Dari miling tetangga. Entah benar atau hanya karangan ilusi, tetapi 
menarik juga untuk disimak...

Mitos dibuat sebagai alat untuk melarikan diri dari tanggung-jawab? 
Mitos menjadi selubung untuk tidak perlu belajar dari kesalahan dan 
malapetaka!

-------------------------

--- Forwarded Message ---

Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah

Sudah lama aku tidak bertemu Mbah Maridjan, dikarenakan aku harus 
pergi ke luar kota menuntut ilmu. Setelah gempa di Jogja yang 
membikin hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua 
santri disuruh pulang. Aku segera teringat Mbah Maridjan, bagaimana 
kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa.

Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau 
tidak ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih 
agak basah, sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk.
Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di 
tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil 
beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering). Setelah 
dekat, kulihat Mbah Maridjan yang sedang menyalakan rokok 
lintingannya. Baunya menyengat, tetapi segar apalagi ditambah 
suasana sore yang semilir.

" Mbah, Mbah, bagaimana ini Mbah, musibah datang silih berganti, 
sepertinya sudah waktunya kita melakukan tobat nasional. Mbah 
Maridjan malah tenang2 saja"

" Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi 
musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le."

" Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 
kita, sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah."

" Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le"

Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah 
Maridjan ini.

" Hhhmm, maksud Mbah Maridjan.?"

" Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya 
tidak dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye.Tuhannya saja 
nggak tabah, ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi"

" Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan."

" Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa, yang 
dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang 
itu, itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa 
ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis 
disuruh menghormati Adam, suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis 
itu pinter, ya dia nggak mau, dia hanya mau sujud dan hormat kepada 
Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat. Ingat 
pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena homoseksualitas 
saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa, jangan 
pula salahkan umatnya kalau kekanak2an. "

Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang 
mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. 
Sungguh2 gila Mbah Maridjan ini, berani2nya menggoyang tahta 
diktatur Tuhan.

" Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus 
lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 
kita."

" Hahahahahaha........."

Mbah Maridjan tertawa terkekeh2, sampai terbatuk2, sambil melihat 
dengan pandangan lucu kepadaku.

" Kamu ini Le, produk jaman modern koq berpikirnya idiot kaya gitu. 
Kalau banyak orang berdosa, dosa mereka kan kepada alam dan sesama 
manusia. Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan 
baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta 
ampunlah kepada manusia2, berhenti korupsi, bantulah para fakir 
miskin, peliharalah yatim piatu, jalankan negara dengan jujur dan 
bersih. Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama 
Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia."

" Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa 
lepas dari derita ini."

" Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita 
sendiri, kamu boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau 
kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang 
Jepang, kena gempa mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin 
gedung dan rumah yang tahan gempa. Lihat orang Belanda, kena banjir 
banding mereka itu, tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa, 
sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir. Lihat orang2 Eropa, 
dikaruniai penyakit pes, sampai separuh penduduknya mati, tapi 
mereka memperbaiki diri, dan hidup sehatlah mereka sekarang. Bencana 
itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali."

Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu 
bisa membolak-balik perpektif. Dan dia sudah berani mempermainkan 
syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku.

"Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam 
dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia 
ini. Kitalah yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu."

Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil 
bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya.

" Oalah Le, kalau mau jujur sih. Karena konsep Tuhan itu 
diejawantahkan oleh manusia yang egosentris, akhirnya manusia tambah 
kelihatan egois. Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak 
gitu, dan itu pandangan antroposentrismu, kuno sekali cara 
berpikirmu Le. Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa alam."

" Ya biarin Mbah, pandangan antroposentris kan lebih baik daripada 
percaya hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai 
Plered, Kebo Kiai Slamet hahahaha..., kebo koq dianggep kiai."

" Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul 
itu kan cuman mitos Le, para kawulo cilik seperti kita ini kan 
sering ditipu sama para penggede2 istana. Raja2 Mataram jaman dulu 
malu karena di Segoro Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan 
tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis, jadi mereka menghibur 
diri dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul, seolah2 mereka masih 
menguasai Segoro Kidul (Samudra Hindia= red), memperistri penguasa 
Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi Roro Kidul, 
kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho mbodhoni 
wong mesisan."

Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya 
Nyi Roro Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini.

" Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus 
bergerak Mbah."

" Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. 
Kamu yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari 
tidurnya, sadarkan orang dari sikap fatalis menghadapi musibah. 
Sudah sana, belajar yang bener, santri kalau kerjaannya main PS 
terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus, pangertene 
mbladhus(ilmunya bohong, pengertiannya kacau). Belajar sana 
bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran, jangan 
hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun harus kau pelajari, 
dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari."

Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan 
merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu.

" Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini 
akan benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang 
membutuhkan, banyak itu sepanjang kaki Merapi."

Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung 
memikirkan apa maksud kata2 Mbah Maridjan yang terakhir tadi.

Peace,

Amin
www.rakyat.cjb.net









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke