Sdr Tsukudu,
Benar juga. memang ngak ada masalah ya.... Lain kali kalau ada umat di Jakarta yang butuh dibesuk dan bacakan paritta dan kheng anda bantu ya.Cuma urusan sepele, hanya butuh komitmen datang saja.

Tsukudu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Masalah simple cuman dibuat ribet.  Urusan cuma sepele tapi di
perpanjang terus.

Nich Pengalaman saya sendiri mengunjungi beberapa vihara yang
menurut saya cukup baik dan bagus.

1. Ketika saya datang ke vihara tersebut ada Bhikkuni yg sdg
sibuk membersihkan lemari dan menaiki tangga. Sambil berpeluh
berkeringat dia turun dan menyapa kami. Hello anda dari mana
dan ada yang bisa saya bantu ?

2. Ketika saya datang mengunjungi sebuah vihara. Orang disana
melihat dan menyapa saya lalu memberikan sebuah brosur dimana
disana ada jadwal kebaktian dan mengajak saya untuk ikut kebaktian
apabila saya sempat.

ini saja yang penting saat ini. Dibuat ribet dan pusink tujuh
keliling. terkesan lepas tanggung jawab dengan memberikan
opini ini itu.

Belajar agama buddha untuk adalah belajar untuk mengayomi masyarakat
dan menjadi manusia seutuhnya. Urusan sepele kayak gini aja ngak
ngerti gimana mau belajar agama Buddha.

Tsukudu.


--- In [email protected], hanry uttamo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear Bro and Sis,
>   Saya kira ini karena masalah WAKTU ,kita semua masih tahap
belajar dan memulai sehingga mencari bentuk yang pas.
>   Kalau diringkas -ringkas selama jadi pengurus, kendala yang
dihadapi antara lain :
>   Masalah Pengurus dengan Yayasan, Waktu, Pengabdian dan
pengorbanan, Regenerasi dan umat.
>   Pasti teman2 yang aktif membantu Vihara mengalami hal ini dengan
berbagai versi.
>   Mengenai umat misalnya, pengurus di tempat saya sudah saya minta
berusaha mengakrabkan diri dengan membuat acara bersama seperti ultah
bersama. Makanan dan kue tart disediakan tetapi umat enggan ikut
dengan berbagai alasan. Sampai2 acara sebulan sekali menjadi 3 bulan
sekali dan akhirnya bubar.Mungkin pengurusnya harus kursus MC spy
umat lbh tertarik. :)
>   
>   Mengenai pelayanan, sepertinya belum terlalu memasyarakat
diantara umat dan pengurus sendiri.Misalnya: ada family umat yg
meninggal, pengurus tentu hrs datang melayat. Masalahnya tdk semua
pengurus mau dan bisa hadir, sedangkan umat lain cuek2 aja, sehingga
pengurus inti benar2 kehabisan energi untuk melayani umat (bandingkan
umat lain yg ada jadual kunjungan).
>   
>   Ini, sekelumit kisah yg mungkin bisa disharingkan untuk kemajuan
>   
>   regards
>   beng
>     
>
> Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Dear Sis Maryani,
>
> salahnya ada di kita sih..
> kita menginginkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita bayangkan
> tapi kita tidak melakukan sesuatu untuk menciptakan kondisi itu...
> dengan say Hi ke orang yang tidak kenal trus ngajak ngobrol sedikit
sepertinya bisa jadi jurus ampuh....
>
> oh ya sedikit berbagi pengalaman di Vihara yang saya datangi di
Singapore.. ada sesuatu yang berkesan ketika pertama kali saya datang
ke sana....
>
> oleh MC/ Pemimpin kebaktian/ siapa saja yang pegang Mic pertama kali
> dia mengatakan,
> selamat datang di (vihara tersebut, hilangin aja ya tar katanya
promosi eheheh).. oh ya di antara kalian ada yang baru ??
> coba yang baru pertama datang ke vihara ini tunjuk tangan (lumayan
jg yang angkat tangan)
> trus dia mengatakan OK, bagi yang baru pertama kali ke sini saya
ucapkan lagi selamat datang..
> dan bagi yang sudah sering ke sini, coba liat saudara2 kita yang
baru datang.. selesai kebaktian ajak mereka ngobrol dan kenalan,
jangan lupa ya...
>
> trus di minggu berikutnya dia mengatakan, selamat datang lagi dan
meminta kita say Hi untuk orang yang ada di sisi kiri-kanan .....
>
> saya melihat ini adalah suatu permulaan..
> apakah bisa di terapkan di Indo ???
>
> setidaknya pada saat kebaktian selesai, kita bisa melempar senyum
ke orang yang ada di sekitar kita (walaupun tidak dikenal)  dari sana
bisa menjadi awal dari keakraban yang baru
>
>
> ps. tersenyumlah maka dunia pun akan tersenyum padamu....
>
> with metta,
>
> yamin
>
> Maryani Wonosetiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:    Dear Bro n Sis, 
>   
>   Bro n Sis yg terkasih di dalam Dharma, mungkin ada yg mo bantu
saya merenung.
>   Setelah sekian taon absen kebaktian di vihara, setahun yll come
back n ajak suami tercinta :)  Vihara sedemikian megah n umat
sedemikian buanyak, tapi kami merasa kesepian di tengah2 keramaian ...
(ciaillleeeh).  Yah, krn datang b2 gak begitu masalah sih. Kami
sedikit mengamati bagaimana dengan yg lain.  Pengamatan kasar kami
ada: ada yg sudah merasa home sweet home- mungkin aktivis or
pengurus; ada yg datang berkelompok or memang sudah ada yg kelompok
bermainnya yg bermarkas disitu; ada yg datang berpasangan -yah spt
kami donk!, ada juga yg berani datang sendiri- mungkin berharap dapat
teman or ketemu teman.  Yg kasian teman kami datang sendiri (tidak
bersama suami) n benar2 sendirrriiiiiiiaaaan...ooooohhh.
>   Memang sich..ada "petugas2" yg sambut umat datang n antar duduk,
tapi..apa cukup sebegitu saja ???
>   Masalah lain lagi klo kita ajak2 teman, saudaran n handai taulan
untuk ikut kebaktian.
>   Pengen nya sih kita khan udah bujuk mereka datang, nah setelah
mereka datang mbo'  ada yg siap "menyambut" secara utuh
n "merawat"nya agar bisa datang lagi n lagi n masuk komunitas.  Knapa
gak seperti di tetangga kita yaaah... begitu sekali datang jangan
harap gak datang2 lagi, pasti disamperin... Duh saya mimpi bisa spt
tetangga sebelah.  Tinggal ngajak aja, selanjutnya ada yg follow up!!
>   Salah kita b2 juga sih, gak pernah ikut2an acara lain, gak pernah
ikut jadi seksi report or kontribusi apa sajalah. Klo ikut khan kita
b2 bisa kenal dgn yg lain, yah ada interaksi -bukankah tak kenal maka
tak sayang :)  Duuh Mak! bukannya gak mo ikut2an, tapi kita b2
terbentur dengan keterbatasan (yaah...keterbatasan waktu !). Untuk
sekedar ikut kebaktian rutin minggu saja, yaah suka bolos juga.
Gimana yaah??? pengen deh masuk "komunitas" dengan keterbatasan kita
skr. Hiks! Tapi apa daya, sudah berjalan setahun tak ada perubahan. 
Kadang sy merasa sedih, ingat masa2 di SMA dulu, begitu banyak punya
saudara (saudara2 di vihara) n begitu merasa Vihara adalah rumah saya
yg ke2 - ooh..home sweet home. Begitu kami saling care, sedih susah
senang bersama. Untungnya sy masih punya Saudara/i sedharma sekampus-
walau sudah melewati waktu belasan taon tapi masih tetap bisa menjaga
tali silahturahmi.
>   Bro n Sis, apa yg salah yaah dengan kami b2? apa yg terjadi di
komunitas kita ?? kenapa gak spt tetangga kita ???  Terima kasih lho,
klo ada yg mo kasih kami b2 "pencerahan" ***
>   Salam Kasih Dalam Dharma.
>
>
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
diri saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi
pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi
penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi
ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat,
membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh
rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat
kami **
>
>
>
>   SPONSORED LINKS
>         Religion and spirituality   Spirituality
>    
> ---------------------------------
>   YAHOO! GROUPS LINKS
>
>    
>     Visit your group "Dharmajala" on the web.
>    
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>    
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>    
> ---------------------------------
>  
>
>
>
>            
> ---------------------------------
> New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC
and save big.
>






SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


Yahoo! Mail goes everywhere you do. Get it on your phone.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke