| Emha: Krisis Itikad Baik Tengah Terjadi Kerusakan berbagai aspek kehidupan berbangsa telah mencapai titik yang sangat parah. Kerusakan yang paling sederhana dirasakan adalah terjadinya krisis itikad baik untuk memperbaiki bangsa. Krisis itu terjadi karena rakyat dan pemimpin telah lama tak terbiasa mengolah mata batinnya. "Kadar atau level intensitas kerusakan global di Indonesia hampir menyentuh titik balik. Tapi, secara umum orang masih belum merasa situasi ini telah parah," kata budayawan Emha Ainun Nadjib (53) kepada Kompas di sela peluncuran dan diskusi buku Jalan Sunyi Emha di Gedung Trans TV Jakarta, Sabtu (10/6). Krisis niat baik mau tak mau menjadikan krisis kebangsaan yang kini tengah terjadi. "Dari niat baik, akan berkembang menjadi komitmen. Komitmen akan berkembang menjadi rasa sayang, cinta, dan kesetiaan," kata Emha. Sayangnya, lanjut dia, niat baik untuk memperbaiki bangsa itu hingga kini belum terlihat. Ini terjadi karena kebanyakan pemimpin tidak pernah merasakan derita rakyat. Pengalaman kemiskinan tak menjadi hal yang produktif untuk menyejahterakan banyak orang. Di sisi lain, rakyat dan pemimpin terbiasa tidak melatih mata batinnya. "Wong pisau itu kalau tidak diasah tiga hari sudah tidak tajam.
Bagaimana dengan otak dan hati yang tidak diasah berpuluh tahun." Emha bahkan melihat bangsa ini sebagai bangsa (maaf) penjilat nanah, suka sama borok dan nanahnya sendiri. Banyak orang hidup dari kapitalisme nanah itu. Meski demikian, ia optimistis tiga tahun ke depan semburat kebangkitan akan terlihat. Buku Jalan Sunyi Emha merupakan terjemahan The Silent Pilgrimage: Emha Ainun Nadjib, A Lifelong Journey of Faith karya Ian Leonard Betts, warga negara Inggris. Selain berisi berbagai kegiatan Emha dalam berpuisi, berdakwah, dan bermusik bersama kelompok Kyai Kanjeng-nya, buku setebal 114 halaman itu berisi tulisan sejumlah tokoh Indonesia tentang Emha. Bagi Emha sendiri, kesunyian itu terletak pada jalan kebenaran di Indonesia. Hadir dalam peluncuran itu antara lain mantan Panglima TNI Wiranto, Direktur Trans TV Ishadi SK, Pendeta Nathan Setyabudi, Pemimpim Umum Harian Kompas Jakob Oetama, artis Dedi
Soetomo, Idris Sardi, Sulastomo, dan Franky Welirang. Dalam sambutannya, Jakob Oetama mengatakan, di tengah warga yang sibuk dan ramai memang selalu dibutuhkan sikap untuk mengambil jarak dengan keramaian. Dalam gegap gempita dan penuh keringat, dibutuhkan sikap tetap sunyi dan sendiri agar orang bisa memadankan antara aksi dan refleksi. Sedangkan Ian L Betts melihat Emha bukan siapa-siapa. Ia adalah paradoks. Jalan yang ditempuh adalah kesunyian dengan bicara kepada banyak orang. "Saya hanya menghubungkan Emha dengan pembaca di luar Indonesia." Sedangkan Pendeta Nathan Setyabudi berpendapat, menjadi sunyi dan tak menjadi apa-apa menunjukkan sikap keallahan. Sebab, dalam sudut pandang Kristen, Allah menjadi manusia dengan tidak menjadi apa-apa. (WSI) |