Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah
antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 5)
Swadaya
Secara tradisional, komunitaskomunitas seperti Ban Tha Laad, memiliki tingkat swadaya yang tinggi. Kebutuhan seperti makanan, air, sandang, dan kesehatan disediakan oleh warga sendiri. Tapi dalam beberapa dekade terakhir ini, swadaya tersebut sudah terkikis dan diganti oleh ketergantungan terhadap ekonomi yang lebih besar, ekonomi uang, pendidikan formal, serta administrasi dan pelayanan pemerintah.
Dulu warga menanam atau mengumpulkan makanan mereka sendiri. Padi digiling dengan tangan dan uang hanya digunakan saat membeli dan menjual ternak. Karena hanya memproduksi untuk diri sendiri dan bukan untuk ekonomi yang lebih besar, mereka menggunakan lebih sedikit tanahbiasanya tidak lebih dari empat atau lima rai per keluarga. Kasus kelaparan sangat langka. Kain dari kapas dan sutera dipintal dan ditenun, lalu dijahit menjadi pakaian tradisional. Meski swasembada terhadap dunia luar, tapi, secara internal desa itu sangat saling bergantungan. Penduduk saling berbagi makanan, tukar-menukar barang untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan tergantung pada sesama untuk hiburan. Mereka bergotong royong dalam bercocok tanam, membangun rumah, dan mengerjakan proyek-proyek komunitas.
Sekarang warga masih mengambil rebung bambu, jamur, dan herba dari hutan dan memancing di telaga. Tapi semua mengutarakan tentang kurangnya ikan serta langkanya tumbuh-tumbuhan yang dulu berlimpah. Sekarang ikan harus diternak di kolam atau dibeli di pasar karena sulit sekali ditemukan di kali maupun pesawahan. Sesungguhnya, dari kelimpahan menjadi kelangkaan, adalah tema kebanyakan
percakapan warga mengenai sumber-sumber makanan tradisional mereka. Mereka mengaitkan kelangkaan ini pada tiga faktor: penggundulan hutan besar-besaran yang berlangsung di distrik itu sejak tahun 1950an, tekanan pertambahan penduduk, dan meningkat tajamnya penggunaan bahan kimia pertanian yang beracun. Tapi, beberapa orang sesepuh berargumen bahwa pasar memainkan peran yang signifikan. Penduduk desa telah memanen ikan, katak, jamur, dan rebung bambu dari lingkungan dalam jumlah yang lebih besar untuk di jual di pasar. Semua faktor ini, tidak diragukan lagi, turut berperan dalam menguras persedian makanan tradisional secara signifikan. Dan pada saat yang sama, warga desa juga terekspos produk-produk baru melalui TV, radio, koran, dan migrasi. Makanan belian dalam rumah tangga jumlahnya lebih besar sekarang dan harganya pun dilaporkan terus meningkat. Beberapa manula merasa makanan mereka sekarang kurang sehat.
Keluarga mengonsumsi lebih banyak gula, makanan olahan, dan varietas ayam dan ikan baru. Beberapa orang mencemaskan tingkatan kimiawi dalam makanan ini. Makanan, kata mereka, dulu lebih segar dan lebih murni. Selain itu, barang-barang pabrikan seperti saus ikan dan MSG [micin], yang dulu dianggap sebagai barang mewah sekarang dianggap esensial.
Kni isi lemari pakaian warga adalah hasil belian bukan buatan. Bahkan untuk anak-anak pun, keluarga harus membeli seragam sekolah. Seorang tua menyatakan kesedihannya akan seni membuat kain dan pakaian yang perlahan-lahan mulai lenyap.
Dulu kami menenun semua pakaian kami. Kami menanam kapas, memintal, mencelup, dan menenun. Kami tidak perlu
membeli apapun
Sekarang hanya ada tiga keluarga yang tanam kapas di sini dan menenun untuk mereka sendiri. Kebanyakan orang membeli bahan celup dan benang sintetik sekarang. Hanya sedikit manula yang tahu cara memintal benang sekarang
Jadi sarung yang dihasilkan sekarang tidak seindah dulu lagi.
Seorang sesepuh lain melaporkan bahwa perkakas tenun baru dan suku cadang untuk perkakas tenun tua makin
sulit ditemukan sekarang karena tidak ada lagi yang membuatnya. Sekarang beli pakaian sudah jadi kebutuhan ketimbang kemewahan.
Dulu keluarga-keluarga membuat sendiri barang rumah tangga mereka seperti keranjang dan tikar. Beberapa orang sepuh khawatir keterampilan-keterampilan itu sedang dalam proses kepunahan sekarang. Seorang lelaki tua yang penglihatannya memburuk secara perlahan, menyatakan penyesalannya bahwa sejumlah kecil orang yang masih mampu menganyam keranjang yang secara tradisional digunakan untuk menampung beras, semuanya sudah
berusia di atas 40 tahun ke atas.
Dengan cara-cara tadi, menurunlah kemampuan komunitas untuk menyediakan sendiri kebutuhan dasarnya (makanan, pakaian, dan alat-alat rumah tangga), hasilnya pun macam-macam. Tapi swadaya bukan hanya turun dalam penyediaan kebutuhan dasar saja. Sekarang warga juga merasakan tekanan untuk menghasilkan pendapatan untuk membeli barang mewah produksi luar.
Orang mengasosiasikan pembangunan jalan yang menghubungkan desa dengan Kud chum, ibukota
distrik itu dengan dimulainya pembangunan modern. Jalan itu menghubungkan desa dengan dunia luar secara yang nyata sekali. Para pejabat pemerintah mulai berdatangan ke desa, kerja perusahaan-perusahaan penebang kayu difasilitasi, rumah sakit dan klinik dibangun, para pekerja kesehatan berkunjung, sekolah dibangun, dan warga desa memperoleh akses yang lebih mudah ke pasar yang lebih besar. Meningkatlah jumlah tuk-tuk, kendaraan kecil bermotor, truk, dan mobil yang mengangkut orang pergi ke dan dari desa. Dua puluh satu dari 53 KK yang disurvei pada tahun 1994 punya motor, tiga dari KK tersebut punya dua motor, dan sembilan KK punya mobil atau truk.
Kebanyakan penduduk desa merasa senang ada listrik, tapi merasa mahal. Sebelum listrik masuk, warga menggunakan lampu minyak tanah, bukan bolham. Masuknya listrik membuat kemewahan-kemewahan lain menjadi mungkin juga. Kipas angin, penanak nasi, dan TV sekarang merupakan barang rumah tangga yang umum.
Banyak warga masih menganggap barang-barang yang lebih besar seperti kulkas, tidak perlu dan mahal; tapi, beberapa keluarga sudah mulai membelinya. Walaupun biaya rumah tangga meningkat drastis sejak listrik tersedia pada tahun 1989, biaya cenderung akan terus meningkat karena keluarga-keluarga mulai membeli peralatan-peralatan rumah tangga yang lebih besar.
Relatif mudah menguantifikasi perubahan-perubahan yang bersifat materi di desa dan mengamati pergeseran dalam swadaya ekonomi. Yang lebih sulit dikaji dan mustahil dikuantifikasi adalah perubahan dalam swadaya kultural. Dulu, warga desa bisa dikatakan swadaya secara kultural karena mereka mampu
menghasilkan sendiri peraturan dan nilai-nilai sosial mereka sendiri. Perubahan dalam swadaya ekonomi telah menyebabkan perubahan dalam swadaya kultural. Misalnya, ketersediaan TV telah menimbulkan dampak dramatis terhadap cara-cara lokal. Nilai-nilai baru dibawa masuk ke dalam rumah-rumah desa. Phra Khru Supajarawat merenungkan,
Begitu TV masuk ke desa, anak-anak muda meniru feshyenseperti memakai jins yang mereka lihat di film-film. Saling berbagi
dan kebajikan pun berkurang. Mereka harus membeli barang-barang dan mereka tidak lagi berbagi. Sekarang mereka harus bawa uang
Anak-anak muda meniru semua yang berbau Barat.
Selain itu, diperkenalkannya pendidikan formal, sistim administratif politik nasional, sistim pengadilan, dan program pembangunan pemerintah berdampak langsung secara lebih jauh terhadap kemampuan komunitas untuk mempertahankan swadaya kulturalnya.
Secara tradisional para biku dan para sesepuh menurunkan seluruh pengetahuan mereka ke generasi berikutnya. Sekarang anak-anak pergi sekolah dan diajar orang luar dalam bahasa Thai (bukan dialek Esarn asli mereka sendiri). Mereka hormat kepada guru mereka yang dididik di luar desa dan terpengaruh bias mereka. Seorang guru mengambarkan komunitas Ban Tha Laad sebagai tidak berpendidikan dan terbelakang. Dia harap pendidikan formal dapat membantu komunitas berkembang. Kebanyakan anak mendapat lebih banyak pendidikan formal daripada orang tua mereka. Ini membuat para biku dan para sesepuh
kurang relevan lagi bagi anak muda dan membuat pengetahuan asli setempat lebih sulit diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebenarnya, hampir semua orang merasa melek huruf penting sekarang. Warga harus terdidik untuk melakukan perbankan mereka sendiri, meminjam uang, dan membeli atau menjual tanah. Transaksi sekarang dilakukan dalam bentuk tunai, bukan lagi barter langsung dan penekanannya pun bergeser dari
persetujuan dan pencatatan lisan ke tulisan. Jadi dalam hal pendidikan: guru, proses, dan isinya, semuanya telah berubah dalam dua generasi.
Administrasi di Ban Tha Laad diatur oleh Departemen Keamanan Internal yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri. Ada seorang kepala desa serta empat orang RW dan wakil RW. Secara tradisional, komunitas tidak diorganisir sedemikian formal,
pemimpin alami muncul dengan sendiribiasanya dari para sesepuh ataupun para biku. Sekarang kebanyakan administrator baru desa berusia setengah bayasedikit lebih muda daripada para sesepuh di desa. Mereka sangat suportif terhadap gagasan pembangunan pemerintah dan biasanya menerima cukup pendidikan untuk membaca dan menulis. Pertemuan formal dan dokumen tertulis menjadi penting dalam pemerintahan desa sekarang dan partisipasi para sesepuh dalam politik 'resmi' tampak terbatas. Hingga batas tertentu, para administrator baru ini telah menggeser para sesepuh meskipun para sesepuh di Ban Tha Laad masih sangat dihormati. Seiring dengan diadopsinya sistim administrasi baru dan terjadinya pergeseran peran, proses-proses tradisional organisasi komunitas tersebut yang telah diturunkan dari generasi ke generasi dibuat tekuk lutut dengan cepat.
Pengadilan dan proses pengadilan modern semakin mengikis peran tradisional para sesepuh. Phra Khru Supajarawat berkata,
Dulu, ketika pasangan sedang dalam konflik atau saat tetangga dengan tetangga tidak sepakat mengenai tanah ataupun apa saja, mereka akan meminta para sesepuh untuk menyelesaikan masalah dan berjanji akan menjalankan solusi tersebut. Jadi para sesepuh berperan sebagai mediator. Tapi jika para sesepuh tidak bisa mengatasi sengketa tersebut, mereka akan mendekati para biku
Tapi sekarang para pejabat pemerintah sedang memperkenalkan konsep-konsep baru untuk membuat warga tidak lagi memercayai cara-cara tradisional mereka. Mereka tidak bertanya lagi kepada para biku. Mereka bawa kasusnya ke pengadilan dan siap tempur di pengadilan, dan berharap hukum memutuskan segalanya. Dengan demikian, peranan para sesepuh dan para biku menjadi berkurang. Dan sekarang uang sudah masuk ke dalam arena, suap menjadi mungkin untuk memengaruhi hasil akhir kasus...
Dulu, orang hidup dengan struktur dan peraturan sederhana, dan menyelesaikan konflik serta berkompromi. Tapi sekarang sudah jauh lebih rumit dan proses legal tersedia. Kita tidak perlu tergantung pada proses legal. Karena proses ini mengambil dari tangan komunitaspeluang untuk menyembuhkan dan berkompromi, serta menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Bukan hanya pendidikan, administrasi, dan keadilan komunitas yang telah diambil dari tangan komunitas, kendali atas pembangunan desa juga mengalami perubahan serupa. Melalui berbagai inisiatif pembangunan pemerintah, desa dibuat menjadi "lebih rapi." Patrun daerah pemukiman digambar ulang agar bisa masuk ke dalam petak-petak yang lebih teratur. Rumah-rumah dipindahkan untuk mengakomodir rencana ini. Halaman-halaman dibersihkan dan pagar-pagar didirikan untuk menandai batas-batas
properti. Warga mengatakan mereka bangga desa mereka sekarang lebih rapi, walau ada juga beberapa orang yang agak tersinggung saat para pejabat datang dan mengatakan kepada mereka bahwa pekarangan mereka "kotor." Satu pria mengomel bahwa meskipun para pejabat yang berkunjung tidak menyukai gundukan komposnya, tapi mereka dengan senang hati melahap buah-buahan dari kebunnya. Mencerminkan pandangan para warga lainnya, seorang warga menjelaskan:
Para pejabat dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Dalam Negeri sering datang terutama selama kontes-kontes desa. Penduduk desa berusaha mempercantik segalanyamenaruh bunga mawar dsbnya, tapi itu bukanlah pembangunan yang sesungguhnya. Mereka merapikan desa, tapi para pejabat bukan benar-benar ingin membantu warga. Mereka hanya ingin mendapatkan kenaikan pangkat dari kontes-kontes tersebut.
Seorang sesepuh juga mencermati bahwa ketika para pejabat pemerintah datang untuk kontes pembangunan, hewan-hewan dijagal untuk menjamu mereka. Para pejabat itu disambut dengan begitu banyak makanan dan mereka juga minum banyak bir setempat, tapi setelah itu, mereka menghilang dengan cepat hingga kontes berikutnya. Para pejabat, sesepuh ini mencermati, menuntut dihormati, tapi jarang sekali memberikan balasan.
Jadi hanya dalam tempo beberapa dekade saja, komunitas Ban Tha Laad telah banyak kehilangan swadaya. Pada saat yang sama, warga lebih sering mengeluh meningkatnya biaya hidup. Hanya dalam waktu singkat, mereka mulai harus membayar makanan, pakaian, peralatan rumah tangga, TV, renovasi, ongkos transportasi ke kota, motor, mobil, obat-obatan, pompa air, pupuk kimia, benih hibrida, mesin pertanian, penggilingan padi, dan listrik. Dalam banyak hal, hidup memang lebih mudah, tapi biaya rumah tangga meroket. Dan para sesepuh juga mencermati bahwa anak-anak sekarang tidak tahu bagaimana hidup
bahagia tanpa uang. Beberapa di antaranya cemas anak-anak akan menjadi lebih banyak kebutuhan dan terjebak dalam pemuasan diri.
Pembangunan modern telah membuka desa terhadap banyak pengaruh baru. Ekonomi uang tunai mendominasi sekarang dan
sistim barter tradisional serta timbal balik mulai memudar. Kini warga jauh lebih tergantung pada dunia luar. Harga hasil bumi tidak ditentukan di desa dan penghasilan harus dijaga relatif tinggi untuk mengimbangi derap maju biaya yang terus meningkat. Banyak produk yang dibeli tidak dihasilkan di desa dan warga tidak punya kendali atas harga produk-produk jadi tersebut. Phra Khru Supajarawat berkata, Kami dieksploitasi baik dengan menjual (hasil bumi) secara murah maupun membeli barang-barang (konsumen) yang mahal.
Sekarang setelah warga terhubung lebih dekat dengan dunia luar, sulit bagi mereka untuk menolak atau mengubah nilai-nilai baru yang diperkenalkan ke dalam komunitas. Swadaya dalam hal produksi, hubungan-hubungan ekonomi, kebudayaan, organisasi komunitas, ikatan spiritual dan sosial turun drastis hanya dalam satu generasi saja. Kalau hanya penurunan ini sendiri saja masih belum begitu parah; yang lebih parah lagi adalah hal-hal yang kemudian datang menggantikan swadaya, yaitu ketergantungan pada migrasi, layanan
pemerintah, pembangunan daerah pedesaan, pendidikan formal, media massa, dan pasarbelum menunjukkan diri mereka benar-benar bisa diandalkan dalam mencapai peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan. Salah satu indikasi terbesar menurunnya swadaya dan kegagalan sistim-sistim modern mengantikannya secara memadai adalah munculnya masalah baru, yang umum terjadi di hampir semua rumah tangga di desa itu yaitu hutang. (Bersambung)
Penulis adalah seorang ibu baru yang tinggal di Vancouver, Kanada. Dia bersyukur sekali memperoleh kesempatan untuk menuliskan makalah ini dan memikirkan hal-hal di luar menggantikan popok dan mengelak lemparan sendok penuh makanan bayi. Riset orisinil makalah ini dapat dilakukan berkat pendanaan dari Canadian International Development Agency, the International Development Research Centre dan the University School of Rural Planning and Development di Universitas Guelp, Kanada.
Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail Beta shows you when there are new messages. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
