Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 2)
Pembangunan modern juga telah menantang nilai-nilai tradisional dalam cara yang lain. Prayudh Payutto (1987) dan Sulak Sivaraksa (1994) menyatakan bahwa orang desa Thai menghargai komunitas dan gotong royong, sedangkan masyarakat-masyarakat Barat lebih terfokus pada individual. Ketika orang desa dibawa masuk ke dalam ekonomi pasar yang
lebih besar, bertumbuhkembanglah persaingan. Sulak Sivaraksa (1994) mengamati bahwa pergeseran mendadak dalam nilai-nilai yang menyertai masuknya pembangunan modern ke desa-desa (misalnya, berubahnya fokus dari komunitas ke individual) menimbulkan dampak yang begitu dahsyat pada struktur sosial komunitas-komunitas tersebut.
Prinsip-prinsip pembangunan modern muncul dari cara orang Barat memandang dunia dan kehidupan manusia atau lazim disebut pandangan dunia (worldview) orang
Barat. Dalam pandangan dunia yang modern ini, teknologi dilihat sebagai alat untuk kemajuan ekonomi. Prayudh Payutto (1987) yakini bahwa sains dan teknologi membuat orang tidak mau meletakkan harapan mereka ke hal-hal yang sakral. Dengan cara ini, sains dan teknologi sendiri pun telah menjadi sakralmendefinisikan apa yang diyakini orang dan bagaimana seharusnya seseorang berpikir dan belajar. Jadi, pandangan dunia Barat dengan fokus sainstifiknya bukan saja telah memisahkan dunia spiritual dan sekuler, tapi juga mendominasi keduanya. Phra Paisan Visalo yakin bahwa pembangunan modern, yang muncul dari pandangan sainstifik yang rasional tentang dunia, tidak mencakup pembangunan spiritual atau pembangunan dalam. Dengan demikian, kata dia, nilai-nilai spiritual dan aspirasi-aspirasi setempat direndahkan dengan sedikit sekali substansi spiritual yang disediakan untuk mengantikannya. Seri Phongphit (1988) setuju dan mengatakan, [Kami] telah kehilangan rasa sakral dan persatuan yang membuat dunia ini nyata.
Pembangunan modern mempromosikan dan dipromosikan oleh pendidikan formal. Pendidikan modern, kata Sulak Sivaraksa (1987), hanya menanamkan kepercayaan pada nalar dan sains saja tanpa menyertakan hal-hal yang lain. Alih-alih membangun manusia secara keseluruhan, kepalanya dididik tapi hatinya diabaikan. Dia percaya kedua keterampilan tersebut, kepala dan hati, harus
didayagunakan untuk memandu pembangunan. Alih-alih menghasilkan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi, tujuan pendidikan formal adalah menghasilkan pekerja-pekerja untuk pasar yang akan termotivasi oleh gaji dan prestise. Untuk mencapai tujuan ini, institusi-institusi pendidikan mempromosikan nilai-nilai seperti keuntungan pribadi, persaingan, dan pencapaian pribadi. Dalam terma tradisional, mereka menumbuhkembangkan keegoisan.
Para cendikiawan Thai ini merasa pemaksaan bentuk-bentuk pembangunan modern Barat ke Thailand telah menyebabkan meningkatnya konsumerisme, ketegangan dalam komunitas, hutang di daerah pedesaan, degradasi lingkungan, dan krisis dalam nilai-nilai kebudayaan maupun spiritual. Keadilan manusia dan pembangunan dalam belum mampu menyertai laju dorongan terhadap pembangunan materi. Untuk alasan ini, para cendikiawan tersebut di atas telah mengkaji ulang dan semakin menghargai akar-akar kebudayaan dan spiritual yang sekarang sedang dilumat habis-habisan oleh pembangunan modern. Ini bukanlah sekadar kembali ke nilai-nilai lama, melainkan sebuah sistem nilai baru yang muncul dari peneguhan ulang nilai-nilai lama di dunia
modern.
Saneh Chamarik mengusulkan bahwa kita bisa belajar banyak sekali dari agama Buddhatidak melulu harus pengetahuan tekstual tentang agama Buddha melainkan mengambil dari pandangan dunia Buddhis di mana hubungan-hubungan manusia adalah penting, umat manusia dilihat ada di dalam alam, dan dunia dilihat secara lebih holistik. Dia menyatakan bahwa secara tradisional orang desa punya cara yang lebih spiritual dalam memperoleh pengetahuan dibanding dengan cara pembelajaran dalam kebudayaan-kebudayaan sainstifik modern. Dia percaya mereka punya banyak sekali yang
dapat diajarkan kepada kita dalam hal menjalani nilai-nilai kita.
Komunitas alami dalam visi Buddhadasa adalah yang berdasarkan kesalingtergantungan yang mutual, keharmonisan, dan keseimbangan yang mempromosikan pengembangan batin. Orang-orangnya harus hidup selaras dengan alam dan tidak mengambil lebih dari yang mereka butuhkan. Mereka harus punya empati terhadap sesama dan lingkungan di sekitar mereka. Jika kehidupan, dalam banyak bentuknya, mau
tumbuh subur, kata Buddhadasa, manusia harus belajar dari alam dan mencari apa yang alami. (Swearer).
Yang juga esensial adalah, jelas Buddhadasa, spiritualitas harus mencakup teori dan praktik. Masyarakat kontemporer membiarkan teori terpisah dari praktik. Tindakan-tindakan tidak
dilandasi teori sehingga teori semakin tidak relevanmenganggur. Nilai-nilai spiritual harus diintegrasikan ke dalam segala aspek kehidupan. Tanpa pengertian benar, tidak akan ada tindakan benar. Oleh sebab itu, rakyat harus mampu berpartisipasi dalam pembangunan dalam mereka sedangkan pembangunan luar mereka harus mencerminkan kebenaran dalam diri mereka.
Kata-kata para cendikiawan ini begitu menggelitik, tapi orang bertanya-tanya bagaimana suatu masyarakat mulai dapat menimba kearifan lokalnya untuk mengarahkan tindakannya serta memetakan masa depannya.
Dalam kantornya di Universitas Thammasat, Pataraporn Sirikanchana mengusulkan bahwa para biku pembangunan dapat membantu meningkatkan kesadaran akan keserakahan dalam masyarakat. Mereka bisa menawarkan alternatif dari nilai-nilai kota dan mempromosikan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan guna mengurangi penekanan terhadap uang yang marak terjadi sekarang. Mereka dapat memotivasi warga untuk bekerja bukan hanya demi penghasilan melainkan juga untuk kesenangan dalam semangat gotong royong. Mereka tinggal di desa,
memiliki hubungan yang erat dengan warga, dan berada di posisi paling seimbang untuk memahami dan menghargai kualitas kehidupan desa. Para biku ini, sambungnya, dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan pemerintah ataupun pihak luar lainnya. Jika mereka kuat dalam latihan spiritualnya, mereka dihormati sekali oleh warga desa. Mereka menjalani kehidupan yang sederhana dan tergantung pada dukungan komunitas untuk bertahan hidup. Mereka memberikan kontribusi pada komunitas dengan membantu melestarikan tradisi dan budaya, serta mendorong hubungan yang harmonis di desa. Paiboon Wattarasiritham merasa biku-biku tersebut bisa membawa dimensi spiritual masuk ke dalam pembangunan. Dia menyebutkan contoh kelompok-kelompok penabung yang berdasarkan pada prinsip kejujuran, tanggung jawab,
gotong royong, dan konservasi. Seri Phongphit (1994) melihat para biku sebagai bagian dari rohnya komunitas, dan merasa penting sekali melibatkan mereka ke dalam pembangunan. Dengan demikian, kata dia, pembangunan akan lebih seimbang.
Seri Phongphit (1988) mengatakan bahwa meskipun perubahan pesat telah terjadi di pedesaan Thai, tapi pembangunan modern belum sepenuhnya berhasil mencabut akar struktur kebudayaan tradisional ataupun nilai-nilai penduduk desa. Reformasi arah pembangunan, dia memperingatkan,
kelihatannya tidak akan datang dari para elite ataupun negara. Justru dari daerah pedalamanlah kita masih bisa berharap untuk menemukan spirit pembangunan yang telah diperbaharui, yang keluar dari tradisi-tradisi yang masih subur hingga hari ini. (Bersambung)
Penulis adalah seorang ibu baru yang tinggal di Vancouver, Kanada.
Dia bersyukur sekali memperoleh kesempatan untuk menuliskan makalah ini dan memikirkan hal-hal di luar menggantikan popok dan mengelak lemparan sendok penuh makanan bayi. Riset orisinil makalah ini dapat dilakukan berkat pendanaan dari Canadian International Development Agency, the International Development Research Centre dan the University School of Rural Planning and Development di Universitas Guelp, Kanada.
__________________________________________________
Do You
Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___