Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 3)
Di Desa
Kembali di Ban Tha Laad, jauh dari kantor para cendikiawan dan penulis tersebut, musim tanam sedang berlangsung. Kebanyakan orang dewasa sedang di ladang atau menggembala ternak mereka. Anak-anak sedang sekolah. Hanya para manula dan balita yang tinggal di rumah. Rumah-rumah, yang dibangun di atas panggung agar sejuk, tertata rapi dalam baris di sepanjang jalan-jalan yang memotong desa ke dalam petak-petak sederhana. Kebanyakan rumah dibangun dari kayu, walau ada beberapa juga yang dibangun dari semen, kaca, dan batu-bata belum lama ini. Wihara terletak di tengah-tengah desajantung fisik, sosial, maupun spiritualnya. Anak-anak datang bermain di halaman wihara pada
sore hari. Pagi dan malam hari adalah waktu tersibuk, baik dikunjungi oleh warga yang datang sendirian maupun secara berkelompok untuk berbincang-bincang dengan kepala wiharanya, Phra Khru Supajarawat, yang mereka kenal dengan akrab sekali. Petak-petak jalan aspal yang dibangun sebagai bagian dari program pembangunan desa menimpa hamparan bekas jalan-jalan setapak yang lebih organik yang menghubungkan para warga desa dengan wihara dan satu sama lainnya. Seperti halnya jalan setapak dan jalan beraspal, yang tradisional dan yang modern tampak hidup bareng di sini. Penduduk desa dan kepala wihara mereka dapat saling berbicara.
Sammakee
Orang Ban Tha Laad bangga dengan
sammakee (keharmonisan dan persatuan) yang ada di desa mereka. Bagi mereka, salah satu perbedaan yang paling nyata antara kehidupan kota dan kehidupan desa adalah sammakee. Di desa, semua orang saling kenal dan keramahtamahan adalah cara hidup. Warga berbagi suka maupun duka. Tak seorang pun pernah mengalami kelaparan. Di kota , ada lebih banyak eksploitasi dan kompetisi, dan warganya sering tidak kenal tetangga mereka. Di desa, warga bergotong royong. Mereka menanam makanan mereka sendiri, berbagi apa yang mereka miliki, tukar-menukar barang tanpa menggunakan uang, dan saling bantu mendirikan rumah serta menggarap lahan mereka. Karena semua bertani, pada dasarnya semua orang setaramengalami banyak suka dan suka yang sama. Mereka saling mengerti dan memperhatikan sesama. Orang kota, kata warga desa, harus bekerja di pekerjaan-pekerjaan yang bersifat individual dan membayar makanan serta rumah mereka sendiri. Orang desa merasa aneh sekali banyak penghuni kota harus membeli air minum dari satu dan lainnya. Di Ban Tha Laad, air minum tersimpan sejuk dalam gentong-gentong tanah liat dengan penyendok air tergantung dekat untuk orang asing maupun kawan.
Banyak orang desa merasa kehidupan desa jauh lebih tenang daripada kehidupan kota. Warga punya waktu untuk sesama. Di kota , orang terlalu sibuk cari uang. Seorang sepuh berkata,
Sedikit sekali orang di kota yang baik hati dan jernih pikirannya. Di kota semua harus keluar uang. Dan orang-orang menghabiskan semua waktunya untuk cari uang.
Orang desa yang lebih tua sering mengerjakan bersama sawah mereka dan ramai-ramai duduk di malam hari untuk menganyam, memasak, ataupun ngobrol. Walau menyelesaikan banyak kerjaan dalam sehari, tapi mereka benar-benar terlihat santai.
Tiga wanita menjelaskan bahwa orang-orang yang relatif lebih kaya di desa itu tidak egois. Keluarga-keluarga yang lebih kaya tergantung pada bantuan warga lain untuk memanen hasil bumi mereka. Sebagai imbalan, keluarga-keluarga kaya masih diharapkan untuk berbagi di masa-masa sulit dan mensponsori pelbagai acara serta institusi komunal. Timbal balik dan aneka ragam tangung jawab masih tetap ada. Warga yang secara materi lebih kaya tidak terpisah dari mereka yang kurang berada.
Tapi memang benar tradisi gotong royong dan saling berbagi ini sudah mulai sedikit berubah seiring dengan berkembangnya desa. Tersedianya listrik pada tahun 1989 memungkinkan pembelian barang seperti TV dan radio. Sekarang, daripada nyanyi dan ngobrol bareng di malam hari, banyak anak muda lebih memilih tinggal di rumah dan menonton TV atau mendengar radio mereka. Para sahabat, tetangga, dan keluarga besar tidak lagi saling bantu mengarap ladang seperti lazimnya semua rumah tangga dulu. Sekarang, upaya gotong royong lebih terbatas pada jalur keluarga saja.
Kendati warga bangga masih tetap saling berbagi makanan di desa, sekarang setelah dibangunnya hubungan yang lebih langsung antara produksi makanan dan uang, sifat dasar berbagi ini mulai berubah. Seorang wanita menjelaskan,
Dulu, barang-barang masih berlimpah sehingga warga saling berbagi
makanan secara cuma-cuma, tapi sekarang kami hidup lebih individual dan tidak mudah untuk meminta makanan. Sekarang kelebihannya dijual.
Dengan berbagai kesulitan yang menyertai kehidupan bercocok tanam, penting kiranya bagi warga untuk saling mengandalkan dan bersahabat. Sammakee merupakan faktor yang sangat penting bagi kelangsungan
hidup semua orang. Tetap saja, alih-alih menganggap perburuan keuntungan pribadi sebagai kemewahan yang sulit mereka jangkau, warga berulang kali menekankan pentingnya ikatan komunal dan betapa memalukannya keegoisan. Sammakee dianggap patut secara budaya. Ia memungkinkan warga menjadi bajik (melakukan hal yang benar) dan menambah banyak sekali pada kualitas hidup. Seorang wanita berusia 76 tahun yang belum pernah menikah menjelaskan bahwa warga desa telah mendirikan rumah untuknya dan memanenkan dia lahannya. Sekarang mereka sudah mengumpulkan uang dan sedang membuatkan sebuah kakus untuknya.
Sammakee juga terkandung dalam ajaran Buddhis dan kepercayaan animis. Ideal Buddhis seperti sila, yang memandu tindakan individual sehingga ikatan komunal terpupuk, sering dibabarkan dalam ceramah publik para biku. Phra Khru Supajarawat mengatakan bahwa
meskipun orang desa tidak mempelajari metta (cinta kasih) dan karuna (kasih sayang) seperti para cendikiawan atau akademisi, tapi, mereka jauh lebih akrab dengan ideal-ideal ini karena mereka menjalaninya dalam keseharian hidup mereka. Mereka punya lebih banyak daripada sekadar memahami konsep-konsep ini secara intelek saja. Di desa, tidak ada pemisahan antara teori dan praktik. Sammakee bukan hanya ideal belaka melainkan cara hidup .
Sammakee juga dipromosikan melalui cerita rakyat dan festival-festival. Orang-orang berkumpul untuk merayakan dan membuat jasa bersama. Tapi mereka tidak mengharapkan kesempurnaan. Konflik adalah bagian dari kehidupan dan ada cara-cara tradisional untuk mengatasi ketidaksetujuan. Pada suatu hari besar agama, saat sedang begadang di wihara bersama lebih dari tiga puluh wanita lainnya, saya mendengar Phra Khru Supajarawat menuturkan salah satu dari sekian banyak cerita rakyat tentang
bersahabat. Karakter-karakter kisah itu adalah binatang-binatang yang tinggal di hutan sekitar desa. Dan di bagian akhir, dia jelaskan pesan moral kisah itu: Seperti halnya sebuah hutan sehat yang terdiri dari bermacam-macam binatang yang membuatnya menjadi satu kesatuan yang menyeluruh, desa yang sehat harus mengandung aneka ragam kepribadian dengan sudut pandang dan pendapat yang beragam. Dan seperti halnya flora dan fauna hutan yang hidup bareng, warga harus mampu menerima orang-orang yang berbeda dengan dirinya dan hidup dengan sammakee. Selesai acara itu, wanita di samping saya menowel saya dan berkata, Akulah Badaknya! Para wanita di sekitarnya tergelak dan sependapat, Betul, betul. Dia memang seekor badak!
Tampaknya sammakee adalah bagian integral desa. Pertanian tradisional, hubungan-hubungan ekonomi, kebudayaan, dan spiritualitas, semuanya ini mempromosikan sammakee dan dibentuk olehnya. Penting dicatat bahwa seluruh warga yang diwawancarai benar-benar menekankan bahwa sammakee adalah tradisi yang paling penting untuk dipertahankan. Meningkatnya kemakmuran ekonomi boleh-boleh saja, tapi, pada akhirnya saling berbagi, kemurahan hati, gotong royong, keharmonisan, dan
keramahtamahan harus tetap yang utama di atas segala hal lainnya. (Bersambung)
Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail Beta shows you when there are new messages. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
