Memikirkan Republik
FRANCISCUS WELIRANG
Siapa pun anak bangsa yang mau sedikit merenung, dia akan gemetar jika memikirkan masa depan Indonesia. Utamanya apabila faktor China dan India diperhitungkan. Karena kedua negara itu, secara sadar dan terencana, masing-masing berniat menguasai pasar hardware dan software dunia.
Target waktu yang mereka tetapkan adalah tahun 2020.
Melihat geliat kedua negara tersebutdan pusaran ekonomi global yang semakin cepattidak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali mencari terobosan alternatif. Tanpa langkah itu, rasanya sulit bagi republik untuk bisa bertahan dari gempuran global.
Pendeknya, kelangsungan hidup bangsa sangat tergantung pada kemampuan kita dalam memahami persoalan mendasar yang kita hadapi. Selain itu juga sangat tergantung pada keberanian kita dalam mengambil keputusan politik bersama. Tanpa langkah itu, sumber daya ekonomi dan politik yang ada tidak akan bergerak maju. Ia akan seperti tertahan karena menentang arah angin.
Situasi amuk
Siapa pun
presiden di republik ini akan dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu pertumbuhan penduduk. Oleh sebab itu, kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan hanya akan tercapai apabila seluruh sumber daya ekonomi-politik yang ada difokuskan untuk menghadapi masalah tersebut.
Hal itu disebabkan masalah kependudukan menjadi hulu ledak lahirnya persoalan-persoalan lain, utamanya: pangan, kesehatan dan gizi, pendidikan, angkatan kerja, dan energi. Secara prediktif, politisasi terhadap persoalan-persoalan tersebut akan semakin mengental di masa depan, tanpa hentinya.
Dengan total penduduk sebesar 220 juta saat inidiprediksi akan membengkak menjadi sekitar 300 juta pada tahun 2030maka problem pangan jelas terbentang tak terbantahkan. Padahal, luas areal sawah untuk padi termasuk pangan pokok lainnya semakin
sempit, kebutuhan pupuk pasti semakin meningkat, dan air semakin langka (menurut keterangan Dr Zeigler dari IRRI, satu kilogram padi memerlukan tiga ton air). Jika Indonesia gagal mempersempit persoalan tersebut, ketergantungan akan impor beras dan pangan pokok lainnya akan menjadi semakin berat.
Dengan kondisi pangan yang berat itu, masalah kesehatan dan gizi buruk adalah akibat lanjutan dari persoalan kependudukan yang ada. Kepadatan penduduk membuat lingkungan menjadi kumuh, penuh sampah, dan memicu wabah penyakit. Padahal, jumlah penduduk usia 17-35 tahun sekitar 75 juta jiwa. Jika mereka dan anak-anaknya kekurangan gizi, bisa dipastikan mereka akan lemah secara kognitif dan apatis secara emosional.
Jika kelompok usia produktif mengalami gizi buruk, secara hipotesis anak-anak mereka juga akan tumbuh dalam keterbatasan kecerdasan,
emosional, dan mental. Jika masalah ini berkait dengan rendahnya mutu pendidikan karena kurangnya jumlah sekolah, guru, buku, lemahnya kurikulum, dan kelayakan hidup guru, maka secara demografi kualitas penduduk usia produktif juga akan lemah. Singkatnya, terjadi kemunduran generasi muda.
Akibatnya, kualitas tenaga kerja juga akan berat karena kemampuan kognisi, teknis, dan manajerial mereka memang kurang memadai. Dengan istilah lain, daya saing mereka rendah. Karakteristik tersebut membuat mereka mudah terjebak pada sikap siklis dan perilaku agresif. Tidak heran jika mereka dan kelompok usia produktif umumnya mudah terjebak pada situasi amuk (baik individu maupun massa). Dalam cakupan luas, mereka mudah terseret pada semangat primordial, politik identitas, dan sektarian sehingga menjadi lahan subur terjadinya konflik horizontal dan mudah untuk dieksploitasi.
Selain masalah-masalah tersebut, tekanan lain yang lahir dari masalah kependudukan adalah kebutuhan energi. Konsumsi energi akan meningkat untuk kebutuhan sehari-hari maupun karena mobilitas kaum muda. Konsumsi minyak bumi, misalnya, akan menjadi besar dan mahal akibat keterbatasan sumber daya alam yang mengakibatkan sebagian besar harus impor. Ini menjadi tekanan tambahan yang menghambat kualitas manusia Indonesia di masa depan.
Cetak biru kebijakan
Dengan memahami tantangan besar yang menghadang gerak masa depan bangsa tersebut, para pembuat keputusan dituntut untuk secara sistematis mempersiapkan cetak biru kebijakan demi menjamin kelangsungan hidup bangsa. Artinya, para pemimpin republik harus berani mengambil keputusan mendasar secara bersama jika mereka benar-benar memikirkan republik.
Mimpi bersama harus dibangun atas dasar kebijakan yang terpadu agar optimisme dan gairah rakyat bangkit.
Kebijakan terpadu tersebut menyangkut visi bersama mengenai tercapainya swasembada pangan, kesehatan masyarakat, terbentuknya manusia Indonesia yang terampil dan cerdas, tenaga kerja siap pakai, dan ketersediaan energi nasional.
Penjabaran kebijakan tersebut di tingkat praksis dapat dilakukan melalui: (1) kebijakan beras dan pangan nasional yang jelas (menyangkut komposisi produksi dalam negeri dan impor serta pengembangan pangan alternatif nonberas); (2) kampanye publik yang intensif mengenai pengetahuan kesehatan masyarakat, keluarga berencana, penambahan jumlah dokter dan paramedis; (3) perbaikan sistem pendidikan nasional dengan orientasi siap pakai; (4) diperluasnya sentra-sentra pembekalan keterampilan untuk tenaga kerja dan;
(5) pengembangan alternatif energi seperti batubara, biodiesel dan gas.
Tanpa langkah kebijakan dan keputusan politik yang terpadu tersebut, hampir bisa dipastikan kualitas manusia Indonesia masa depan akan lebih rendah dibandingkan dengan generasi masa kini. Oleh sebab itu, mari memikirkan kelangsungan hidup republik.
FRANCISCUS WELIRANG Pelaku Usaha dan Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan
Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
