hari lingkungan
Mari Kita Berkaca pada Kasus Jakarta
Secara internasional, Hari Lingkungan Sedunia tanggal 5 Juni 2006 diperingati dengan tema "Gurun dan Penggurunan", sedangkan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup mengambil tema nasional "Cegah Bencana Lingkungan".
Pada saat hampir bersamaan, di Bandung juga ramai berita terkait persoalan lingkungan, yakni menyangkut tempat pembuangan sampah akhir. Sementara di Tangerang, Banten, ribuan hektar pantai akan direklamasi demi kawasan wisata. Di Jakarta, krisis air bersih hingga kini masih menyita perhatian dua kota.
Persoalan krisis air bersih di Jakarta muncul seiring kebijakan PDAM Tangerang yang
mengurangi pasokan air bersih curah ke Jakarta hingga 28 persen dari total 2.800 liter per detik. Dampaknya, penyaluran air bersih kepada sekitar 40.000 pelanggan atau setara dengan 200.000 jiwa pun macet!
Akar persoalannya, PDAM DKI Jakarta tidak memenuhi permintaan kenaikan harga air bersih per meter kubik dari PDAM Tangerang sebesar Rp 1.650; dari harga semula Rp 1.345 per meter kubik. Mereka hanya sanggup membeli Rp 1.550 per meter kubiknya.
Mengingat sensitifnya isu air bersih, yang termasuk salah satu kebutuhan dasar manusiaseperti disebutkan badan regulator pelayanan air minum DKI Jakartakasus tersebut langsung ditangani dua menteri.
Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Kosasih Wirahadikusumah, tarik-menarik ketetapan harga air bersih sekaligus menunjukkan bahwa DKI sebenarnya tidak memiliki kendali atau kontrol atas air baku air minum. Seperti diketahui, 70-80 persen air baku untuk air minum di Jakarta dipasok dari luar Jakarta.
Hingga tahun 2005, air baku air minum yang diolah dan disalurkan oleh dua mitra asing PDAM Jakarta, PT Thames Pam Jaya dan PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja), baru mencukupi sekitar 54 persen dari total keseluruhan kebutuhan sekitar 547,5 juta meter kubik per tahun. Untuk mencukupi kebutuhan dasar air bersih, warga
Jakarta mau tidak mau mengandalkan ketersediaan air bawah tanah yang disedot hampir (atau lebih) separuh penduduknya. Sebagian lain, membeli air bersih dalam jeriken-jeriken yang dijual keliling seperti di kawasan Jakarta Utara.
Defisit
Data BPLHD DKI Jakarta menunjukkan, penyedotan beramai-ramai air bawah tanahbaik legal maupun ilegal telah sampai pada tahap "defisit". Sesuai ketentuan, batas aman penyedotan air bawah tanah adalah 20-30 persen dari potensi keseluruhannya yang mencapai 532 juta meter kubik per tahun.
Di Jakarta, penyedotan air bawah tanah tahun 2005 diperkirakan mencapai 251,8 juta meter kubik. Perkiraan ini belum termasuk air bawah tanah yang disedot untuk proyek pembangunan dan industri.
Adapun hitungan batas aman penyedotan air bawah tanah di Jakarta sekitar 186,2 juta meter kubik saja. Artinya, analisa keseluruhan pada tahun 2005 menunjukkan adanya "defisit" air bawah tanah sebesar 66,6 juta meter kubik (sekali lagi belum termasuk eksploitasi air bawah tanah untuk proyek pembangunan dan industri, yang berjumlah besar).
Penyedotan berlebihan itu diakui hampir tak mungkin diatasi, selama jangkauan layanan air bersih PDAM masih seperti sekarang. Sementara ketersediaan air bawah tanah bukan tak terbatas.
Di sisi lain, kemampuan akuifer-akuifer mengisi ketersediaan air tanah secara alami tidak maksimal seiring degradasi lahan tangkapan air. Area-area tangkapan air dan jalur hijau justru diubah menjadi perumahan, apartemen, hotel, dan gedung-gedung perkantoran dengan beton-beton bertulang.
Akibatnya, lebih dari 70 persen air hujan yang mengguyur Kota Jakarta langsung mengalir ke laut. Hanya sekitar 26 persen yang terserap ke tanah menjadi air bawah
tanah.
