Cahaya Penerang Jalur Menuju Pencerahan
Bab 1: Pendahuluan
bagian 4

Atisha (982-1054)
dan
Undangan ke Tibet: Sebuah Catatan Kuno



TRADISI KADAMPA
Dromton Gyelwa Jungnay, pendiri tradisi Kadampa dan ia juga merupakan murid utama Atisha, ia mengatakan bahwa “Mereka yang mencari pembebasan harus mengetahui tiga kategori ajaran Buddha.” Atisha memberi pejelasan lengkap untuk pelajaran ini terususun rapi, mudah di mengerti dan dipraktikkan oleh mereka yang berasal dari kapasitas yang berbeda-beda. Mereka yang bertumpu pada intruksi ini bisa mencapai tujuan sementara dan tujuan akhir semua makhluk. Namun, instruksi ini sama sekali tidak bermanfaat untuk dunia binatang! Kita yang menikmati delapan kebebasan dan sepuluh berkah karena terlahir sebagai manusia[39] dan kelahiran manusia-lah yang sangat ideal.

Istilah Tibet “Kadam” mengandung dua suku kata: bka' merujuk pada Sabda Buddha dan gdams berarti instruksi. Je Tsongkhapa suatu ketika bertanya kepada Chenga Rinchen Pel[40] untuk memberi penjelasan tentang “kadam”, ia menjawab kadam berarti “Renungkanlah semua sabda Buddha, bahkan tanpa meninggalkan sepenggal katapun, sebagai instruksi untuk berlatih.” Je Tsongkhapa sangat puas dengan jawaban ini dan kemudian ia menyadari bahwa inilah yang paling bersinar. Sebagai seorang penganut ajaran Buddha, kita menerima semua pernyataan Buddha, baik secara infinitive maupun interpretasi, semua ini valid untuk menuntun kita menuju pencerahan. Praktisi kadampa adalah mereka yang berlatih dalam jalur tiga tingkat kapasitas yang diajarkan oleh Atisha, yang mana tercakup dalam tiga kategori ajaran.

Cahaya Penerang Jalur Menuju Pencerahan merupakan pemikiran sempurna Buddha dari dahulu, sekarang, dan masa depan, mencakup berbagai makna tersembunyi maupun makna eksplisit dari sutra penyempurnaan kebijaksanaan. Karena perbedaan kapasitas dan kemampuan mencerap setiap orang bervariasi, Atisha, orang yang paling berpengaruh pada jaman itu memunculkan pemahanan ini dengan mempraktikkan sendiri melalui tiga kapasitas itu. Intruski-instruksi ini mengandung semua aspek untuk merealisasi pencerahan. Tiga muara besar sungai ajaran mengalir ke Atisha, dan dua orang sang pembabat hutan belantara, Nagarjuna[41] dan Asangha, dan Bodhisatwa Shantideva. Dari silsilah Nagarjuna menurunkan silsilah ajaran realitas sejati mendalam dan dari silsilah Asanga beserta Shantideva menurunkan silsilah perilaku Bodhisatwa.


PENDEKATAN NASKAH
dalam proses mendengarkan maupun mengajarkan naskah agung membutuhkan motivasi khusus. Para sesepuh Kadampa mengatakan bahwa kita harus mampu membedakan antara diri kita dengan binatang. Jika perhatian utama kita hanya pada makanan dan tempat tinggal saja, maka kita tidak ada bedanya dengan binantang, bahkan kita tidak lebih baik daripada binantang. Yongdzin yeshe Gyeltsen[42] mengatakan “Pada kenyataannya kebanyakan binatang berjalan dengan empat kaki dan manusia berjalan dengan dua kaki bukan merupakan perbedaan yang cukup berarti”. Harus ada perbedaan yang besar antara cara berpikir dan bertindak. Hanya berpikir demi kebaikan kehidupan sekarang saja sangat tidak memberikan manfaat apapun, inilah analogi yang terpahat pada batu yang digunakan oleh Chandrakiriti[43]. Teman Chandrakiriti maju terus karena mereka dalam mara bahaya karena diserang oleh para perampok. “Apa yang akan engkau lakukan?” “Saya akan membuat batu ini menjadi kotak.” “dan untuk apa anda melakukan itu?” “Saya akan membuangnya begitu saja!”

Kita menghabiskan terlalu banyak waktu bercengkerama dengan kehidupan ini saja, namun ketika kematian menghampiri, kita harus meninggalkan semua tanpa terkecuali. Tidak ada barang duniawi yang bermanfaat. Lantas apa yang bermanfaat? Menciptakan relasi dengan guru spiritual, mendengarkan, merenung dan memeditasikan ajaran, membuat persembahan dan memohon dengan tulus kepada Triratna dan doa aspirasi tulus, ini beberapa cara agar kita bisa mendapatkan realisasi. Bahkan pencapaian spiritual dalam kehidupan ini sangat terbatas, doa aspirasi demikian akan memberikan buah di masa akan datang.

Pertama-tama anda harus mengetahui bagaimana cara berlatih dengan baik, mulai dengan motivasi baik, memohon ajaran pada guru spiritual, selanjutnya renungkan apa saja yang telah anda dengarkan sampai detik ini dan pastikan anda memahaminya, mulai membuat diri familiar dengan pemahaman ini. Aktivitas lain seperti melakukan namaskara, menjapa mantra dan melafal berbagai doa khusus praktisi buddhis, namun praktisi buddhis sangat tergantung pada motivasi yang mendasarinya dalam melakukan semua aktivitas itu. Jika kita menginginkan umur panjang, kekayaan atau terbebas dari penyakit dengan melakukan aktivitas di atas, barangkali keinginan anda bisa menghasilkannya, namun ingatlah itu bukanlah latihan otentik dari ajaran Buddha. Niat yang mendasari dalam melakukan aktivitas itulah yang membuat perbedaan antara praktisi duniawi dengan praktisi otentik ajaran Buddha. Apabila kita termotivasi oleh perhatian pada kehidupan masa akan datang, semua tindakan positif kita akan menjadi praktik spritiual otentik yang akan membawa kita pada kebahagiaan sejati.

Tanpa mengeyampingkan apapun dari naskah ini, Atisha memberikan rangkuman lengkap pada semua esensi penting sutra dan tantra sebagai instruksi untuk mengendalikan batin dalam bentuk yang lebih mudah dipraktikkan. Teks ini diberkahi dengan berbagai nasihat dari para guru besar pembabat jalan, Nagarjuna dan Asanga. Teks seperti 'Maitreya's Ornament for Clear Realization, 'Supplement to the Middle Way [44] Chandrakiriti dan 'Treasury of Knowledge[45] Vasubandhu merupakan bagian-bagian dari maha karya yang ada dalam sutra dan tantra. Bagi mereka yang ingin berlatih demi mengendalikan batin, kita harus merujuk pada komentar-komentar ini untuk mengetahui lebih banyak tentang bagaimana memanfaatkan teks ini dalam latihan ini.

Naskah Cahaya Penerang Jalur Menuju Pencerahan mengindikasikan dengan jelas dan lengkap bagaimana cara berlatih, hanya belajar naskah ini satu atau dua kali tentu saja tidak cukup. Longdol Lama Rinpoche[46] mengatakan bahwa setelah ia mendengarkan teks ini dan teks lainnya dalam tradisi yang sama sebanyak tiga puluh dua kali, ia baru merasa percaya diri untuk melakukan meditasi bertahap menuju pencerahan. Kita seharusnya tidak hanya tertarik pada mendengarkan atau membaca sesuatu yang baru saja. Shantideva mengungkapkan di bagian awal dari karya 'Engaging ing the Bodhisattva deeds', ia menyebutkan bahwa 'Saya tidak akan menulis karya ini untuk mereka yang hanya sekedar mencari kebangaan sesaat dan untuk menyombongkan diri, juga tidak untuk mereka yang bias dalam pandangan, namun karya ini untuk mereka yang mau membuka pintu batinnya dan dengan tulus ingin berlatih, dengan demikian ia akan mendapatkan manfaat dengan topik yang bersangkutan.”

Karya Atisha ini memiliki 4 hal yang menonjol, pertama adalah tampak jelas bahwa tidak ada pertentangan sama sekali dalam ajaran Buddha. Hal ini dibuktikan melalui penjelasan bahwa praktik sutra dan tantra sama sekali saling menunjang dan semua ajaran buddha berkaitan satu sama lainnya. Tujuan utama adalah untuk terbebas dari samsara, dan praktik pendahulu dan mengengah merupakan kelanjutannya. Ketika bodhicitta telah dibangkitkan, ditunjang oleh enam paramita, berlatih vipassana dan samatha merupakan keharusan.

Sabda Buddha tidak seharusnya hanya dianggap sumber kutipan untuk bahan latihan lain. Hal menonjol kedua dari karya Atisha menujukkan bahwa sabda-sabda Buddha harus dijadikan intruksi untuk berlatih. Hal menonjol ketiga adalah teks ini memungkinkan kita dengan mudah mengerti intisari ajaran Buddha: bagaimana mengembangkan tekad untuk terbebas dari samsara, bodhicitta, dan pandangan murni terhadap realita. Hal menonjol keempat adalah dengan belajar, merenung, dan memeditasikannya, kita akan mengetahui hal apa yang harus dilakukan dan hal yang harus dihindari secara alami akan membuat kita tidak terlibat dalam karma buruk, dan terakhir adalah kita bisa terhindari dari sikap menolak bagian tertentu dari ajaran Buddha.

source: Atisha's Lamp for the path to enlightenment; Geshe Sonam Rinchen


J u n a i d y  A n w a r
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia

Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara ~ Shantideva


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke