Title: Message

Dear Bro Erik,

jika kita telusuri, di tahap awal kita uda punya niat utk berdana, dan ini sudah setahap lebih maju dibandingkan dgn org2 yg sama sekali tidak ada niat untuk itu, tp mnrt sy loh....Niat awal itu murni adanya sebelum di ikuti motivasi/ embel2 apapun itu.

Dalam hal ini kita sudah bisa melepas materi, ini hanyalah tahap awal, namun kdg secara tidak sadar  kita terikat sama kemelekatan yang lebih halus  spt yg sudah ditulis sblumnya tp untuk melepas itu semua, kenyataannya sungguh tidak  gampang, perlu latihan untuk bs sampai pada tahap keseimbangan, tidak bisa instan tp ada prosesnya....

seiring hasil kemajuan praktik kita, motivasi apapun itu baik untuk dapat pahala, dipuji dsb akan sirna dengan sendirinya dari pikiran kita, hanya murni untuk berdana. saat itu , br benar2 kita bs memahami apa arti "berbuat, seketika itu juga lepas" sehingga apapun hasilnya baik itu dicela, tidak bermanfaat byk bg org lain dsb tdk membuat kita lalu menyalahkan diri sdri, namun itu bisa kita jadikan pembelajaran, diikuti insight tersendiri. dan pemahaman ini lain dgn tidak mau memikirkannya saat berdana hanya karena tahu bahwa motivasi untuk dapat pahala seperti itu tidak benar adanya.....

salam Metta,

 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Erik

Tapi, apakah betul dengan demikian berarti saya sudah mencapai kemajuan dalam penziarahan spiritual saya?? Dengan membawa-bawa materi (yang tak seberapa nilai ekonomisnya) ke vihara untuk disembahkan kepada Sangha pada saat upacara Asadha, sebenarnya saya masih dibelenggu oleh lobha (keserakahan), yakni berharap adanya pahala yang besar melalui tindakan berdana itu. Dengan materi yang nilainya tak seberapa itu, saya berharap bisa ditukar/mendapat ganjaran berupa pahala besar di kemudian hari. Motivasi berdana seperti ini bukanlah motivasi yang benar, sama sekali tidak ada niat pelepasan di dalamnya, dan ini justru akan menghambat kemajuan spiritual saya.

Demikian, pencerahan yang telah saya capai melalui diskusi dengan Bro sekalian kemarin!!

Salam,

Erik

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Amisadana memang latihan melepaskan kemelekatan terhadap duniawi( materi itu sendiri) dan mnrt saya Bro Erik sudah selangkah lebih maju dalam hal ini, kl tidak knapa ia tidak pakai sdri ajah brg2nya malah repot2 membawanya untuk didanakan. Namun tentu saja tidak sampai di situ, tapi bagaimana kita juga bisa trus melatih untuk melepas kemelekatan lainnya spt keinginan utk mendapatkan karma baik yang lebih besar, mgkn kita berpikir why not kl sy bs dapat sasaran objek dana yang mdatangkan pahala besar, namun itu semua hanya sebatas pahala,  toh dipikirin atao tidak, karma baik akan selalu berjalan beriiringan dengan perbuatan bajik.

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke