Kompas, Senin, 05 Juni 2006
Revolusi Lahan di Bolivia

Morales Maju Terus meski Ditentang Penguasa Lahan
santa cruz, sabtu - Presiden Bolivia Evo Morales meneruskan langkah besarnya untuk mewujudkan janjinya memperkecil jurang kemiskinan di Bolivia. Sabtu (3/6), Morales memulai langkah awal "revolusi lahan" menuju penyerahan seperlima lahan negara kepada petani-petani miskin di Bolivia.
"Kita ingin mengubah Bolivia bersama-sama. Mendapatkan kembali lahan berarti kita mendapatkan kembali seluruh sumber daya alam, kita menasionalisasikan seluruh sumber daya alam," ujarnya kepada ribuan warga Indian yang berkumpul untuk mendapatkan hak mereka atas tanah di kota Santa Cruz, wilayah timur Bolivia.
Revolusi lahan itu dilakukan Morales hanya sehari setelah pembicaraan dengan para penguasa lahan yang marah dengan kebijakan redistribusi lahan itu. Para penguasa lahan itu bertekad akan membentuk kelompok-kelompok pembelaan diri untuk melindungi lahan-lahan mereka.
Beberapa minggu sebelumnya, Presiden Bolivia, yang berasal dari suku asli negeri itu, mengumumkan nasionalisasi industri gas alam dan memberikan kesempatan selama enam bulan kepada perusahaan-perusahaan milik asing untuk menegosiasikan kontrak baru dengan pemerintah atau pergi dari Bolivia.
Morales memilih kota Santa Cruz yang merupakan pusat kekuatan para penguasa lahan, sekaligus jantung wilayah pertanian Bolivia. "Musuh-musuh historis rakyat miskin harus menerima revolusi lahan ini," ujarnya.
Lahan seluas 3,1 juta hektar diserahkan kepada sekitar 60 kelompok masyarakat Indian di wilayah timur Bolivia itu.
Kebijakan redistribusi lahan di Bolivia tersebut sebenarnya sudah diumumkan pada 1 Mei lalu, bersamaan dengan pengumuman nasionalisasi industri perminyakan di negara termiskin di Amerika Selatan itu.
Lahan tidak produktif
Morales sebelumnya telah berbicara dengan para pemimpin pengusaha agrobisnis. Namun, pembicaraan itu tak menghasilkan kesepakatan.
Pemerintah Bolivia di bawah Morales menargetkan akan mendistribusikan lahan publik seluas 200.000 kilometer persegi dalam lima tahun. Pemerintah juga tengah mempelajari redistribusi lahan-lahan pribadi yang tidak produktif, diperoleh secara ilegal, atau digunakan untuk spekulasi.
Alejandro Almaraz, Wakil Menteri Pertanahan Bolivia, menjelaskan, pemerintah akan memastikan pengelolaan lahan yang berkelanjutan dan tidak ada hutan ataupun kawasan lindung yang akan disentuh.
"Lahan-lahan ini secara hukum tidak bermasalah. Dan kami yakin, tidak benar jika ada upaya menghentikan langkah ini, ketika hal itu akan membantu banyak rakyat miskin yang telah lama menunggu dan membutuhkan lahan untuk meningkatkan hidup mereka," kata Almaraz.
Lahan-lahan pemerintah telah ditetapkan menjadi target untuk dibagikan sebelum Morales diangkat sebagai presiden pada Januari lalu. Sejauh ini, tak ada dari lahan yang dibagikan itu yang merupakan pengambilalihan dari pemilik lahan besar.
Berbeda dengan program nasionalisasi migas yang menimbulkan kekhawatiran banyak investor asing dan Pemerintah AS, tetapi tak menimbulkan kritikan luas di dalam negeri, program redistribusi lahan ini menimbulkan garis pertentangan yang nyata di Bolivia.
Gereja Katolik Roma di negara itu memperkirakan beberapa keluarga berkuasa menguasai 90 persen dari seluruh lahan pertanian, sementara tiga juta petani miskin berbagi sisanya.
Jose Cespedes, pemimpin kelompok petani kaya di Santa Cruz, kepada sebuah televisi lokal, Jumat (2/6), mengatakan, para pemilik lahan akan membentuk sebuah komite untuk mempertahankan hak milik mereka di wilayah itu, yang merupakan pusat peternakan sapi dan ladang kedelai di Bolivia.
"Jika hukum pertanahan tidak membela kami, kami punya hak untuk mencari mekanisme pertahanan sendiri," ungkapnya.
Cespedes tak mengatakan apakah kelompoknya akan dipersenjatai. Akan tetapi, pejabat-pejabat pemerintah sebelumnya menegaskan, mereka tak akan menoleransi "kelompok jahat".
Kelompok penentang Morales menuduh dia telah melakukan kampanye terselubung sebelum pelaksanaan pemilihan umum bagi Dewan Konstituen yang akan berlangsung bulan depan.
Jumat lalu, tujuh federasi bisnis terkemuka Bolivia mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan prospek masa depan lebih baik bagi Bolivia terancam oleh tindakan-tindakan yang didasarkan ideologi, politik, dan pengaruh asing. Akan tetapi, Pemerintah Bolivia, Sabtu, membalasnya dengan mengatakan para pemimpin bisnis itu sebagai "pengkhianat". (AP/Reuters/OKI)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke