Bro dh4m4duta,

Apakah buku vinayamukha itu sama dengan buku "Ordination Procedure" oleh pengarang yang sama juga ? Karena saya adanya yang itu dan seperti isinya mirip sekali.

Cuma berbagi pendapat saja yah, semoga benar.

tentang pertanyaan pertama,
Seingat saya dulu saya pernah mendapatkan penjelasan bahwa jika seorang bhikkhu itu cacat maka pandangan umat awam yang memang masih penuh dengan kilesa akan melihat rendah atau menghina bhikkhu tsb. Mungkin hal tsb bisa membuat dampak buruk bagi sangha atau umat lainnya. Termasuk kasim karena bisa menimbulkan keadaan yg tidak diinginkan mengingat sangha adalah panutan umat.

Tentang Pacittiya ke-66 dan 67,
Disini yang menjadi patokan Sacittaka dan Acittaka adalah dengan niat/kesadarannya bukan karena wanitanya.
Didalam Pacittiya semua yang dituliskan dengan niat/kesadaran dianggap Sacittaka. Yang tanpa dianggap Acittaka.
Kalau semua dianggap Acittaka, maka yang dengan niat/kesadaran jadi tidak melanggar dong.

CMIIW

with Metta



"dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]

05/04/2006 05:56 PM

Please respond to
[email protected]

To
[email protected]
cc
Subject
[Dharmajala] Diskusi beberapa topik menarik Vinaya





Diskusi Tentang Vinaya

Belakangan ini saya sedang menterjemahkan buku Vinayamukha (The
Entrance to the Vinaya) karya Somdetch Phra Maha Samana Chao Krom
Phraya Vajirananavarorasa. Ada beberapa hal dan pertanyaan menarik
yang ingin saya diskusikan di sini.

1.Mengapa seorang yang rusak alat kelamin laki-lakinya tidak boleh
bergabung dengan Sangha?

Ada lima hal wajib (sampatti) yang harus dipenuhi bila seseorang
hendak bergabung dengan Sangha:

(1) Orang yang berhasrat untuk menerima upasampada haruslah pria.

(2) Ia harus mencapai usia 20 tahun sebagaimana yang disyaratkan,
dimana usia ini dihitung semenjak mulainya pembuahan (dengan
menganggap bahwa janin berada dalam kandungan ibunya selama 6 bulan
menurut penanggalan lunar).

(3) Tubuh orang itu hendaknya mencerminkan seorang pria yang
sempurna. Seorang kasim dengan demikian tidak diizinkan menjadi
bhikkhu. Selain itu, organ-organ tubuh lainnya harus sempurna dan
lengkap. Inilah yang dimaksud dengan terbebas dari kecacatan.

(4) Ia hendaknya tidak pernah melakukan kejahatan-kejahatan sangat
berat, seperti membunuh ibu, membunuh ayah, dan lain sebagainya.

(5) Ia hendaknya tidak pernah melakukan pelanggaran-pelanggaran yang
dianggap berat oleh Buddhasasana, seperti melanggar aturan-aturan
parajika sebelum ditahbiskan sebagai bhikkhu. Atau, kendati ia
sebelumnya pernah menjadi bhikkhu, tetapi memiliki pandangan salah
dan menganut keyakinan lainnya.

Marilah kita ulas butir yang ketiga saja. Berdasarkan butir ketiga
tersebut seseorang yang rusak organ kelamin prianya tidak dapat
bergabung menjadi bhikkhu. Ini adalah suatu syarat yang tidak dapat
ditawar-tawar lagi, dan bila ternyata orang semacam itu telanjur
diupasampadakan sebagai bhikkhu, maka ia harus diusir dari sangha.
Terus terang, timbul pertanyaan dalam diri saya mengenai makna dari
butir aturan tersebut. Jika memang benar bahwa seorang samana tidak
menikah, apakah perlunya lagi organ kelamin pria? Saya masih belum
menemukan jawaban masuk akal bagi hal ini. Sudilah kiranya rekan-
rekan sekalian membantu memberikan jawabannya.

2.Sacittaka dan Acittaka

Sacittaka berarti pelanggaran (apatti) yang dilakukan di bawah
kesadaran dan dengan disertai niat sebelumnya. Sebaliknya acittaka
adalah pelanggaran yang tidak disertai niat sebelumnya. Barangkali
timbul pertanyaan, apakah adil jika seorang melakukan kesalahan tanpa
disertai niat sebelumnya dapat dianggap sebagai pelanggaran yang
layak dijatuhi sanksi? Buku tersebut membandingkannya dengan
pengadilan duniawi yang juga menjatuhkan hukuman bagi suatu kesalahan
kendati orang itu melakukannya tanpa sengaja. Contohnya adalah
melanggar lampu lalu lintas. Meskipun kita mengatakan bahwa kita
tidak sengaja melakukannya di hadapan polisi, tetap saja kita akan
ditilang. Baik, penjelasan ini untuk sementara kita anggap masuk akal.
Kini kita akan mendiskusikan Pacittiya 51 mengenai minum minuman
keras. Butir aturan tersebut merupakan acittaka, jadi baik disengaja
maupun tidak disengaja bila seorang bhikkhu minum minuman keras ia
dianggap telah melakukan pelanggaran. Timbul beberapa pertanyaan
dalam diri saya. Berdasarkan aturan tersebut, logikanya, bila seorang
bhikkhu tanpa sengaja minum air yang telah ditetesi oleh minuman
keras walau setitik saja tanpa sepengetahuannya, maka ia telah
dianggap melakukan pelanggaran. Jika demikian halnya, seseorang yang
benci kepada seorang bhikkhu dapat saja mencampuri minuman seorang
bhikkhu dengan setitik minuman keras untuk mempermalukannya. Apakah
adil bila itu dianggap sebagai pelanggaran? Inilah pertanyaan yang
hendak kita diskusikan. Saya telah berusaha merenungkan jawaban bagi
pertanyaan tersebut dan inilah hasilnya: Vinaya dimaksudkan untuk
memperbaiki perilaku seorang bhikkhu dan meningkatkan kualitasnya.
Jadi aturan pacittiya mengenai minuman keras di atas dimaksudkan agar
seorang pelanggar Vinaya tidak mencari celah untuk lolos dari sanksi
dengan mengatakan bahwa pelanggarannya itu "tidak disengaja." Mudah
saja mengatakan, "Saya tidak sengaja meminum minuman keras itu."
Padahal ia memang sengaja meminumnya. Ini dapat diumpamakan dengan
kita saat ditangkap polisi karena melanggar lampu atau tanda lalu
lintas. Kita akan mengatakan bahwa itu semua terjadi di luar
kesengajaan kita, padahal kita memang sebelumnya telah memiliki niat
melanggarnya. Hukum memang sengaja dibuat tanpa pandang bulu demi
menjerat orang yang sengaja melanggarnya. Jadi sengaja atau tidak
disengaja, Anda tetap harus mendapatkan sanksi. Inilah sisi positif
hukum, karena tidak mudah mengetahui apakah seseorang benar-benar
sengaja atau tidak sengaja, selain dirinya sendiri. Tetapi masih
tersisa pertanyaan, apakah ini adil bagi orang yang BENAR-BENAR tidak
sengaja. Sepintas memang terkesan tidak adil, karena orang itu
sesungguhnya tidak berniat melakukan pelanggaran. Meskipun demikian,
bila kita merenungkan kembali, benar-benar susah menciptakan suatu
hukum yang adil sepenuhnya. Saya menyimpulkan bahwa Vinaya juga bukan
suatu "hukum" yang 100 % adil dan benar. Hidup ini memang bersifat
dukkha, jadi tidak ada sesuatupun yang 100 % memuaskan. Jika aturan
pacittiya di atas ditambahkan kalimat "hanya bagi yang sengaja
meminumnya," maka akan banyak orang yang terdorong untuk mencicipi
minuman keras dan setelah itu mengatakan, "Wah saya tidak sengaja
meminumnya. Saya tidak tahu kalau itu adalah minuman keras."
Komunitas bhikkhu akan menjadi rusak karenanya. Sekali lagi, tidak
aturan yang dapat dijadikan solusi sempurna bagi segala sesuatu. Oleh
karena itu, seseorang juga hendaknya tidak terlalu melekat pada
Vinaya. Demikianlah hasil pemikiran saya. Kendati demikian, saya
masih belum puas dengan hasil pemikiran tersebut, sehingga memohon
kesediaan rekan-rekan sekalian untuk berbagi wawasan mengenai hal
tersebut.
Pertanyaan berikutnya adalah mengenai Pacittiya 66 dan 67. Pacittiya
ke-66 menyebutkan bahwa bila seorang bhikkhu dengan sadar pergi
dengan serombongan pencuri, maka ia telah melakukan pelanggaran.
Sebaliknya, Pacittiya ke-67 mengatakan bahwa jika seorang bhikkhu
dengan tanpa kesadaran dan sepengetahuannya telah pergi dengan
serombongan wanita, maka ia dianggap telah melakukan pelanggaran.
Jadi Pacittiya ke-66 dianggap sebagai suatu sacittaka, sedangkan yang
ke-67 dianggap sebagai suatu acittaka. Pertanyaan saya adalah mengapa
wanita dianggap memiliki "potensi merusak" yang lebih kuat
dibandingkan dengan pencuri? Mengapa tidak semuanya digolongkan
sebagai acittaka saja? Ini pertanyaan yang belum terpecahkan.
Sebenarnya, jika semua butir aturan dijadikan acittaka, maka hal ini
memiliki nilai yang lebih positif, karena seorang bhikkhu akan lebih
berhati-hati dalam hidup kesehariannya. Tetapi perlu dipertanyakan
pula apakah sikap hati-hati dalam setiap aspek ini benar-benar
bermanfaat bagi perkembangan spiritual? Apakah ini tidak akan
menjadikan seseorang menjadi merosot mementingkan hal-hal lahiriah
saja?

3. Rangkuman pertanyaan

Jadi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab adalah:

1. Mengenai rusaknya organ kelamin pria dan izin bergabung dengan
Sangha.
2. Perbedaan antara Pacittiya ke-66 dan 67.

Terlepas dari semua itu, sebagai penutup akan saya kutipkan pula apa
yang telah dikemukakan oleh Yang Arya Vajirananavarorasa sebagai
berikut:

Para bhikkhu yang hendak mengikuti aturan dengan ketat, namun tanpa
pemahaman yang baik terhadap Vinaya, akan menjalankannya secara
membuta. Mereka kini hidup pada zaman dan negeri yang berbeda,
sehingga pastilah akan mengalami kesulitan dalam mempraktekkan Vinaya
tersebut secara membuta atau terlampau melekat pada tradisi-tradisi
kuno yang dipegang para bhikkhu di zaman dahulu - yang sesungguhnya
tidak mencerminkan sesuatu yang benar-benar penting. Akibat kekakuan
tersebut, Vinaya tidak akan memberikan banyak manfaat bagi mereka,
selain berbagai permasalahan yang akan timbul. Barangsiapa yang
mempraktekkan Vinaya tanpa disertai kesadaran mendalam serta
kebijaksanaan, akan menjadi arogan dan berpikir bahwa mereka
menjalankan Vinaya lebih ketat dibandingkan lainnya. Mereka mencerca
bhikkhu lainnya lebih buruk dalam hal pelaksanaan Vinaya ketimbang
mereka. In imerupakan tindakan tak terpuji, karena akan membangkitkan
kejijikan bhikkhu lainnya terhadap kesombongan mereka, sehingga
bhikkhu yang berpandangan salah tersebut akan menuai permasalahan
bagi dirinya sendiri. (The Entrance to the Vinaya halaman 19)

Semoga dapat menjadi topik diskusi yang menarik.

Metta,


Tan
30 April 2006







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
   http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
   [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
   http://docs.yahoo.com/info/terms/






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke