Pemberdayaan masyarakat
Pendidikan, Itu Dambaan Kami...
Pendidikan, Itu Dambaan Kami...
Di saat bau busuk bercampur ikan asin masih terus menyeruak di kawasan permukiman kumuh di Blok Eceng, Muara Angke, Jakarta Utara, perdebatan kapan realisasi alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen APBN masih terus berlangsung.
Sangat
mudah mengetahui sumber bau di Blok Eceng berasal. Selain karena onggokan sampah di bawah petak-petak rumah kayu yang berimpit-impit juga karena bau air sungai Kali Adem yang menghitam.
Rumah-rumah berdinding tripleks usang berjajar dalam gang-gang selebar setengah meter. Gang itu tidak terbuat dari tanah tapi dari karung-karung berisi kerang yang jika diinjak berbunyi krepyek-krepyek. Jika air laut pasang, gang-gang itu akan terendam air Kali Adem yang menghitam.
Namun, di balik bau busuk dan ratusan lalat yang beterbangan itu tersembunyi anak- anak cerdas yang punya segudang cita-cita akan kehidupan yang lebih baik. Sayangnya, pendidikan yang memadai masih menjadi sebuah hal yang mewah bagi anak-anak pinggiran ini.
Sulitnya akses pendidikan itu sangat dirasakan
Sanudin (10) sejak dua tahun lalu. Bocah cerdas yang sejak kecil membantu ayahnya melaut itu sejak umur delapan tahun telah merengek- rengek minta masuk ke SD. Meskipun ia tinggal di Ibu Kota, hanya beberapa belas kilometer dari Istana Negara, orangtuanya tidak mampu menyekolahkannya. Tekanan ekonomi membuat anak-anak seperti Sanudin tak mempunyai akses yang cukup pada pendidikan. Bagi orangtua mereka, lebih baik anak-anak bekerja: entah membantu melaut, menjadi buruh pengupas kerang, atau mencari ikan-ikan yang tercecer yang bisa dijual.
Penghasilan keluarga sebagai nelayan tradisional di Muara Angke hanya cukup untuk urusan pangan, sandang, dan papan. Itu pun tidak memadai. Tempat tinggalnya yang terbuat dari kayu berlantai dua ukuran 4 x 6 meter lebih pantas disebut tempat berlindung daripada sebuah rumah.
Sebuah dipan besar tergelar
di lantai satu di samping seperangkat tungku untuk memasak. Botol-botol plastik bekas minuman dalam kemasan menggunung di sudut ruangan. Saat air laut pasang pada sekitar pukul 16.00, lantai satu akan terendam air sungai yang menghitam. Maka Sanudin dan adiknya, Sanusi (8), ayahnya, Ilyas (68), berikut ibu dan dua saudaranya yang lain akan naik ke lantai dua, tempat sebuah pesawat televisi dan onggokan kasur-kasur spon usang terletak.
Saat hujan deras turun, atap rumah yang terbuat dari seng dan plastik itu tidak akan mampu menahan air. Tempias air dan kucuran air dari atap menjadi hal yang biasa.
Sanusi dan Sanudin cukup beruntung mampu bertahan di lingkungan itu. Diduga karena sanitasi yang buruk, separuh dari 10 anak yang dilahirkan ibunya meninggal saat bayi.
"Kami
benar-benar tak punya biaya sama sekali," kata ibu Sanudin, Minggu (11/6), saat ditanya soal pendidikan anaknya. Penghasilan keluarga sebagai nelayan tradisional paling tinggi Rp 50.000 per hari. Saat paceklik, selama tiga bulan mereka tak berpenghasilan sama sekali.
Melihat keinginan Sanudin yang menggebu, perempuan separuh baya itu akhirnya membelikan satu stel seragam sekolah (merah putih) untuk menenangkan anaknya. Namun hingga dua tahun sejak pembelian seragam itu, tak ada tanda- tanda Sanudin akan bersekolah.
Selain tidak ada biaya, pengurusan sekolah Sanudin cukup sulit karena status kependudukannya yang tidak diakui resmi pemerintah. Orangtuanya tinggal di bantaran sungai dan tidak mempunyai kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). Tenaga Sanudin juga sangat dibutuhkan untuk membantu perekonomian keluarga.
Dambaan untuk masuk sekolah baru terwujud setelah bocah itu menunggu selama dua tahun. Sebuah lembaga karitatif yang berlindung dibawah Proyek Kesejahteraan Anak (PKA) Lembaga Daya Dharma (LDD) mengurus sekolah Sanudin. Tahun ini ia akhirnya mendapat kesempatan masuk SD Pluit 04 Petang, Jakarta Utara, duduk satu kelas bersama adiknya, Sanusi.
Ternyata, kedua anak itu tumbuh cerdas. Di sekolah, Sanusi mendapat peringkat pertama, sementara Sanudin di urutan kedua. Mereka juga lancar membaca, menulis, dan bercerita lewat tulisan pendek.
Bagi Sanusi, sekolah dapat membantunya mewujudkan cita-cita sebagai pelaut. Sementara Sanudin tidak menyebut satu profesi pun. Ia hanya ingin dengan sekolah keluarganya menjadi lebih sejahtera.
Dua puluh tahun lalu saat Ilyas, ayah Sanusi dan Sanudin, bermukim di Muara Angke, baru dua keluarga yang menempati bantaran sungai. Seturut waktu, Blok Enceng kini dihuni 749 keluarga dengan 2.000 warga. Sedikitnya ada 600 anak, 200 anak usia SD, dan 400 anak usia TK.
"Sekitar tahun 2000, kami sulit mencari anak yang meneruskan ke SMP di sini," kata Mahmud Hasibuan (26), pengasuh rumah belajar Al Madrasatul Bahrul Iman (Sekolah Lautan Iman) di Blok Eceng, Muara Angke. Rumah belajar yang didirikan tahun 2003 di bawah koordinasi LDD itu dibuat untuk memberi ruang pada anak-anak belajar di rumah.
Lebih dari 700 anak Blok Eceng dan Blok Neas, Muara Angke, setiap minggu belajar di rumah kayu ukuran 4 x 7 meter persegi itu. Dari jumlah itu, baru 107 anak mendapat santunan pendidikan. Masalah ekonomi, telah
menjadi sumber utama anak-anak itu drop out. (WSI)
Sneak preview the all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
