Bantuan Berwajah Ganda
Sabtu pagi, sebuah guncangan hebat memutuskan kebiasaan saya. Pagi itu tak ada kebiasaan mengantarkan anak sekolah, karena sebagian sekolah hancur. Pagi itu tak lagi berebut jalan dengan kaum pelaju, karena para pelaju asal Bantul banyak yang tertimpa reruntuhan rumah.
Semua tiba-tiba berubah
lantaran sebuah gempa yang berlangsung "hanya" 57 detik. Para pelaju, yakni para pekerja yang melaju dari Bantul ke Kota Yogyakarta dengan sepeda onthel, kebanyakan masih mempersiapkan diri untuk berangkat. Tetapi tiba-tiba gempa membuat arah berlainan, mereka menuju kedukaan mendalam; kehilangan rumah, sanak saudara, dan masa depan.
Yogyakarta berduka. Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter menewaskan lebih dari 4.000 orang di wilayah Yogyakarta dan membuat ratusan ribu rumah rusak total.
Inilah drama kemanusiaan yang tengah terjadi di Yogyakarta. Drama kemanusiaan itu terus ditampilkan di sejumlah program berita televisi sehingga warga di luar Yogyakarta dan Klaten bisa merasakan penderitaan korban. Televisi membuat bencana alam itu seolah terjadi di dekat rumah kita. Siapa pun orangnya, di mana mereka berada, sepanjang menyaksikan
tayangan berita itu, maka akan ikut tersayat drama bencana.
Ini persis seperti yang pernah dikemukakan pemikir Prancis Paul Virilio (1999) perihal realitas virtual yang merupakan kepanjangan dari realitas asli. Bencana alam seolah mau mementahkan sebuah pendapat bahwa berita televisi bukanlah refleksi atas realitas, tetapi realitas yang dikonstruksi (Schleninger, 1978). Media menciptakan imagology of suffering, yakni berbagai citra tentang bencana yang datang dalam keberjarakan ruang-waktu, sekaligus membangkitkan rasa kebersamaan di dalamnya.
Rasa kebersamaan itulah yang membangun solidaritas. Tiba-tiba ruang publik dipadati pujian atas kebangkitan humanitas. Pendeknya, solidaritas menjadi sebuah kata yang banyak diperbincangkan, nyaris sama banyak dengan kata bencana, peduli dan kemanusiaan.
Seketika terbangun
Bencana memang cepat membangun solidaritas, setidaknya inilah yang saya alami. Begitu gempa diberitakan televisi, sejumlah teman seketika mengirimkan pesan pendek (SMS), menanyakan kondisi saya dan keluarga. Mereka tahu, hampir setahun ini saya bermukim di sebuah perumahan di Jalan Parangtritis Km 5. Dari batas inilah, ke arah selatan, kerusakan terhitung parah.
Barangkali saya beruntung, konstruksi rumah di sebuah perumahan relatif bagus sehingga hanya pagar rumah yang roboh atau dinding yang retak-retak. Tetapi, saudara senasib di perkampungan di sekitar perumahan nyaris tak menyisakan bangunan. Sebagian besar rumah mereka rata tanah.
Sesama warga di perumahan juga terbangun solidaritas. Mereka yang
jarang keluar rumah, tiba-tiba muncul sembari membantu tetangga yang lebih susah. Kami bergotong-royong membenahi pagar yang runtuh. Kami berbagi cerita untuk sekadar mengurangi ketegangan. Bahkan kami sempat tidur ramai-ramai beralaskan tikar dan beratap langit. Semua berlangsung begitu saja tanpa memerhatikan etnis, status atau kekayaan. Malah mereka yang selama ini dikategorikan "sombong" tetap ikut ambil bagian dari kebersamaan itu.
Semangat solidaritas pula yang membuat Yogyakarta menjadi padat karena kedatangan para relawan atau petugas yang mengusung ragam bantuan bagi korban. Tiba-tiba kemacetan menyergap Jalan Parangtritis dan Jalan Bantul. Kedua jalan inilah jadi akses menuju kawasan bencana. Di antara kepadatan itu acapkali dikejutkan bunyi sirene. Sirene itu bisa berasal dari mobil ambulans yang membawa korban menuju rumah sakit, mobil pengawal rombongan truk atau mobil bantuan, bisa juga dari
mobil pengawal serombongan pejabat yang mau memberikan bantuan, atau mobil para elite politik.
Sirene ini membawa pesan: mohon diberi jalan, kami buru-buru ke tempat tujuan. Kalau yang lewat ambulans, pemakai jalan bisa maklum, di dalam mobil ada korban yang memang butuh bantuan segera. Tetapi tak jarang pemakai jalan terkecoh, ternyata sirene itu hanya membuka jalan bagi serombongan elite politik (terlihat dari bendera parpol yang dibentangkan) atau para pejabat yang ingin meninjau lokasi gempa.
Begitulah, Yogyakarta (terutama bagian selatan) berubah menjadi kota sibuk. Mobil-mobil berseliweran dengan ragam bendera, spanduk, atau stiker yang ditempelkan pada kaca mobil. Masing-masing ingin menunjukkan, "Ini lho rombongan relawan yang ingin membantu di Bantul", maka di kaca mobil tertulis "Relawan Peduli Jogja dari Kelompok Anu".
Atau ada juga serombongan mobil yang membawa bantuan (gelinya, rombongan bisa lebih dari lima mobil, tetapi yang benar-benar mengangkut bantuan hanya satu mobil) dan tak lupa menunjukkan identitasnya. Tak sedikit yang datang ke lokasi bencana dengan mobil mewah, dandanan menor, seolah akan naik ke atas panggung. Lho, bukankah mereka ini ingin menunjukkan simpati dan empati? Atau jangan-jangan bencana memang dijadikan panggung?
Panggung politik, bisa jadi. Spanduk posko parpol dipasang besar-besar di antara puing-puing reruntuhan. Arak-arakan bantuan tak lupa dilengkapi mobil bersirene demi menyita perhatian publik. Maka, wajar jika para korban bereaksi. Di dusun Pelemsewu, Sewon, misalnya, ada tulisan besar yang menyentil perilaku parpol: "Kami butuh bantuan, jangan kampanye!"
Sebangun dengan kampanye adalah promosi. Mereka membantu sembari mempromosikan badan usahanya. Lahirlah berbagai bentuk peduli, "Amburadul Bank Peduli"; "PT Kusak-Kusuk Peduli Jogja"; hingga "Jari-jari Ampuh Peduli".
Inilah fenomena kita. Soal membantu lebih menganut rame ing pamrih, sepi ing gawe. Nyaris tak ada yang berani menyingkirkan pamrih itu. Bahkan, institusi keagamaan masih juga terjebak rasa pamrih ini. Tentu saja ini merupakan penyimpangan, karena orang bijak mengingatkan, "sepi ing pamrih, rame ing gawe". Jangan pikirkan pamrih, bekerjalah semata-mata ridho Yang Kuasa. Bukankah ajaran agama senantiasa mengingatkan "sembunyikan amalmu"?
Keterikatan ego
Pamrih tak lepas dari ego. Apa pun yang diperbuat, tak bisa dipisahkan dari urusan
diri sendiri atau kelompok. Kalau ia mengeluarkan sesuatu demi orang lain, maka ia harus memperoleh sesuatu bagi dirinya. Kalau ia membantu korban bencana, maka ia harus memperoleh sesuatu dari sana, paling tidak tentang citra diri. Dengan membantu korban maka citra sebagai dermawan akan terbentuk.
Kalau tindakan itu dilakukan diam-diam, citra itu tak terbangun. Karena itu, publik mesti tahu. Ia mesti mengumumkan kedermawanannya, entah lewat media atau segala atribut yang bisa diketahui banyak orang.
Memang di mata filsuf moral, terutama Hobessian, manusia secara niscaya adalah egois dan tidak pernah bertindak kecuali demi kepentingannya sendiri. Namun segera diluruskan oleh filsuf lainnya, jika setiap orang egois maka perhatiannya untuk orang lain berakhir dengan kematian. Di sinilah dipertentangkan egois versus altruis. Pertentangan
ini berangkat dari kontroversi abadi antara egoisme dan altruisme, walau ada juga yang mengoreksi sebagai paham yang keliru. Paham yang berpijak pada asumsi salah di mana menempatkan kedua pihak harus berlawanan.
Dalam konteks tulisan ini, egois lebih mengacu pada kepentingan diri sendiri, dan altruis bertindak semata-mata kepentingan orang lain. Dari pengertian ini dapat dilihat bahwa fakta sebagian besar masyarakat kita adalah egois, dan sangat jarang ditemukan altruis sejati.
Faktor inilah yang menjadikan bantuan berwajah ganda. Satu sisi sangat jelas merepresentasikan solidaritas, tetapi sisi lainnya tetap saja bermuatan kepentingan pribadi. Ada pamrih di balik bantuan.
Idealnya, apa pun jenis bantuan, seyogianya tetap menggunakan satu bendera: Merah Putih. Kita
membantu karena korban adalah sebangsa. Bukan separtai, seagama, segolongan, atau semata-mata konsumen yang patut digarap keloyalannya. Mekanismenya ada satu badan yang mengelola bantuan-bantuan itu, kemudian mendistribusikannya dengan melepas atribut parpol, perusahaan atau nama-nama individu.
Persoalannya, masyarakat acapkali belum percaya penuh atas sebuah badan yang mampu mendistribusikan bantuan secara cepat dan akurat. Ketidakpercayaan inilah yang ikut menumbuhkan "bantuan berwajah ganda". Setiap ada bencana, saat itu pula fenomena terulang. Begitu seterusnya sehingga jadi banalitas. Apa boleh buat, bencana adalah panggung, dan korban terus jadi korban tak berdaya.
Toto Suparto Korban Gempa, Tinggal di Sewon, Bantul
Yahoo! Sports Fantasy Football 06 - Go with the leader. Start your league today! __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Beyond belief | Religion and spirituality | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
