Phra Khru Supajarawat:
Menemukan Jalan Tengah antara yang Modern dan yang Tradisional
Sherry Yano
Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto
(Bag 7)
Relevansi Budaya Tradisional dan Spiritualitas
Semua warga yang diwawancarai mengatakan bahwa budaya tradisional masih sangat penting. Ia adalah lem yang merekatkan komunitas. Ikatan-ikatan sosial dikuatkan bukan hanya karena memiliki identitas kultural yang sama, tapi juga oleh ajaran dan tradisi mereka sendiri yang mempromosikan keharmonisan dan persatuan.  Seorang pria menyatakan perasaan yang umum dimiliki warga desa segala usia,
�Ya, budaya tradisional penting sekali, bahkan hingga hari ini. Ia berasal dari leluhur kami. Ia adalah cara menumbuhkembembangkan kerja sama, saling berbagi, dan kebajikan di antara warga. Tradisi adalah aturan-aturan yang menumbuhkembangkan empati dan kebajikan.�
Seorang pria yang lebih muda menjelaskan dengan nada serupa, "Agama Buddha diperlukan untuk mengajarkan moralitas dan saling menghormati.� Ia mempromosikan nilai dan menjadi panduan tindakan individual untuk mendorong para anggota komunitas untuk saling memperhatikan. Ia memungkinkan warga untuk hidup bersama secara lebih harmonis.
Warga meyakini dengan kuat bahwa desa tidak boleh kehilangan budaya dan tradisinya. Saat membayangkan akan seperti apa kehidupan bagi warga desa tanpa hal-hal ini, yang muncul adalah gambaran yang suram. Seorang pemuda berusia 21 tahun mengatakan bahwa jika budaya terkikis, 
�Desa-desa ini akan menjadi lebih mirip kota dan anak-anak tidak akan percaya kepada orang tua mereka dan warga akan saling bersaing dan saling mengeksploitasi. Warga akan berjuang untuk ketenaran dan status untuk mereka  sendiri, dan kemurahanhati akan hilang.�
Tapi kehidupan desa berubah dengan cepat sekali dan peranan tradisi bergeser di dalamnya. Migrasi, televisi, pendidikan, negara, dan ekonomi pasar menyebabkan membludaknya cara dan nilai-nilai baru. Phra Khru Supajarawat menyatakan,
�Masyarakat kota merusak sekali bagi kehidupan desa�Kekuatan uang mengikis kemanusiaan warga. Dulu, warga hidup bersahaja dan memakan apa saja yang mereka miliki, tapi kehidupan modern mengajarkan mereka untuk menginginkan dan membutuhkan uang dan pergi ke kota-kota untuk menjadi pegawai, pelacur, atau buruh.�
Bahkan di desa sendiri, fragmentasi sosial semakin meningkat. Seorang biku yang lebih muda di Wat Tha Laad berkata,
�Dulu�festival dan tradisi dipenuhi dengan suka cita dan warga menikmatinya. Mereka bahagia. Mereka lebih terbuka dengan masalah dan opini. Ada ikatan kekeluargaan yang erat antarsanak saudara.  Sekarang warga tidak lagi bahagia�Sulit untuk menemukan orang yang rela berkorban untuk orang lain. Warga enggan melakukan sesuatu secara cuma-cuma untuk kepentingan komunitas sekarang.�
Warga mencatat perubahan-perubahan yang tidak begitu kentara tapi merusak dalam cara hidup mereka. Satu generasi lalu, masih umum untuk melihat keluarga besar tinggal bersama di bawah satu atap. Beberapa warga melaporkan bahwa rumah tangga sekarang kemungkinan besar adalah keluarga inti yang kemungkinan anak-anaknya ada bekerja di luar desa. Dan bukan hanya jumlah orang yang tinggal seatap yang berubah, bahkan atapnya sendiri pun mulai berubah. Dulu, memamerkan kekayaan secara berlebihan dianggap vulgar dan tidak pantas. Rumah sederhana saja tapi fungsional dan warga hanya membutuhkan makanan dan material sederhana dalam festival dan perayaan. Sekarang rumah beton mulai bermunculan, warga memakai lebih banyak perhiasan emas dan keluarga-keluarga memotong hewan yang lebih besar dan lebih banyak serta menghabiskan lebih banyak uang untuk perayaan. Seorang warga bertanya-tanya apakah orang-orang desa mulai �sok pamer.�
Perubahan dalam cara hidup komunitas, bahkan perubahan yang tampaknya tidak membahayakan seperti memasang pipa air ke masing-masing rumah, dapat berdampak tidak begitu kentara tapi merusak pada nilai-nilai tradisional komunitas dan gotong royong. Pada tahun 1994 sistim persediaan air komunitas dipasang. Sebelum itu, warga menampung air hujan dan membawa air dari kolam-kolam. Malangnya, kerja publik macam ini tergantung kepada para pejabat, teknisi, dan suku cadang dari luar. Selama paruh akhir tahun 1994, sistim air tidak berfungsi. Walaupun seluruh warga desa menghargai sistim air yang baru itu, tapi, ia berdampak bagi kehidupan komunitas dalam cara yang tidak seketika terlihat jelas. Dulu warga sering berjalan bersama untuk mandi di kolam, sekarang mereka mandi sendiri-sendiri di rumah. Anak-anak desa dulu membawa air ke kamar mandi wihara. Mereka membagi diri mereka ke dalam tujuh kelompok untuk membawa air ke wihara setiap hari dan merawat bibit-bibit pohon yang ditanam di halaman wihara.  Membawa air ke wihara merupakan kebutuhan dan dari situ anak-anak belajar bergotong royong dan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas komunal. Sekarang,  kran-kran air telah dipasang di wihara dan kelompok-kelompok itu sudah dibubarkan�memutuskan satu lagi keterkaitan yang sangat konkrit antara anak-anak dengan wihara dan mengurangi pengalaman bergotong royong generasi berikutnya.
Seperti telah disampaikan sebelumnya, peran para sesepuh bergeser saat sistim administratif dan pengadilan dari luar diadopsi. Tapi, sekalipun peran mereka berganti, mereka masih tertanam kuat pada kebudayaan desa. Anak mudalah yang terperangkap secara lebih konkrit antara yang modern dan tradisional. Para sesepuh berbicara tentang banyaknya perubahan pada anak muda. Mereka tidak tertarik pada agama Buddha, budaya setempat, dan tradisi. Dulu mereka lebih terintegrasi ke dalam komunitas, lapor para sesepuh. Mereka menemani para sesepuh ke berbagai perayaan dan mengunjungi mereka di rumahnya masing-masing. Sekarang, bahkan anak-anak muda yang tinggal di desa sekalipun, lebih peduli kepada dirinya sendiri. Dan mereka umumnya hanya ke wihara  pada kesempatan-kesempatan tertentu dan hari-hari keagamaan saja. Sedikit sekali anak muda yang memohon ajaran Buddha dari para biku. Cerita-cerita rakyat dan legenda-legenda sedang menuju liang kubur bersama para sesepuh dan tidak bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Budaya dan tradisi, kata para sesepuh , �membuat hidup indah.� Dan mereka mencemaskan anak muda tidak tertarik lagi pada hal-hal ini. Jadi kelihatannya partisipasi anak muda dalam kebudayaan desa dan integrasi generasi muda ke dalam komunitas semakin berkurang.
Secara tradisional, semua pemuda ditahbiskan sebagai biku paling tidak selama satu musim hujan. Sekarang lebih sedikit pemuda yang memasuki kebikuan. Tak satu pun pemuda yang ditahbiskan sebagai biku atau samanera di wihara selama masa wasa tahun 1994.
Dulu, anak laki-laki dididik di wihara. Sekarang, anak-anak pergi ke sekolah-sekolah sekuler yang sama sekali terpisah dengan wihara. Anak-anak tidak lagi dekat dengan para biku. Phra Khru Supajarawat mengatakan bahwa sekarang anak-anak dididik dengan menggunakan bahan ajar dan metode-metode yang asing, mengakibatkan   anak-anak terasing dari budaya mereka. Bukannya dikuatkan, nilai-nilai spiritual dan kultural malah semakin dilemahkan. Seorang biku muda di wihara berkomentar,
�Dharma, tradisi, dan kerendahan hati tidak diajarkan. Pendidikan modern menggunakan guru  awam dan sama sekali tidak mengajarkan agama dan cara mereka mengajar beda sekali. Mereka merendahkan agama.�
Meskipun ada perubahan-perubahan ini, wihara masih terus berfungsi sebagai pusat desa secara fisik, sosial, kultural, dan spiritual. Dua anak muda menjelaskan,
�Wihara sangat penting. Ia adalah tempat untuk melatih dan mendidik warga dan merupakan pusat komunitas. Ia adalah pusat spiritual desa. Jika wihara hilang, warga akan kehilangan spiritualitas dan moral mereka.�
Warga mempersembahkan makanan untuk para biku setiap hari dan makanan ini dibagi dengan orang orang yang datang. Selama seharian warga silih berganti mampir ke wihara untuk berbincang dengan para biku. Meditasi diajarkan. Warga berkumpul di wihara untuk pendidikan informal dan mendiskusikan macam-macam subyek�pertanian alami, pengobatan herbal, perlindungan hutan, dsbnya�Pos kesehatan, sauna desa,  tempat pembibitan pohon dan tanaman herbal, dan tempat membaca koran, semuanya terletak di halaman wihara. Warga berpartisipasi di wihara dengan memasak, bersih-bersih, membuat barang untuk wihara (seperti bantal dan selimut), berdana barang (seperti lilin, uang, dan tenaga), mengunjungi para biku, dan bergabung dengan kelompok seperti kelompok pengobatan herbal, kelompok ibu, dan komite kebudayaan. Pada sore hari, anak-anak bermain bersama di halaman wihara dan pada hari keagamaan dan festival, warga  berrkumpul di wihara. Tapi tetap saja, terlihat sekali kurangnya muda-mudi yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan wihara. Walaupun semua anak muda yang diwawancarai merasa krusial sekali ada para biku di wihara dan bahwa agama Buddha masih tetap kuat dalam komunitas, tapi, mereka sendiri tidak begitu tertarik untuk mempelajari agama Buddha lebih jauh.
Pada saat yang sama, banyak anak muda yang diwawancarai tampak bangga pada budaya dan tradisi mereka. Meskipun mereka tidak sering ke wihara atau berpartisipasi ke dalam berbagai festival dan perayaan sedalam orang yang lebih tua, mereka terus dipupuk dan merasa nyaman di dalam, ikatan kultural mereka dengan komunitas mereka.
Dalam beberapa wawancara dengan anak muda, ada indikasi pergumulan internal dalam merekonsiliasi latar belakang tradisional mereka dengan realitas-realitas modern yang cenderung merendahkan tradisi-tradisi ini. Begitu mereka memasuki dunia modern,  akan mengejutkan sekali jika mereka tidak mempertanyakan apakah tradisi spiritual dan kultural mereka masih akan tetap relevan dan membantu mereka menentukan arah perjalanan mereka dalam mengarungi kehidupan modern. Seorang pemuda berkata, �Kadang sulit untuk mengikuti nasihat orang tua kami dan tradisi-tradisi lama karena masyarakat telah begitu banyak berubah.� Tapi, mereka tetap mengatakan  akan berusaha mempertahankan apa yang berarti dan berharap untuk menurunkan nilai-nilai tersebut ke anak-anak mereka.
Bahkan dengan adanya perubahan-perubahan yang telah melanda seluruh daerah pedesaan, Ban Tha Laad masih terus melestarikan banyak cara tradisionalnya.  (Bersambung)


Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Beyond belief Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke