Bck22- Jadi Orang Baik?
Jadi Orang Baik?
"Memang baik jadi orang penting, namun jauh lebih penting untuk jadi orang baik."; demikian biasanya Ebet Kadarusman menutup acara asuhan di sebuah stasiun TV. Sebagai seorang entertainer, ia memang mengemban tugas menghibur, menyenangkan hati audience atau pemirsanya.
Menyenangkan hati orang lain, bukan saja baik bagi yang disenangkan namun juga baik bagi pelakunya. Apalagi bila ini dilakukan tanpa pamerih, atas rasa simpati yang mendalam dan semata-mata dimaksudkan sebagai pelayanan. Ini bisa tergolong perbuatan mulia; beda dengan menyenangkan hati orang lain atas maksud-maksud atau muatan-muatan pribadi tertentu; apakah itu demi sejumlah materi, kedudukan, pangkat, jabatan, pengaruh, popularitas diri pun sekedar agar disenangi orang tersebut. 'Menjilat' adalah frase umum yang seringkali kita gunakan bagi perbuatan seperti itu. Betapapun suatu perbuatan dengan pamerih tampak samarnya atau tampak seakan-akan tanpa pamerih, cepat atau lambat akan mendatangkan kekecewaan dan rasa frustrasi. Tampilan permukaannya bisa jadi amat mirip, hingga sulit dan nyaris tak terdeteksi motifnya, bahkan oleh si
pelaku sendiri.
Para psikolog dari PROMIS Recovery Centre, sebuah klinik pengobatan ketergantungan terkemuka Inggris, menyebutkan bahwa 1 dari 5 orang (yang mereka
amati) terjebak dalam perangkap 'orang baik'; bahkan bisa dikatakan, kecanduan bersikap baik. Menjadi pendengar yang setia bagi teman-teman memang tak ada salah-nya, namun problem akan muncul bila Anda mulai mengorbankan keseimbangan emosional Anda bagi mereka. "Tak ada salahnya berbuat baik pada setiap orang.
Tapi masalah akan muncul jika Anda tak dapat berhenti berbuat baik.", ujar DR.
Robert Leverer, pendiri sekaligus direktur PROMIS. Pada tahap ini, Anda sudah menjadi seorang pecandu yang selalu ingin berbuat baik, layaknya seseorang yang kecanduan alkohol.
Biasanya pecandu ini mempunyai dua kecenderungan, katanya. Yang pertama adalah mengurus orang lain secara berlebihan karena tak percaya pada mereka kalau mereka akan mampu mengatasinya sendiri. Yang kedua adalah "self denial", yaitu merasa tak keberatan berkorban bagi orang lain, meski itu merugikan dirinya sendiri. Menurut Leverer, akar dari permasalahan ini adalah rendahnya harga-diri; sebenarnya karena menilai diri sendiri berdasarkan pandangan orang
lain.¹)
"Ah...apa kata orang nanti.", mungkin demikian ungkapan atau gumam yang seringkali kita dengar dari mereka yang terjerat atau kecanduan demikian ini.
Apa yang terjadi pada mereka sebetulnya adalah 'krisis percaya diri', disamping keengganan untuk mengemukakan pandangan pun untuk menyangkal sesuatu yang tak berkenan, takut disangkal dan tidak dianggap sebagai 'orang baik'. Buruknya adalah bila kita benar-benar menjadi terkecoh oleh 'kata orang'. Kita akan selalu terombang-ambing olehnya, dan rasa percaya-diri semakin mengkerut.
Motivasi dari suatu perbuatan selalu memperoleh perhatian khusus dalam doktrin Karma. Sejauh semua perbuatan berpijak, diawali dan digerakkan oleh motivasi tertentu, maka motivasinyalah yang sesungguhnya merupakan substansi dari semua perbuatan. Dalam motivasi ini tersimpan maksud-maksud dari yang paling kasar, yang segera tertampak dengan relatif mudah di permukaan, sampai yang sedemikian halusnya hingga tak tertampak bahkan oleh pelakunya sendiri.
Kebaikan yang dilakukan dengan harapan agar disebut-sebut sebagai 'orang baik', malah menjebak kita pada sikap munafik, bermuka-dua atau sejenisnya. Bukanlah kebaikan tulus
yang tanpa pamerih, kalau tidak muncul dari rasa simpati (mudhita), rasa persahabatan dan kasih (maitri) serta rasa belas-kasihan (karuna). Kebaikan palsu serupa ini samasekali tak akan menghadirkan ketentraman ataupun keseimbangan batin (upeksha); malah sebaliknya, konflik batin.
Denpasar, 26 Agustus 2001.
________________________
¹) "Terjebak Jerat Kebaikan"; Kosmopolitan; edisi Juni 2001.
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