Mengacu pada rasio pelayanan kebutuhan air yang tertuang dalam Rencana Induk PDAM, penyedotan berlebihan air bawah tanah di Jakarta dipastikan masih berkepanjangan. Tahun 2007 misalnya, jangkauan layanan air bersih ditargetkan mencakup 57,9 persen dari estimasi jumlah penduduk 8,7 juta jiwa. Tahun 2012, jangkauan layanan air bersih ditargetkan 69,4 persen dari jumlah penduduk yang diperkirakan menjadi 9,1 juta jiwa. Tahun 2022 (atau masa akhir kontrak mitra asing), ditargetkan 79 persen.
Target-target tersebut dinilai sangat tidak akurat. Misalnya target 79 persen cakupan layanan pada tahun 2022, yang ditetapkan pada estimasi jumlah penduduk
Jakarta sekitar 10,2 juta jiwa. Saat ini saja jumlah penduduk Jakarta pada malam hari sudah pada kisaran 10 juta. Itu pun diyakini lebih kecil daripada kenyataan sesungguhnya.
"Kesimpulannya, Jakarta telah mengalami krisis air minum sejak lama tetapi tidak memiliki kendali atas air saat ia berupa air minum," kata Kosasih.
Belum cukup pada soal "defisit", kesehatan konsumen air bawah tanah di Jakarta terancam serius. Sebagian besar air bawah tanah di lima kotamadya Jakarta tercemar bakteri E colli dalam kadar tinggi. Begitu pula kadar deterjennya.
Kondisi air sungai sepanjang tahun 2005 setali tiga uang. Sebesar 77 persen tercemar berat, 18 persen tercemar sedang, dan hanya 5 persen yang tercemar ringan.
Tercemar berat
Pencemaran berat yang terjadi di sungai di antaranya dapat dilihat dari ketidakmampuan berbagai jenis ikan konsumsi bertahan hidup, kecuali ikan jenis sapu-sapu. Ikan itulah yang selalu tertangkap para penjala ikan atau pemancing.
Sementara itu, hasil pemantauan BPLHD tahun 2005 menunjukkan, lebih dari separuh air bawah tanah di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat masuk dalam kategori tercemar berat. Adapun di Jakarta Utara, hampir 50 persennya tercemar berat.
Secara keseluruhan, persentase pencemaran bakteri E colli pada air bawah tanah di wilayah Ibu Kota mencapai 85 persennya. Dan, untuk sementara ini jumlah itu masih akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Kondisi di atas di antaranya disebabkan ketiadaan sistem drainase yang baik sejak zaman Belanda. Akibatnya, hanya 20-30 persen air limbah
domestik yang diolah, 70-80 persen lainnya merembes begitu saja ke dalam tanah atau langsung dibuang ke aliran sungai.
Dampak lingkungan
Ancaman menyusul krisis air bersih seperti di Jakarta sebenarnya tidak sebatas pada kesehatan warga. Disadari atau tidak, setiap tahun permukaan tanah di Jakarta turun sedikit demi sedikit, yang hingga saat ini diperkirakan mencapai luasan 40 persen. Percepatan terjadi seiring beban bangunan.
Penyedotan besar-besaran air bawah tanah juga menyebabkan percepatan intrusi air laut ke arah daratan. Kalau ini terus terjadi, suatu saat air tanah pun akan menjadi barang mewah.
Selain itu, intrusi air laut yang semakin ke arah kota juga mengancam struktur fondasi bangunan tinggi sehingga makin rapuh. Belum ada penelitian jelas mengenai jarak jangkau intrusi di Jakarta.
Melimpahnya limbah domestik dan industri yang mengandung unsur fosfat di 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, di antaranya menyebabkan terjadinya ledakan alga atau sering juga disebut pasang merah. "Ritual" tahunan itu menyebabkan ribuan atau bahkan mungkin jutaan ekor ikan laut mati.
Berbagai kondisi tersebut hingga detik ini masih terjadi. Berbagai upaya yang telah dilakukan seperti tiada hasil akhir. Aktivitas yang terasa menonjol justru lahan terbuka hijau terus dibabat, dan para kontraktor berlomba-lomba membangun gedung-gedung mentereng yang menjulang tinggi.
Itu pun belum
cukup. Pantai utara Jakarta, dengan segala daya direklamasi. Sementara ancaman nyata seperti krisis air bersih dan rantai dampak ikutannya tak juga diaplikasikan solusinya.
Dari contoh "kecil" ini, mungkinkah bencana lingkungan bisa dihindari? Entahlah, kita tampaknya cuma bisa menunggu!
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___