Dear all,

Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.

Berturut-turut bencana demi bencana mendera tanah air kita.

Entah sudah berapa banyak jeritan dan ratap tangis, serta lolongan histeris yang berkumandang membelah hiruk pikuk negeri ini.

Jumlah korban yg tewas akibat gempa bumi di Jogja kian bertambah. Tadi saya terima sebuah sms yang berbunyi:

"Senin sy sd srhk obat + susu biskuit. Jam 11 mlm sy br plg dr ds piyungan terpencil diatas gng patuk bantul. Tinggi 700 m. Mrk benar2 blm dpt sembako, pasar rmh rata dg tanah. Tdr desakan di tenda darurt mlm hujan trs, anak balita. List mati. Sy nangis lht derita mrk. Hr ini sy usaha bw beras 3 ton, mie minyak bumbu dapur tenda mkn anak susu bayi. (bambang LPUB)."

Teruslah salurkan bantuan anda. Mereka membutuhkannya.

Bersama telah kita saksikan betapa dahsyatnya alam, Hanya batuk kecil saja sudah dapat menimbulkan kerusakan yg sedemikian besar.

Kita harap semoga gempa di Jogja akan menjadi bencana terakhir untuk negeri tercinta ini. Tapi, kita jg tahu bahwa harapan itu hanyalah sekadar harapan. Bagaikan punguk yang merindukan bulan.

Fakta dan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ke depan akan lebih banyak lagi bencana alam yg  menerpa negeri ini, dunia ini. Jika kita masing-masing tidak langsung melakukan sesuatu, bencana2 yg lebih besar akan berdatangan menghantam kita. Lihatlah betapa parahnya kerusakan yg telah kita timbulkan pada alam. Kita lupa bahwa sesungguhnya kita sedang merusak tubuh kita sendiri.

Atas dasar keprihatinan inilah saya hendak berbagi notulen meeting informal yg kami lakukan pada tanggal 20 Mei lalu. Semoga informasi yg ada dapat memunculkan lebih banyak kepedulian di lingkungan umat Buddha, memunculkan lebih banyak aktivis Buddhis yg siap untuk membantu meringankan derita panjang negeri tercinta ini.

Semoga bermanfaat.

Salam Perjuangan

JL

(Sugatadasa)
=============
Hari sabtu tgl 20 Mei 2006 lalu, kami adakan meeting informal Dharmajala di Wisma Patra.
Ketika saya tiba sekitar pukul 09.00, sudah cukup banyak juga saudara-saudari kita yg berkumpul. Teman-teman lain menyusul datang satu per satu.
Setelah menanyakan siapa saja yg mau kopi, segera saya masuk dapur untuk masak air dan menyiapkan kopi untuk diri sendiri dan beberapa kawan. Sambil menyiapkan kopi di dapur, saya berbincang sejenak dengan Biksuni Xian An yg baru saja pulang ke Patra. Dari beliau saya tahu air PAM di Patra mati hari itu.
Acara resmi dibuka oleh Bro Richard dengan pembukaan ala KPD tepat pukul 09.30. Sebelum memulai acara, saya minta waktu untuk mengumumkan masalah air tersebut dan minta agar WC di belakang saja yg digunakan untuk keperluan buang air kecil dan seusai acara baru disiram. Tanpa dikomando, Ben Phusa langsung bawa galon dan pergi ambil air ke Ekayana untuk keperluan tersebut.  Bravo Bro Ben! Sikap tanggap, peduli, dan  siap melayani seperti inilah yg harus menjadi landasan dasar di Dharmajala. Saya bilang ke teman2 bahwa matinya air PAM sangat mendukung acara kita hari itu yg memang menitikberatkan pada sharing perjalanan saya ke Taiwan yg berkaitan dengan masalah air dan proyek pelestarian lingkungan hidup, serta gerak Dharmajala ke depan.
Satu per satu peserta memperkenalkan diri.  Selesai acara perkenalan, langsung diikuti dengan diskusi antarpeserta. Diskusi berlangsung menarik. Yg jelas diskusi berakhir dengan baik dan rasanya semua pihak merasa legowo.
Pukul 10.30. Acara selanjutnya diserahkan kepada saya. Terlebih dahulu saya menetapkan format acara dengan floor. Disepakati sharing terlebih dulu, lalu diskusi, dan  berakhir pukul 15.00 yg kemudian diperpanjang menjadi jam 16.00.
Saya share perjalanan saya dengan menampilkan foto2 dan diikuti dengan menunjukkan powerpoint makalah dari Prof. Paul Brunner, Prof Harold Glasser, Presentasi dari Bodhicitta Mandala, dan makalah Prof. Yoko M. Kemudian diikuti dengan pemutaran film tentang Taomi Ecovillage. Tidak mengalirnya air PAM sangat membantu saya menyampaikan salah satu esensi permasalahan kita yaitu sumber daya alam adalah terbatas dan kita perlu mengubah asumsi lama kita bahwa sumber daya alam tidak terbatas.      
Inti dari makalah2 tersebut adalah:
Tidak seperti asumsi2 yg tanpa kita sadari kita cengkram erat2 dan jadikan pandangan kita, sumber daya dan sistem penunjang kehidupan dari Bumi kita ini adalah terbatas. Sebut saja tiga hal yang paling pokok yaitu:
 
  1. Oksigen
  2. Air yg dapat diminum
  3. Tanah yang dapat digarap untuk memproduksi makanan.
 
Dari makalah Prof Brunner diperlihatkan gambar bumi yg sebesar bola basket berbanding dengan oksigen yg tersedia yg besarnya Cuma sebola pingpong, air yg dapat diminum yg besarnya cuma sekelereng, dan lahan untuk memproduksi makanan yg sebesar cuma satu titik coretan dari boardmarker yg biasa dipakai untuk menulis di papan tulis. Dari perbandingan itu bisa kita lihat betapa sedikitnya jumlah oksigen, air minum, dan lahan yg dapat digarap yg tersedia untuk menunjang keberlangsungan manusia beserta spesies2 lainnya. Mayoritas penduduk bumi ini tidak tahu akan hal ini, tapi celakanya, meskipun sudah tahu, banyak juga orang yang tidak memedulikan hal itu dan perusakan yg gila-gilaan terus saja terjadi. Jadi, tahu adalah satu hal, melakukan adalah persoalan lain. Kesenjangan antara kondisi ideal yg mau dituju dengan realita di lapangan merupakan salah satu PR terbesar yg harus diatasi pihak-pihak terkait dan hal ini pula yg menjadi makalah dari Prof Harold Glasser yg menawarkan satu pendekatan pedagogi yg memadukan hati dan kepala karena kecenderungan pendidikan mainstream yg berasal dari Barat memang lebih menekankan kepala. Dan masalah yg ditimbulkan sudah mulai disadari makanya mulai bermunculan berbagai macam pendekatan alternatif yg lebih memadukan hati dan kepala. Sebenarnya yg kita lakukan di Dharmajala adalah memadukan hati, kepala, dan tubuh dengan berlandaskan pada latihan kesadaran. Dan utk meramu program seperti ini jelas sangat tidak mudah terutama jika dilakukan dengan segala keterbatasan yg ada sekarang (jumlah orang yg meramu, tingkat pengetahuan, skills, dan pengalaman orang tersebut, dan segudang keterbatasan lainnya. Makanya dibutuhkan waktu yg lama sekali  utk meramunya. Yg paling lama adalah membentuk team yg kompeten dan berkomitmen untuk melakukannya. Kapan akan terbentuk team ini? Saya tidak tahu. Sama sekali tidak tahu. Siapa saja orang2 yg kompeten dan berkomitmen yg akan datang bergabung dengan  kita? Sama sekali tidak tahu. Bisa 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, atau bahkan lebih lama lagi. Tapi kalau kita andalkan saudara-saudari yg sudah berkumpul, jika kita semua yg kumpul pada hari itu pada rajin latihan dan menempa diri, mungkin 5 s/d 10 tahun lagi sudah terbentuk team itu. Semoga.)
Eniwei, kembali ke persoalan terbatasnya sumber daya alam dan semakin rusaknya sistem penunjang kehidupan Bumi, makalah presentasi dari Bodhicitta Mandala adalah mengenai kondisi air di Indonesia (100 juta orang tidak mendapat akses air bersih, dsbnya) serta laju penggundulan hutan yg sedang terjadi (1 menit seluas 6 lapangan sepakbola). Jika laju penggundulan itu dibiarkan terus, mungkin dalam tempo 10 tahun seluruh hutan Indonesia sudah gundul. Dan bisa dibayangkan akibatnya terhadap Indonesia dan dunia. Indonesai adalah negara hutan hujan terbesar di dunia. Indonesia dan Brazil adalah paru2 dunia. Akhirnya Indonesia bisa juga ya satu grup dengan Brazil...hehehe...walaupun bukan dalam grup sepakbola tapi grup yg lebih signifikan lagi, grup yg menentukan keberlanjutan sistem penunjang kehidupan bumi ini dan survival semua spesies.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai upaya dari yang untuk menahan laju perusakan lingkungan hingga ke yg memperbaiki lingkungan mulai muncul di mana-mana terutama di negara-negara maju. Tapi berbagai upaya menangani masalah udara, air, lahan garapan, masalah2 lingkungan lainnya jelas tidak mudah, sangat-sangat-sangat-sangat tidak mudah. Banyak sekali faktor yg terlibat di sana. Luar biasa kompleksnya. Tapi faktor yg paling utama adalah faktor ekonomi. Sistem perekonomian yg hanya memakmurkan segelintir orang serta semakin memiskinkan mayoritas penduduk bumi ini jelas bukanlah suatu sistem ekonomi yang sustainable, yg berkelanjutan. Maka dari itu, muncullah upaya2 untuk menghasilkan pembangunan yg berkelanjutan atau Sustainable Development. Dan betapa seriusnya permasalahan yg ada bisa dilihat dari upaya pemerintah Jepang dalam mensponsori dan melobi PBB untuk menetapkan  UN Decade of Education for Sustainable Development (2005-2014) dan menjadi motor utama untuk mengembangkan Regional Centres of Expertise on Education for Sustainable.  Demikianlah paparan yang disampaikan Prof Yoko Mochizuki dalam makalahnya ”Development UN Decade of Education for Sustainable Development (2005-2014):
Regional Centres of Expertise on Education for Sustainable Development in
Japan.”
Setelah melihat makalah2 yg ditampilkan melalui powerpoint, acara berlanjut ke pemutaran VCD tentang Taomi Ecovillage. Film ini merupakan contoh nyata dari bagaimana perjuangan Yayasan New Homeland (sebuah kelompok aktivis yg terdiri dari 6 orang saja) menggunakan idealisme, pengetahuan, dan keterampilan mereka untuk membantu penduduk desa Taomi bangkit dan mengubah desa tradisional mereka yg diluluhlantakkan gempa  bumi pada tahun 1999 menjadi salah satu Ecovillage terbaik Taiwan yang ramai dikunjungi wisatawan dan pelajar dalam tempo 5 tahun. Tentu saja, untuk sampai pada Ecovillage yang sepenuhnya masih dibutuhkan waktu sekitar 30 tahunan lagi. Dari film itu kita bisa menyaksikan bagaimana mereka mengajak penduduk desa untuk mengubah paradigma tradisional mereka menjadi paradigma ekologi yg berkelanjutan. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 2 tahun lebih.
Kita melihat bagaimana pertama-tama mereka melakukan kegiatan lapangan yg melibatkan warga untuk membangkitkan kesadaran. Meskipun  warga yg ikut dalam kegiatan itu tidak banyak tapi hasilnya cukup memuaskan. Lalu kita melihat bagaimana mereka mendatangkan para ahli yg kemudian mengajak warga untuk mendata lingkungan mereka. Mereka mendata pepohonan, berbagai macam spesies binatang seperti kodok, capung, dsbnya. Setelah data terkumpul. Mulailah mereka mendidik warga dengan menyelenggarakan pelatihan malam dan hari libur. Warga yg ikut pelatihan ini tidak mengenal usia.
Kita melihat bagaimana para lansia dengan tekun dan bersemangat belajar mengenai ekologi dan berbagai hal lainnya. Bayangkan tingkatan kesulitan yg harus mereka lalui bersama dalam proses ini. Baik pihak New Homeland maupun penduduk desa Taomi. Bagaimana orang2 yg tidak punya paradigma ekologi dan sama sekali tidak menghargai kehidupan desa mereka sendiri kemudian duduk belajar mengenai ekologi, kodok, dsbnya di tengah kegamangan akan penghidupan mereka di kemudian hari. Di tengah-tengah pengangguran dan tidak adanya penghasilan. Dan belajarnya bukan sehari dua hari, bukan sekali dua kali, tapi terus menerus selama bulanan dan tahunan.
Setelah warga sudah ada paradigma ekologi, mereka kemudian digerakkan untuk membangun infrastruktur. Bersama mereka mulai menata desa tradisional itu hingga memunculkan lanskap dan fasilitas bernuansa Ecovillage lengkap dengan boarding  house dan restorannya. Jadilah desa Taomi sebagai desa tujuan wisata dan tempat belajar. Dan tentu saja, ini membutuhkan jasa para pemandu wisata yg memang sudah dipersiapkan sejak awal yaitu dari para warga yg sebelumnya telah mengikuti pelatihan yg panjang itu. Penghasilan warga meningkat drastis dari tahun ke tahun. Tahapan awal sudah mereka lalui. Kini mereka memasuki tahapan selanjutnya. Film itu dibuat pada tahun  2004 dan saya berkunjung pada bulan Mei tahun 2006. Sudah lebih banyak kemajuan dibandingkan yg terlihat di film itu. Eniwei, saya pikir film ini sangat tepat sekali untuk menggambarkan proses yg sedang dan harus dilalui di Dharmajala. Semoga anda sekalian dapat bertahan melalui proses ini, terutama di tahapan yg paling sulit yaitu tahapan awal yaitu sekarang.  
Ohya, kita lunch sambil nonton untuk menghemat waktu. Begitu film selesai, kita langsung masuk ke diskusi. Sebelumnya ditentukan dulu bahwa acara selesai pukul 16.00. Beberapa teman minta ijin untuk pamit pada jam 15.00. Setelah acara resmi ditutup, team management terus berdiskusi hingga pukul 19.30. Total yg hadir adalah 33 orang. Demikian kata Bro Ben saat saya tanya keesokan harinya.


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke