Bro V. Diepa,

Pandangan anda itu benar sekali bahwa yang penting itu praktek
Dhamma bukan buku nya, dan memang tidak akan ada habisnya diskusi
soal buku ini dan bagai mana diperlakukannya kalau mau diteruskan,
namun saya akan sangat setuju kalau kita - umat Buddha- hendaknyalah
low profile dalam arti tidak ekspansif keluar dan menunjukkan
atribut ke buddhisan kita terutama sekali kalau lalu ingin bersaing
dengan agama lain apa kita semua sudah lupa dengan kejadian waktu
Sangha Agung dipolitisir dan akhirnya keluar dari walubi -atau
sekarang sudah ikut lagi-, dan kita juga mestilah tidak menaruh diri
itu berhadap-hadapan dengan orang-orang semacam FPI dan ormas-ormas
yang tidak berpikir panjang lainnya. Selain itu saya yakin masih
banyak Vihara dan juga komunitas Buddhis yang jauh lebih membutuhkan
dan akan lebih menghargai buku itu dari pada ditaruh di hotel dan
dengan segala kemungkinannya-secara umum anda bisa mencek apa tujuan
dan keperluan orang nginap di hotel, apakah ada celah untuk ruang
religius bagi para tamu itu? Kalau pun ada tentu ybs itu sudah punya
bekal-buku atau apa yang dia latih sendiri-, kalau kita mau melihat
secara umum, orang nginap di hotel kalau tidak urusan bisnis/tugas
kantor, jalan-jalan/rekreasi, tentu urusan (maaf) sex dan sex- lalu
di mana porsi religiusnya?

Ini saya postingkan komentar saya dan juga link awal yang
menunjukkan di mana sih awalnya diskusi itu dan memang kata-kata
saya agak kasar, ini saya mesti mohon maaf, terutama sekali karena
posting ini sebetulnya sudah jadi perang mulut antara saya dengan
Bro Abin :) , yang sepertinya merasa harga dirinya jadi diusik
karena dia yang pertama kali ngomong dan mengangkat isu ini. Sekali
lagi mohon maaf dan mohon dilihat bagian yang pentingnya-bukan
hujatan saya. :) Maafkan kebodohan saya dan kekasaran saya.

dari yang bodoh dan kasar
bclt
====
http://groups.yahoo.com/group/mubi/message/35239
Subject: Ya deh, gue bodoh..... Fwd: Kalau dibikin jadi
lap ........  bcl_t
Offline
Send Email 

Sori kalau saya mengatakan anda goblok,

Dan saya akan tunjukkan di mana anda goblok dan maksanya anda,
karena saya bisa melihat bahwa sepertinya anda tersinggung atas
postingan saya karena anda yang bangga atas adanya buku di hotel itu
walaupun ada rekan yang bertanya juga, anda ngapain di hotel itu
sampai nggak sempat baca buku itu isinya apa, dan lalu teman itu
bertanya-tanya apa lagi main ce... , wah sori ndak saya teruskan deh.

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: Dhammasabha Milis <[EMAIL PROTECTED]>; Buddha Vacana
<[EMAIL PROTECTED]>; Mabindo Milis
<[email protected]>;
Mubi Milis <[EMAIL PROTECTED]>; Milis SamaggiPhala
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, April 22, 2006 7:48 AM
Subject: [samaggiphala] Buku Buddhis di Laci Kamar Hotel


> Tadi malam saya sempat spend a night di Hotel Sheraton Surabaya.
> Ketika saya membuka laci meja hotel, kali ini saya tidak menemukan
kitab suci baik Al Qur'an maupun Alkitab, tapi saya menemukan sebuah
buku yang cukup bagus terbitan Ehipassiko Foundation.
>
> Saya cukup senang dengan keberadaan buku ini walau saya tidak
sempat
> membacanya.
> Bravo Ehipassiko!
>
> Salam,
> Abin


abin:
http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/18237
Kemaren minggu, seharian saya di rumah...
Siangnya saya pas melewati altar di rumah yang biasanya di sana
terdapat sepiring kembang dan secangkir air yang selalu disiapkan
mama saya karena setiap sore mama liam keng.

Wah, kalau menggunakan cara BCLT, maka mama saya harus
bertanggungjawab atas kematian semut-semut tersebut karena kalau
mama saya tidak secara bo ceng li menaruh air di altar, maka semut-
semut itu tidak akan mati.
===
bclt:
http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/18172
Coba anda lihat sendiri, kalau saya beli mobil dan memarkirnya
ditempat parkir
dengan kaca terbuka memperlihatkan isi mobil dan tape rekordernya
yang baru, lengkap dengan cd dan mp3 player.
    Bandingkan dengan kalau saya memarkir mobil baru itu dengan kaca
tertutup, gelap oleh kaca film.  kalau kedua mobil itu sama-sama
dicuri tapenya, bisakah anda mengatakan kalau yang pertama itu anda
tidak salah dan malah mengundang pencurinya?
    Kalau yang kedua, yah itu namanya nasib, anda lagi sial atau
apalah, tapi yang pertama apa bukan anda mengundang?
===
Nah, mari kita lihat, di mana letak gobloknya anda.
Ibu anda meletakkan cangkir teh itu di altar, semut-semut itu
berkeliaran di altar mencari remah makanan; roti, ceceran gula, dst-
dst, nah coba anda amati, biasanya si semut itu suka berkeliaran ke
mana saja, termasuk ke atas cankir teh itu, dan biasanya dia mencoba
mendeteksi makanan itu dengan alat deteksinya, nah itu juga berlaku
untuk air teh itu, lalu anda bisa menebak bukan kalau si semut akan
tertarik ke air karena ada gaya tarik menarik antara alat deteksinya
dengan permukaan air/molekul air, jadilah dia mengambang dan mungkin
lalu mati.

Anda bilang dia hanya melepaskan dahaga, tanpa membaca dan
menyelidiki perilaku semut itu bagaimana dan apa yang dia lakukan
dalam keseharian. Jadi, matinya semut itu sama analoginya dengan
mencetak buku dhamma dan ditaruh ditempat yang pantas;Vihara, toko
buku, tempat ibadah yang sesuai; sama dengan memarkirkan mobil
dengan benar pada tempatnya, jendelanya pakai kaca film dan dikunci
dengan baik. Kalau ada orang gila yang membeli buku dhamma itu dan
menyalah gunakannya, itu sama dengan semut yang sedang mencari
makanan dan seterusnya, sama juga dengan mobil yang diparkir benar
itu dicolong orang tape nya.

Buku tetaplah buku, tape, tetaplah tape, semut tetaplah semut. Kalau
ibu anda waktu melihat semut dengan sengaja menaruh kemut-umpan
pembunuh semut, tentu dia bertanggungjawab atas kematian semut itu-
dan kalau anda menaruh buku di tempat umum tanpa mempertimbangkan
konsekwensi terburuk yang mungkin dari perbuatan itu, secara tidak
langsung anda ikut bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi
dengan buku itu, walaupun bagi anda buku itu tetap buku, tapi coba
anda saksikan sendiri, saya cuma memberikan contoh dan indikasi
kemungkian terburuk yang bisa terjadi, anda sudah marah tanpa
menyimak analogi saya dengan baik, anda mengatakan saya itu tidak
beragama, bukan umat buddha yang baik, dst dst.

Di dalam zen, sang Master merobek buku, atau ada pakar merobek buku
itu ada tujuan yang jelas, tapi selain itu, boleh anda amati dan cek
bahwa para Master zen itu amat menghargai apa yang ada disekitar
mereka dan berupaya menggunakan sumber daya itu dengan bijak, apa
lagi buku Dhamma, sudah tentu akan diberikan dan diperlakukan dengan
baik dan pada tempatnya, tidak diletakkan disembarang tempat. Memang
bagi dia-si master zen- buku itu mungkin sudah tidak perlu, tapi
bukan berarti dia bisa membuang dan meletakkan buku itu disembarang
tempat, tentu akan diletakkan ditempat yang bisa dipergunakan oleh
orang yang memang membutuhkannya dan akan memberikan manfaat yang
terbaik darinya.

Sama halnya dengan ibu anda meletakkan teh itu dialtar, untuk
memberikan penghormatan kepada siapa pun itu yang ditaruh dialtar,
sebagai wujud hormatnya kepada lambang si patung itu,, tentu saja
semut itu sendiri yang karena naluri dan sifat ke semutannya itu dia
jadi tenggelam ke air teh itu. Sama halnya dengan kalau saya menaruh
buku dhamma di vihara, ada tukang kayu yang sedang merenovasi vihara
yang entah iseng atau saking buru-burunya mengambilnya dan
merobeknya lalu menjadikannya tempat untuk menulis ukuran atau juga
jadi ganjal barang atau apalah yang tidak pantas untuk buku itu,
bukan salah saya atau orang yang meletakkan buku itu dong.

Jadi bro Abin, saya katakan anda goblok karena menaruh logika yang
saya umpamakan itu seenak anda tanpa berpikir, jadilahh anda bodoh
dua kali. Bodoh pertama anda mengatakan bangga melihat buku Dhamma
di hotel tanpa tahu isinya, dan kedua anda bodoh menggunakan logika
ndak nyambung untuk mengatakan saya nggak logis atau secara halus
bodoh.... yah, memang susah kalau bodoh dan ndak tahu bahwa diri
sendiri bodoh. Jadi memang lebih baik saya ngaku kalau saya bodoh.

Bodoh sudah meladeni anda diskusi, bodoh juga menjawab Bro Yoe yang
ndak tahu juntrungannya ngoceh  kayak baru turun dari pertapaan....
jadi, marilah kita mengakhiri kebodohan ini dengan salam bodoh.

dari yang bodoh , bo ceng li pula, kacian deh gue...
bclt

 
--- In [EMAIL PROTECTED], "bcl_t" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bro naga dogol,
>
> Ndak ada yang mau menjauh dari topik, hanya kalau analogi anda itu
> kelihatan maksa alias ndak pakai logika, apa lalu tidak layak anda
> dikatakan ngawur bin goblok?
>
> sori yaa, saya ndak mau melayani orang dogol yang maksa pakai
logika
> dan analogi yang ndak masuk diakal.
>
> salam
> bclt
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], "Abin Nagasena" <si_abin@> wrote:
> >
> > Jangan berusaha menjauh dari topik.
> > Terlepas dari semut minum atau tidak minum, bukan itu konteks
yang
> > sedang diperdebatkan di sini.
> > Kenyataannya adalah bahwa karena ada air yang disediakan di situ
> maka
> > semut-semut itu mati di sana.
> > Lebih baik kamu tanggapi topiknya daripada mempermasalahkan soal
> semut
> > minum atau tidak.
> > Jadi, please dech, jangan  berkelit dengan cara gini.
> >
> > Abin


--- In [email protected], "v.diepa" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> sedikit tanggapan untuk Andy Prianto
> Dharma ajaran Buddha ada dalam kehidupan kita sehari. Mencetak
buku Dharma dan disebarkan melalui hotel, merupakan satu ide yang
baik sekali. mengenai buku itu kemudian akan dugunakan buat apa oleh
mereka yang tidak senang, janganlah diperdebatkan karena itu tidak
akan ada habis-habisnya.
> jika kita merasa sakit hati melihat ajaran Buddha tidak dihargai
atau dihormati orang lain, maka kita harus lebih giat mengamalkan
ajaran Buddha dalam kehidupan kita, sehingga karma baik kita
berlimpah dan bisa menyadarkan mereka yang masih belum mengerti.
Orang bisa meremehkan ajaran Buddha / Agama Buddha karena mereka
tidak mengerti ajaran Buddha. oleh sebab itu mencetak buku Dharma
dan menyebarkan melalui Hotel sangat baik sekali. saya yakin setelah
membaca tidak mungkin mereka akan menggunakannya lembaran buku itu
untuk lap ingus atau lainnya yang meremehkan. Karena tidak tau
(bodoh / moha) maka mereka berbuat seperti itu, setelah tau mereka
akan menghargainya. Nah inilah kesempatan kita untuk memberitahukan
kepada mereka yang belum tau melaui penyebaran buku dharma di kamar
hotel.
> ( kita harus sakit hati kalau kita tidak mempraktekkan Ajaran
Buddha dalam kehidupan kita, jangan sakit hati ats perbuatna orang
lain karena itu hanya mengotori batin kita dan tidak akan  menambah
kemajuan dalam Bodhicitta) )
>
> Virya Diepa







** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke