Jangan Membangun jika Hanya Memiskinkan Indikator Tak Menggembirakan Jakarta, Kompas - Bangsa dan elite politik jangan mengejar pembangunan jika hanya menghasilkan kemiskinan. Jika pembangunan nasional itu tidak mengurangi penganggur dan tidak mampu menaikkan keunggulan daya saing
penduduk, maka pembangunan perlu koreksi ulang. Kalau itu yang terjadi, maka keinginan untuk memajukan bangsa Indonesia ini tidak akan berhasil, demikian disampaikan Emil Salim dalam dialog Tokoh Muda Indonesia Menanggapi Tantangan Masa Depan di Jakarta, Rabu (7/6). Dialog antara lain dihadiri sejumlah tokoh muda seperti Budiman Sudjatmiko (PDI-P), Alfan Alfian (Direktur Eksekutif Akbar Tandjung Institute), Sukardi Rinakit (Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicated), Najamuddin Ramli (Pemuda Muhammadiyah). Dalam dialog dihadirkan Direktur Riset the Indonesian Institute Anies Baswedan sebagai pembicara. Indikator Emil memaparkan sejumlah indikator pembangunan yang tidak
menggembirakan bagi Indonesia. Seperti, jumlah pengangguran terbuka secara nasional masih 10,6 persen dan yang hanya bekerja kurang dari 35 jam per minggu masih 35,2 persen. Adapun kondisi tenaga kerja sebagian besar bekerja di sektor informal, jumlahnya mencapai 64,1 persen. Marilah kita jangan membangun kekeliruan di atas kekeliruan lama. Pemuda sudah menghadapi banyak tantangan masa depan, ujarnya. Di antara tantangan yang terpenting, terkait dengan pengembangan keunggulan daya saing penduduk yang bertumpu pada kekhasan sumber alam dan kearifan penduduk. Selain itu, persoalan ketimpangan pembangunan daerah, kemiskinan, dan inequity antarpenduduk daerah juga menjadi persoalan besar. Bagi pemuda sekarang, persoalan pembangunan kependudukan, mobilitas, tekanan ekosistem, kohesi sosial lintas suku, agama, politik menjadi persoalan
penting yang perlu kita pikirkan bersama, ujarnya. Anies mengklasifikasikan pemuda dalam sejumlah kategori, dan memperkirakan kelompok pemuda dari kalangan wirausaha (entrepreneur) yang akan menjadi kelompok strategis baru di masa depan. Ke depannya, menurut Anies, elite yang muncul bukan lagi berasal dari sumber kaderisasi tradisional seperti intelektual, militer, maupun organisasi kemasyarakatan maupun organisasi sosial politik. Akan tetapi, sumber elite itu akan lebih banyak yang berasal dari profesional muda yang tidak besar karena korupsi, kolusi dan nepotisme. Tren kepemudaan selalu berubah, awalnya untuk perjuangan bangsa, dan mereka menjadi sumber rekruitmen elite. Kelompok wirausahawan inilah yang secara independen bisa menandingi kekuatan militer yang
organisasinya rapi, ujarnya. Strategi baru Budiman mengatakan, saat ini perlu dirumuskan strategi baru untuk menghadapi kapitalisme yang suka atau tidak sudah menjadi sistem kehidupan yang ada di depan mata. Strategi ini dibutuhkan bagi sebuah negara modern, apalagi selama delapan tahun terakhir sudah terjadi tempuran antargagasan kebangsaan, ujar Budiman. Sukardi mengatakan, forum dialog yang menyediakan tempat untuk pertemuan gagasan itu harus terus diciptakan. Dengan demikian, semua kelompok pemuda saling mengetahui apa yang menjadi kemauan dari kelompok lainnya. Jangan-jangan semuanya punya perhatian dan kemauan
yang sama, tetapi karena tidak saling komunikasi, ditambah praduga yang tidak perlu, maka muncullah kesalahpahaman yang pada akhirnya menjadi sumber perpecahan di antara kita, ujarnya. (MAM) |