Kompas, Kamis, 15 Juni 2006
Pendidikan Luar Sekolah
Tukul, Dik Doank dan Anak-anak Kandank Jurank
Saat anak-anak itu diminta menggambar sosok komedian Tukul Arwana, beragam persepsi muncul di atas kertas. Ada yang memulai dengan bangku yang menjadi latar tempat Tukul duduk. Ada pula yang mengawali gambarnya dengan kumis tipis sang komedian, sebelum akhirnya goresan pensil mereka tertuju ke obyek yang diminta.
Lain halnya yang dilakukan seorang anak yang berada persis di bagian depan tempat Tukul Arwana duduk sebagai model. Kertas pertama ia gambari rumah. Artis-presenter Dik Doank (37) tertawa, lalu memberikan selembar kertas lagi. Beberapa menit kemudian Dik Doank kembali mendekat, dan tertawa lagi, karena mendapatkan sang anak kali ini menggambar sawah dengan latar belakang pegunungan.
"Tidak apa-apa. Itulah anak- anak. Mungkin di kepalanya sudah tercekoki oleh guru di sekolah formal bahwa menggambar itu kalau tidak rumah, ya, pemandangan berupa sawah dengan latar belakangan pegunungan," kata Dik Doank dengan senyumnya yang khas; bibir dan mulut sedikit dimiringkan.
Peristiwa yang terkesan lucu itu terjadi di sekolah alam Kandank Jurank Doank yang dikelola Dik Doank. Minggu (11/6) pagi itu mereka kedatangan selebritas: Tukul Arwana. Sebelum sesi penutup dengan menggambar sosok sang komedian, terlebih dahulu Tukul diminta bercerita seputar kehidupannya sebagai pelawak sebagai sebuah profesi yang menghidupinya.
Sebagai komedian, Tukul sesekali tampil kocak, membuat sekitar 75 anak usia 6-14 tahun itu tertawa terpingkal-pingkal. Di antara senyum dan tawa anak-anak, mereka diberi gambaran bahwa dunia lawak adalah profesi menjanjikan; juga terhormat, seperti halnya profesi-profesi lain macam dokter dan insinyur! Bahwa, untuk menjadi pelawak pun sama sulitnya dengan profesi lain. Butuh ketekunan dan harus dipelajari.
"Untuk benar-benar jadi pelawak kita harus banyak membaca," kata Tukul. Seorang komedian juga harus punya karakter, meski kadang-kadang sosok atau tipikal fisik kerap membantu popularitas seorang pelawak.
Membaca bukan sebatas memahami makna di balik deretan huruf dan angka-angka yang tertera di buku, majalah, atau koran. Bagaimana memahami audiens dengan latar belakang pekerjaan mereka misalnya, adalah bagian dari tak terpisahkan dalam profesi seorang komedian alias pelawak. Sebab, dari sana bisa muncul sumber inspirasi untuk kemudian diolah menjadi bahan lawakan yang cerdas.
Beberapa anak terpukau, bahkan ada yang sempat melongo dengan mulut terbuka, ketika seorang anak tiba-tiba angkat tangan dan bertanya, "Karakter itu apa?" Dan, dengan gaya seorang komedian, Tukul pun menjawab lewat serangkaian contoh apa yang ia maksudkan sebagai karakter, yang pada gilirannya menjadi daya pukau pembeda antara pelawak yang satu dengan yang lainnya.
Bagi anak-anak Kandank Jurank Doank, Tukul Arwana bukanlah satu-satunya selebritas yang pernah didatangkan ke sini. Nama-nama seperti komedian Ulfah Dwiyanti, Ucok Baba, dan Taufik Savalas sang "Presiden Republik BBM" juga pernah berbagi pengalaman dengan anak-anak dari berbagai latar belakang dan status sosial itu.
Pada waktu yang berbeda, penyanyi Ariel "Peter Pan", Nugie, aktor-dramawan Subarkah tak ketinggalan ikut membaur di Kandank Jurank Doank. Begitupun perupa Kana dari Rumah Seni Palet. Bahkan, pernah sekali waktu Dik Doank ’menculik’ seorang koreografer asal Kuba yang kebetulan tengah berkunjung ke Indonesia untuk berbagi ilmu seputar tari salsa kepada para anak-anak "didik"-nya.
"Minggu depan (Minggu, 18 Juni 2006) Pak Rinawan akan memberi ’pelajaran’ tentang dunia arsitektur. Semua bidang profesi kami coba munculkan untuk diserap oleh anak-anak," kata Dik Doank.
Tanpa silabus
Semula, sekolah alternatif —atau apa pun namanya—yang dikelola Dik Doank ini boleh dibilang tanpa nama. Itu bermula pada tahun 1993, ketika ia baru saja menikahi Myrna Yuanita.
Ketika itu Dik masih tinggal di Blok K, Angkasa Pura, Kemayoran, Jakarta. "Sekolah" yang ia rintis itu memanfaatkan bagian atas empat pot besar di sana sebagai tempat belajar. Menurut Dik Doank, pot besar tersebut semula ditanami pohon atas perintah (waktu itu) Presiden Soeharto, namun tak tumbuh-tumbuh, sehingga terbengkalai.
"Bersama sembilan warga belajar, di sanalah semua cerita ini bermula," kata Dik Doank, ayah tiga anak yang bernama lengkap cukup panjang ini: RM Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda Kusuma!
Materi belajar sebetulnya sederhana. Tak ada silabus, apalagi dalam bentuk kurikulum resmi. Bagi Dik Doank, prinsip yang ingin ia tanamkan adalah bagaimana warga belajarnya menguasainya sebanyak mungkin apa yang ia sebut kebisaan-kebisaan.
"Hidup di Indonesia sangat berbeda dibandingkan Amerika Serikat, misalnya. Kalau di sana, jadi pencipta lagu saja sudah cukup untuk hidup. Royalti mengalir terus. Di Indonesia? Boro- boro royalti, lagu-lagu kami dibajak dan hasil bajakannya dijual bebas. Yang beli malah orang-orang kaya, orang-orang yang kebanyakan turun dari mobil pribadi. Karena itu, aku sampai pada satu kesimpulan bahwa untuk bisa hidup di Indonesia harus punya banyak kebisaan," kata jebolan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta ini.
Tahun 1997 ia bersama keluarga pindah ke Kompleks Alvita di Desa Sawah Baru, Ciputat, Tangerang. Sekolah alternatif yang ia rintis di Kemayoran ikut ia boyong, tetapi warga belajarnya tentu berganti dengan orang-orang yang tinggal di sekitar tempat barunya. Tempat mereka berkumpul pun berpindah-pindah; di beranda-beranda rumah warga, di bawah pohon, di lapangan-lapangan terbuka.
Ketika rezeki sebagai artis- presenter dan model iklan mulai mengalir, tanah kosong di seberang rumahnya ia beli. Sebuah lapangan sepak bola mini pun dibangun, berikut arena bermain, mushala, tempat bermain musik, dan perpustakaan. Sekitar 500 meter ke arah utara, berada di sisi selatan rel kereta api Jakarta-Serpong, Dik juga punya sepetak tanah yang ia beri nama Kandank Jurank Doank.
Kedua lokasi tersebut persis di tepi ’jurang’. Di ’bawah’-nya areal persawahan membentang. Selain lewat jalan sempit di bagian ’atas’ yang menembus perkampungan, pematang-pematang sawah ini juga biasa dijadikan jalan pintas penghubung kedua lokasi tersebut.
"Di sini, anak orang kaya dan miskin harus bisa berbaur. Spirit yang ingin ditanamkan, selain melecut motivasi untuk menguasai bermacam-macam kebisaan, juga perasaan bahwa kita pernah bersama. Lalu, mengapa fokusnya pada anak-anak? Tak lain karena mereka adalah tunas," ujar Dik Doank.
Setiap kegiatan di Kandank Jurank Doank hampir selalu diakhiri dengan aktivitas menggambar. Ketika menggambar, anak-anak itu tidak dibolehkan menghapus. Anak-anak dibiasakan untuk selalu yakin pada setiap tarikan garis yang ia lakukan. Kalau terpaksa, lebih baik kertas yang diganti.
Dalam istilah Dik Doank, strategi ini dimaksudkan untuk mendidik anak-anak agar tidak peragu. Lebih dari itu, gagasan besarnya adalah mencipta. Bahwa, aktivitas menggambar—dalam bidang apa pun—adalah penting. Apalagi dalam banyak hal, sebuah penciptaan hampir selalu diawali aktivitas menggambar. Bangsa yang tanpa kebiasaan menggambar cenderung gagal menjadi bangsa pencipta; paling tinggi sebagai bangsa penyontek.... (ken)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke