek dan mobil-mobil, yang pemiliknya tumpah-ruah ke alun-alun. Anak-anak berlarian kejar-kejaran, pekik tawa-ria, panggilan-panggilan lirih ibu-ibu muda, senyum cerah para ayah bersama dengan warna-warni balon-gas menyemaraki sore dan menambah indahnya warna merah-jingga langit yang tampak jernih dan ramah.
 
Semua tampak ceria, semua tampak penuh berkah suka-cita, semua tampak bergairah. Mereka tampak benar-benar hidup sore ini. Alun-alun jauh lebih hidup sore ini, digairahi oleh kehidupan penuh gairah yang memenuhinya. Gairah-hidup terpancar dimana-mana, pada setiap langkah, pada setiap panggilan dan teriakan, pada setiap senyum, pada setiap tawa dan tatapan mata. Semuanya terasa indah semarak dan tampak begitu mudah diungkapkan dengan kata-kata.
 
Adakah mereka merasa damai sore ini? Adakah mereka merasa bahagia sore ini?
Mungkin; tampaknya demikian ketika itu. Tetapi entahlah nanti, ketika mereka kembali ke rumah-rumah masing-masing. Yang agak pasti adalah, mereka benar-benar bergairah sore ini, mereka benar-benar dipenuhi oleh gairah-hidup sore ini. Kendati mereka bisa jadi tidak saling kenal sebelumnya, satu dengan yang lainnya, namun mereka tetap tampak ramah.?
 
GAIRAH-HIDUP DAN EKSISTENSI DIRI
 
Mereka yang hidupnya lebih bergairah, tampak lebih awet muda dan lebih panjang umur, mempunyai harapan hidup yang lebih tinggi. Secara keseluruhan mereka tampak lebih sehat lahir dan batin serta lebih bahagia. Benarkah demikian?
Kendati tampakan-luarnya memang demikian, namun agaknya hanya mereka yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada diri mereka.
 
Hidup yang bergairah, seringkali dipandang sebagai salah-satu indikator hidup yang berbahagia. Akan tetapi apa sebetulnya gairah-hidup ini? Darimana datangnya dan bagaimana mengembangkannya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terkait yang mungkin perlu kita pertanyakan. Disini, kita tidak mempertanyakan dan kemudian menelusurinya secara medis, sejauh kita tak hendak mencampuri suatu disiplin ilmu tertentu yang bukan menjadi kompetensi kita untuk menelusurinya. Marilah kita awali dengan melihat apa sesungguhnya gairah-hidup itu.
 
Kita semua 'merasa hidup', 'merasa ada' diantara keberadaan-keberadaan lainnya.
Ketika keberadaan kita dihargai kita merasa senang, merasa begairah, merasa keberadaan kita semakin mantap. Ketika ada seorang atau sesuatu yang kita rasakan sebagai membutuhkan keberadaan dan kehadiran kita, kita merasa dihargai, kita merasa bergairah. Semakin besar ketergantungan seseorang, sekolompok orang atau sesuatu itu kepada kita, semakin merasa berhargalah kita dan oleh karenanya semakin merasa bergairah pula kita jadinya. Kebutuhan kita atas eksistensi terasa dimanjakan.
 
Eksistensi ini, yang tiada lain adalah peran-peran kita, juga membentuk status-sosial kita masing-masing. Kita di-status-kan atas dasar peran-peran kita didalam lingkungan sosial kita. Status-sosial yang lebih tinggi memberi kegairahan yang lebih besar. Termotivasi oleh kegairan ini, kitapun pada akhirnya menpersamakan status-sosial tersebut dengan eksistensi kita. Ketika identifikasi-diri pada status-sosial ini terjadi, maka dialah yang kemudian kita dudukkan sebagai 'yang dipertuan'. Dialah yang menitahkan kita, oleh karena tanpa dia kita merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan hal ini sungguh menakutkan bagi kita.
 
KERENDAHAN-HATI DAN KETENTRAMAN BATIN
 
Kerendahan-hati yang sesungguhnya hanya ada bila kita benar-benar bisa menghayati bahwasanya kita bukanlah siapa-siapa. Disinilah sesungguhnya masalahnya bagi kita. Kita takut dianggap bukan siapa-siapa, apalagi untuk menjadi bukan siapa-siapa; oleh karenanyalah kita mengenakan berbagai atribut berupa pangkat, jabatan, profesi berbagai status sosial -ekonomi, politis, kultural maupun religius- dan lain-lain. Bahkan, tak jarang itu kita lakukan dengan 'merendah' agar tampak rendah-hati. Sikap merendah kita gunakan demi satu atribut -'orang yang rendah-hati'. Kita suka atribut-atribut itu, kita suka sebutan-sebutan serta peran-peran itu, karena ia memberi kita kesempatan untuk lebih 'merasa ada'.
 
Apa yang kita anggap sebagai eksistensi kita, pada akhirnya tiada lain dari atribut-atribut itu, peran-peran itu adanya. Karena mereka memlihara 'rasa ada'
kita. Dan untuk tetap menjaga dan mengembangkannya inilah kita terus-menerus meningkatkan berbagai status-sosial kita dan mengenakan sebanyak-banyaknya atribut, dari yang rendah hingga yang paling tinggi, dari yang kasar hingga yang paling halus. Kita merasa aman dan nyaman dalam mengenakannya.
 
Pengumpulan dan pengembangan atribut tidak pernah menghadirkan ketentraman batin. Ia malah mengharuskan kita untuk semakin sibuk, semakin aktif, hingga titik-titik dimana kita menjadi benar-benar kelelahan sendiri. Nah...ketika kita telah benar-benar lelah, benar-benar menyadari kesemuan dari berbagai atribut dan status itulah, ketentraman mulai terasa sebagai suatu kebutuhan, dan bukan sebelumnya. Kita tak butuh lagi sebutan-sebutan, gelar-gelar, pangkat-pangkat, nama-nama, jabatan-jabatan, pengaruh-pengaruh, kekuasaan kekuasaan, peran-peran, atribut-atribut serta segala macam status-status semu lainnya.
 
Ketika ketentraman ini yang dikehendaki, maka kerendahan-hati -yang bukan takut direndahkan atau dipandang rendah-adalah pasangan idealnya, dan ini berarti suatu kesiapan untuk menjadi bukan siapa-siapa. Ketika Anda bisa tetap merasa berharga dalam hidup ini, kendati sebagai bukan siapa-siapa, maka kedamaian akan melingkupi batin Anda dan disinilah akan hadir gairah-hidup yang sebenarnya.
 
Beranikah kita menjadi bukan siapa-siapa? Beranikah kita melepas segala macam status dan atribut semu itu? Sayangnya, tak banyak yang punya keberanian untuk itu diantara kita; kendati kita tahu bahwa inilah kunci dari gerbang kedamaian dan gairah-hidup itu. Kita mungkin lebih rela mati, ketimbang harus menjadi bukan siapa-siapa; dan sebagai konsekwensinya, kita dituntut untuk merelakan kedamaian, kegairahan dan kebahagiaan dalam hidup ini.
 
Denpasar, 13 Nopember 2001.
Anatta


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke