Agar Sampah Jadi Uang

Setiap membangun 300 rumah, harus ada lahan kosong 1000 meter

Pelan, tapi pasti, depok mulai kewalahan mengurus sampah. Bayangkan, yang dibuang secara asal di jalan jumlahnya berlipat-lipat ketimbang yang di parkir di tempat pembuangan sampah.

Data dinas kebersihan dan lingkungan hidup menyebutkan setiap hari Depok memproduksi 3.000 meter kubik sampah yang 76% berasal dari rumah tangga. Jumlah yang masuk tempat pembuangan akhir sampah Cipayung, Pancoran Mas, hanya 700-800 meter kubik.

"Nah, sisanya itu yang di buang di jalan, pinggir kali, dan pasar," kata Kepala Dinas Walim Herwandi. Termasuk yang dikelola sendiri oleh warga dengan cara dibakar dan dikubur.

Setidaknya ada 17 titik tumpukan sampah di lokasi pemukiman, diantaranya di jalan merdeka, Kecamatan Sukmajaya; jalan jawa; Kecamatan Beji; dan jalan Sukamaju, Kecamatan Cimanggis.

Tak mengherankan jika Aziz Hidayat, 30 tahun, mulai pusing tujuh keliling. Tukang angkut sampah di Depok ini sulit mencari tempat untuk memarkir angkutannya.

"Masyarakat sering protes," katanya.

Sulitnya mencari area untuk membuang sampah, tak urung pinggir kali jati baru, persis depan kantor kelurahan cisalak, misalnya, jadi lokasi pembuangan. Di sini, volumenya mencapai 40 meter kubik per hari.

Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat di Depok tidak hanya di sekitar pasar dan pinggir sungai. Tapi juga di beberapa kawasan peermukiman.

Menurut Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail, hal itu terjadi akibat pemahaman masyarakat tidak tepat. Sampah hanya diperlakukan sebatas dikumpulkan, diangkut, kemudian di buang, selesai persoalan.

Semestinya cara berpikir tentang sampah seperti itu diubah menjadi reduce, reuse, dan recycle. Intinya, sampah harus bisa dimanfaatkan kembali.

Dengan sistem pengelolaan seperti ini, sampah bukan lagi masalah, tapi aset yang mendatangkan uang. "Sampah bisa menciptakan tenaga kerja," ujarnya.

Dengan ide inilah Nurmahmudi mencanangkan sistem pengolahan dan pengelolaan sampah terpadu sebagai program kerja jangka menengah. Program ini menghajatkan berdirinya unit-unit pengolahan sampah berbasis kawasan, seperti di permukiman penduduk, industri, pasar tradisional dan modern serta area publik.

Teknisnya, sampah dipilah menjadi tiga bagian, yang padat didaur ulang, seperti plastik, kertas dan kaleng; yang jadi kompos, semacam sampah makanan dan farmasi; atau sampah yang bisa jadi abu.

Untuk keperluan ini, dana yang dibutukan Depok sudah kelihatan. Kata Nurmahmudi, satu unit pengelolaan sampah seharga Rp 500 juta, kapasitasnya 30 meter kubik perhari. Ongkos operasional Rp 300 juta setahun.

Saat ini baru ada satu unit yang berdiri atas lahan 12 x 18 meter persegi. Terpasang di Perumahan Griya Tugu Asri RW 11 Kelurahan Tugu, Cimanggis.

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat kelurahan Tugu, yang jadi pengelola, mempekerjakan 12 orang. Saili, ketua Lembaga Pemberdayaan menyatakan uang hasil pengolahan sampah digunakan untuk mendanai biaya operasional, termasuk membayar upah pekerja.

Depok, kata Nurmahmudi perlu 55 unit pengolahan sampah. Tentu ini tidak bisa ditangani sendiri oleh pemerintah kota madya.

Sebagai pemanasan, Nurmahmudi sudah mengeluarkan imbauan, diantaranya para pengembang yang ingin membangun perumahan baru minimal 300 unit harus menyediakan lahan sampah 1000 meter persegi. Kebijakan ini juga berlaku bagi pusat perbelanjaan.

Wakil ketua kantor dagang indonesia Depok Dahlan Muhammad mengatakan para pengembang tidak berkeberatan. Tapi pengusahan bisa memasukkan biaya pengolahan sampah ke dalam harga rumah. Artinya, harganya bisa naik.

Koran Tempo, hal. A14; Rabu 28 Juni 2006


J u n a i d i
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, Bandung, West Java - Indonesia

Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 808 55

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva


How low will we go? Check out Yahoo! Messenger�s low PC-to-Phone call rates. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke