Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 1)
Phra Khru Supajarawat adalah seorang biku dari desa terpencil di sebelah timurlaut
Thailand, mendoyong ke depan, kaca mata gelapnya yang besar bergerak-gerak saat ia berbicara kepada lebih dari empat puluh orang biku yang berkumpul di kota kecil Anmat Charoen, tak jauh dari perbatasan Laos.
Mudah untuk membimbing warga dalam meditasi, kata dia, Tapi jauh lebih sulit untuk terlibat dalam pembangunan komunitas. Ada begitu banyak masalah
Tapi pembangunan dalam [batin] dan pembangunan luar, kedua hal ini harus jalan serempak.
Para biku ini datang dari propinsi Ubon Rachathani, Surin, dan Yasothorn untuk membahas cara-cara menghubungkan pembangunan dalam dan pembangunan luar di komunitas mereka masing-masing. Antusiasme mereka terasa sekali selama dua hari mereka berkumpul bersama membicarakan secara terbuka pengalaman mereka dengan bank beras, toko koperasi, pembangkitan kembali pengobatan tradisional, dan pertanian alamipelbagai kegiatan yang mengakar pada prinsip-prinsip kebudayaan dan spiritual setempat. Biku-biku ini telah melihat dampak pembangunan modern dalam komunitas mereka: hutang, migrasi, penggundulan hutan,
meningkatnya konsumerisme, hilangnya pengandalan diri, dan pesatnya disintegrasi kehidupan tradisional pedesaan. Tapi mereka yakin ada peran yang dapat dimainkan para biku dalam membantu warga desa menyeimbangkan yang modern dan yang tradisional dalam masyarakat kontemporer.
Luang Por Nan, salah satu dari biku-biku pembangunan pertama di Esarn, menjelaskan, Sejatinya pembangunan manusia dimulai dari dalam. Baik Phra Khru Supajarawat maupun Luang Por Nan meyakini bahwa Anda tak akan bisa membantu orang lain ataupun komunitas Anda sebelum Anda mengenal diri Anda. Jika Anda mengenal diri Anda, Anda akan mampu mengenal orang lain. Pembangunan manusia bukan secara fisik dan mental saja tapi juga spiritual. Konsumerisme hanya dapat ditanggulangi apabila rakyat memiliki rasa yang kuat tentang diri mereka, komunitas mereka, dan realitas dunia modern. Rakyat baru bisa mengubah diri dan dunia mereka, jika mereka dapat menemukan kejernihan. Untuk melihat segala sesuatu dengan jelas, mereka harus temukan keheningan dan kekuatan dalam diri mereka yang darinya mereka kemudian dapat
menjadi eling dan waspada, menjadi berkesadaran. Bagi biku-biku ini, pembangunan dalam harus terjadi dulu dan diijinkan untuk mengilhami pembangunan luar.
Kembali di Ban Tha Laad, desa kelahirannya, dengan penuh perenungan Phra Khru Supajarawat berkata, Modernisasi berasal dari Barat dan lebih dulu menjangkiti orang kota dan orang-orang itulah yang kemudian mengeksploitasi orang desa. Ini adalah sebuah
lingkaran eksploitasi. Dia berhenti sejenak lalu menambahkan, Saya ingin melihat orang desa mengandalkan diri mereka sendiri.
Dia tidak menganjurkan menolak segala yang modern. Kehidupan modern telah sampai ke desanya dan sudah pasti akan tetap tinggal di sana. Tapi dengan teguh dia meyakini bahwa cara kebudayaan dan spiritual setempat dapat membantu rakyat menghadapi masalah kehidupan modern. Contohnya, jika nilai tradisional seperti
integritas, moralitas, belas kasih, dan sammakee (keharmonisan komunal) dilestarikan, dia yakin dorongan untuk kekayaan materi tidak akan begitu dahsyat dan merusak. Eksploitasi dapat dikurangi. Dia menyamakan ini dengan menelusuri jalan tengah antara yang tradisional dan yang modernmenemukan keseimbangan antara keduanya melalui pengertian dan keadaan sadar.
Beberapa Cendikiawan Thai
Phra Paisan Visalo, seorang aktivis, penulis, dan biku, sepenuhnya setuju dengan pandangan Phra Khru Supajarawat bahwa pembangunan modern adalah lingkaran eksploitasi. Pembangunan modern, kata Phra Paisan, secara sempit terfokus pada bidang ekonomi saja, di mana manusia dan alam dilihat sebagai tenaga kerja dan sumber daya yang harus dikendalikan untuk keuntungan ekonomi. Sektor pertanian terutama berada di posisi yang tidak menguntungkan untuk melayani sektor perkotaan, industri, dan jasa yang dipandang sebagai motor pertumbuhan ekonomi pesat yang lebih dapat diandalkan, setidaknya dalam jangka pendek.
Phra Paisan yang berbicara dengan
lembut ini kemudian menjelaskan lebih lanjut. Ada dua jenis kemiskinan: kemiskinan secara psikologis dan kemiskinan riil. Lewat diperkenalkannya pendidikan modern dan media massa, pengharapanan material orang desa melonjak. Kebutuhan mereka meningkat dan mereka tersedot ke dalam ekonomi pasar yang lebih besar dengan posisi yang kurang diuntungkan sebagai bagian dari sektor pertanian. Mereka jual hasil panen dan tenaga mereka dengan murah dan membeli barang-barang manufaktur yang lebih mahal. Sekarang banyak orang desa merasa miskin saat membandingkan diri dengan orang kota. Seiring dengan meningkatnya nafsu materi mereka, mereka dapati mereka harus mengeluarkan banyak uang
dalam upaya meningkatkan produksi mereka, tetapi karena harga produk pertanian ditekan rendah untuk mensubsidi sektor-sektor ekonomi lainnya, mereka tetap saja tidak mampu meningkatkan penghasilan yang diperoleh dari produksi mereka dengan cukup cepat untuk mengimbangi laju pengharapan mereka. Hasilnya adalah tingginya angka hutang di komunitas pedesaan. Begitu mereka terjerat dalam hutang, kata Phra Paisan, terjadilah kemiskinan riil. Penduduk desa lari ke kota untuk mencari pekerjaan kasar dan mulai mengeksploitasi lingkungan mereka untuk mendongkrak penghasilan mereka.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan lalu mengurangi kemampuan mereka untuk bercocok tanam secara berkelanjutan dan orang desa pun terperangkap ke dalam lingkaran yang menurun ke bawah. Mereka telah menjadi miskin baik dalam pengertian miskin benaran maupun sekadar merasa miskin.
Saneh Chamarik, cendikiawan sekaligus kepala Institut
Pembangunan Lokal, yakin bahwa hanya kaum elite perkotaan yang kaya raya dan berkuasa yang memperoleh keuntungan dari sistem ekonomi modern. Materi dan tenaga kerja disedot dari daerah pedesaan untuk memberi makan sistem ekonomi ini dan jurang antara si kaya dan si miskin semakin melebar. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin dapat dilihat dari segi kekuasaan maupun penghasilan relatif. Kendati dulu desa-desa hampir sepenuhnya mengandalkan diri sendiri, sekarang tempat kekuasaan sebuah desa ada di luar dirinya.
Pembangunan modern bukan hanya telah meningkatkan kesenjangan ekonomi, dislokasi sosial, dan degradasi lingkungan, Phra Paisan Visalo dan Saneh Chamarik yakin bahwa pembangunan modern telah merangsek masuk lebih jauh ke dalam cara hidup orang Thai dan menyebabkan tertindasnya banyak nilai tradisional setempat. Contoh, keserakahan dipandang sebagai kekotoran batin dalam agama Buddha. Menurut mendiang Buddhadasa, salah seorang biku Thailand yang paling dihormati, meningkatnya keserakahan atau nafsu rendah menghancurkan spirit Dharma. Kritikus sosial Thai, Sulak Sivaraksa (1987), menunjukkan bahwa dengan penekanannya pada pertumbuhan ekonomi (melalui peningkatan produksi dan konsumsi), ekonomi modern mau tidak mau menyuburkan keserakahan. Phra Paisan menekankan bahwa keserakahan merupakan nilai inti yang intrinsik pada struktur dan sistem ekonomi modern. Prayudh Payutto (1987), cendikiawan dan biku terkenal, menyatakan bahwa nafsu-nafsu seperti keserakahan memblok pengolahan sifat-sifat lain seperti kasih sayang dan keadilan dalam diri manusia. Nafsu-nafsu ini melakukan kekerasan terhadap keseimbangan dan mutualitas alami, baik antar sesama manusia maupun antara manusia dengan lingkungan. (Bersambung)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___