Hilangnya Watak Transformatif Agama
Umaruddin Masdar
Pada akhir 1970-an, Abdurrahman Wahid dan Zamakhsyari Dhofier pernah
mengkritik pendekatan fungsional yang banyak digunakan untuk memahami
agama.
Dalam tulisannya, "Penafsiran Kembali Ajaran Agama: Dua Kasus dari
Jombang", yang dimuat Jurnal Prisma edisi April 1978, keduanya menyatakan
pendekatan fungsional selalu menekankan aspek perpaduan dan penyatuan
(harmonizing and integrating aspects) dari ajaran-ajaran agama dengan
melupakan aspeknya yang bersifat mengubah (transformative aspects).
Pendekatan demikian menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang statis dan
pandangan sangat konservatif atas ritual dan ajaran keagamaan dalam
kehidupan.
Kritik tersebut ditujukan kepada para ahli dari kalangan luar agama
(sosiolog, antropolog, dan pengambil kebijakan) yang cenderung memandang
agama sebagai unsur yang paling sukar dan lambat berubah. Agama dianggap
menghambat pembangunan atau modernisasi.
Pada dasarnya, menurut Gus Dur dan Dhofier, setiap agama memiliki watak
transformatif. Agama berusaha menanamkan nilai-nilai baru dan mengganti
nilai lama yang dianggap bertentangan dengan ajarannya. Dengan watak
demikian, agama tidak selalu menekankan segi harmoni dan aspek integratif
dalam kehidupan masyarakat, tetapi sering kali menimbulkan konflik baru
karena misinya yang transformatif mendapat tantangan dari pihak lain.
Kritik tersebut kini tampaknya relevan ditujukan untuk "orang dalam",
terutama di tengah maraknya dakwah Islam di televisi yang hampir seluruh
perspektifnya menggunakan pendekatan fungsional. Dalam berbagai acara
keagamaan di televisi tersebut, bisa dikatakan agama telah kehilangan
watak aslinya yang transformatif. Contoh yang bisa dikatakan ekstrem
adalah iklan layanan masyarakat yang mendukung kenaikan harga BBM yang
menampilkan dai kondang, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), beberapa waktu
lalu.
Dalam pendekatan fungsional selalu dikedepankan ajakan untuk bersabar
menerima keadaan, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, bersatu, dan
sebagainya. Persoalan tidak dilihat secara struktural, tetapi disikapi
secara individual. Sikap individu yang sabar dan rendah hati diyakini
mampu mengatasi persoalan struktural sebesar apa pun yang dihadapi bangsa.
Pencerahan yang kondusif
Sepintas lalu pendekatan demikian menghasilkan sikap keberagamaan yang
dewasa. Semangat untuk melaksanakan ritual dan menggunakan simbol agama
juga meningkat. Namun, apakah perkembangan ini bisa menjadi proses
pencerahan yang kondusif bagi penyelesaian persoalan struktural bangsa
secara kolektif, masih perlu dikaji lagi.
Kalau diamati secara saksama, ada beberapa hal yang perlu direfleksikan
lebih jauh tentang dakwah fungsional itu, terutama menyangkut implikasi
jangka panjang bagi kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan. Pertama,
pendekatan fungsional bisa menjebak umat beragama dalam sikap fatalistik
dan mematikan sikap kritis. Hal ini terjadi karena dalam pendekatan
fungsional tidak jelas sampai batas mana persoalan struktural bisa
ditoleransi dan disikapi secara individual.
Kedua, keberagamaan tanpa watak kritis menjadi salah satu ekspresi yang
sesuai dengan kebutuhan "pasar". Kita tahu bahwa pasar sangat sensitif
dengan gejolak sosial, termasuk yang bersumber dari sikap keagamaan,
karena itu tidak mengherankan jika pelaku pasar mendukung
tayangan-tayangan dakwah yang menopang stabilitas sosial.
Ketiga, para penguasa juga sangat menyukai tokoh-tokoh agama yang selalu
mengampanyekan persatuan, harmoni, integrasi, dan sikap-sikap lain yang
mendukung stabilitas politik. Mereka paham bahwa keadaan paling berbahaya
adalah instabilitas karena ada gerakan protes yang bersumber pada ajaran
agama. Karena agama miliki unsur keabadian, instabilitas yang ditimbulkan
biasanya juga berlangsung lama. Artinya, dakwah fungsional, disadari atau
tidak, lebih merupakan upaya menyesuaikan ajaran agama untuk kepentingan
pasar dan penguasa daripada kepentingan agama dan umat itu sendiri.
Keempat, ada konvergensi di mana tuntutan pasar dan pemerintah itu bertemu
dengan meningkatnya gairah keagamaan "kelas menengah keagamaan-kota" yang
secara umum ingin bergaya hidup agamis, tetapi dengan cara-cara yang
sedikit instan. Konvergensi demikian dengan sendirinya menghadirkan
pemahaman dan penafsiran agama yang cenderung manipulatif, yaitu para juru
dakwah menjadi penafsir yang menyediakan simbol-simbol agama sebagai
legitimasi tidak terbatas terhadap gaya hidup, kekuasaan politik, dan
pasar.
Kelima, dalam jangka panjang, pendekatan fungsional terhadap ajaran agama
bisa berakibat pada pendangkalan pemahaman keagamaan yang jika tidak
disadari sejak dini akan menyuburkan radikalisme di masa mendatang.
Legitimasi agama
Kebutuhan untuk menyediakan legitimasi agama guna membangun harmoni sosial
di tengah menumpuknya berbagai persoalan struktural mendorong juru dakwah
untuk mengambil dalil agama apa saja yang bisa melegitimasi keadaan di
satu sisi dan membangun gaya hidup agamis di sisi lain secara simbolis dan
verbalistik. Konsekuensinya, ajaran agama direduksi sedemikian rupa
sehingga ia kehilangan spiritnya yang berwatak membebaskan.
Perspektif kesejarahan dan sentuhan humanitarianisme hilang dari pemahaman
dan penafsiran ajaran agama. Agama tidak lagi bisa menjadi salah satu alat
analisis sosial, tetapi memunculkan sikap umat yang cenderung apolitis,
apatis, dan individualistis karena semua persoalan dikembalikan kepada
sikap individu.
Dalam kondisi seperti itu, sesungguhnya dibutuhkan keberanian moral para
tokoh agama untuk bersikap dan berpihak kepada kepentingan rakyat guna
mewujudkan keadilan dan kemaslahatan bersama. Netralitas menjadi sesuatu
yang absurd dan bisa dianggap sebagai pengingkaran terhadap komitmen untuk
membela kepentingan umat.
Sikap demikian mungkin akan menimbulkan suasana konflik. Namun, konflik
yang dipahami akar persoalannya secara menyeluruh akan bermakna positif
bagi dinamisasi kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan, terutama bagi
pematangan dan pendewasaan sikap hidup kaum beragama itu sendiri.
Umaruddin Masdar Politik; Penulis Buku "Gus Dur Pecinta Ulama Sepanjang
Zaman, Pembela Minoritas Etnis Keagamaan" (2005)
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
