Konsep Non-Lokalitas dan Buddhisme

Dalam Sutra-sutra Buddhis sering kita baca bahwa para Bodhisattva 
atau Buddha dapat bepergian dari satu alam ke alam lain dengan 
segera. Demikian pula dalam Sutta-sutta Pali sering disebutkan dewa-
dewa yang dapat datang serta pergi ke hadapan Buddha dengan sekejap 
mata saja. Hal ini nampaknya bertentangan dengan teori Adolf 
Einstein yang mengatakan bahwa kecepatan yang tertinggi di alam 
semesta ini adalah kecepatan cahaya (3 x 10 pangkat 8 m/ s). Tetapi 
apakah memang demikian? Ternyata sains modern telah menemukan apa 
yang disebut dengan prinsip non-lokalitas, dimana penemuan ini 
sanggup menjelaskan fenomena yang terdapat dalam naskah-naskah 
Buddhis tersebut. Apakah yang dimaksud dengan prinsip tersebut? 
Marilah kita cermati bersama uraian di bawah ini.
Pada tahun 1982, sebuah tim peneliti yang dilakukan oleh fisikawan 
Alain Aspect, Jean Dalibard, dan Gerard Roger dari Institute of 
Optics di University of Paris, melakukan suatu eksperimen dan 
menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu, partikel-partikel 
subatomik seperti foton, mampu berkomunikasi satu sama lain dengan 
seketika tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak 
ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km. Entah 
bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan 
oleh partikel lain. 
        Ada dua opsi jawaban bagi hasil eksperimen tersebut. Yang 
pertama, penemuan itu melanggar prinsip Einstein yang membatasi 
komunikasi tidak lebih daripada kecepatan cahaya. Atau kemungkinan 
kedua adalah bahwa kaitan antara kedua photon bersifat non-lokal. 
Fisika modern cenderung memilih opsi kedua, yaitu kedua photon 
bersifat non-lokal, tanpa harus melanggar prinsip Einstein. Non-
lokal maksudnya kelihatan terpisah, tapi secara fundamental 
terhubung satu sama lain. Pakar fisika teoritis dari University of 
London, David Bohm, yang merupakan seorang anak didik Albert 
Einstein dan salah satu fisikawan yang paling dihormati di dunia, 
yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu 
tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal (padat), alam semesta ini 
pada dasarnya merupakan khayalan, maya, suatu hologram raksasa yang 
terperinci secara sempurna. Apa itu hologram? Hologram adalah sebuah 
gambaran 3-D yang diproyeksikan ke angkasa dengan bantuan laser. 
Pembahasan yang lebih mendalam tentang alam semesta yang bersifat 
maya dan seperti hologram itu diperoleh dari buku The Holographic 
Universe karya Michael Talbot. 
        Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik 
mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang 
memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat 
bolak-balik, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. 
Bohm berkilah bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, 
partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, 
melainkan merupakan perpanjangan dari sesuatu yang esa dan 
fundamental. 
Dalam dunia atomik dan subatomik, eksperimen-eksperimen sejenis EPR 
dan Alain Aspect telah menunjukkan kepada kita bahwa "realitas" 
adalah "tak terpisahkan". Dua partikel cahaya yang telah 
berinteraksi satu sama lainnya, akan berlanjut beraksi sebagai 
bagian dari suatu realitas. Seberapapun jauh mereka berpisah, mereka 
selalu berkorelasi secara spontan tanpa adanya pertukaran informasi. 
Inilah salah satu prinsip lainnya dari interdependensi.
        Secara teoritis, implikasi dari penemuan Aspect membuat 
kemahatahuan bisa dicapai manusia karena bila kita menembus ke dalam 
pemahaman satu titik, berarti kita bisa menembus ke pemahaman 
seluruh titik di alam semesta. Namun ironisnya, kemahakuasaan tidak 
bisa digapai karena melakukan intervensi di satu titik berarti 
menganggu titik-titik lainnya di semesta. Ini menguatkan doktrin 
agama Buddha yang mengatakan bahwa setiap makhluk bisa mencapai 
kebuddhaan yang bersifat mahatahu, tetapi tidak ada makhluk 
mahakuasa yang bisa melakukan intervensi setiap saat tanpa menganggu 
keseimbangan sistem interaksi energi karma.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak mustahil bagi 
seorang Bodhisattva untuk mengunjungi planet (Tanah Buddha) lain 
dalam sekejap saja, padahal jarak antara bumi dengan planet tersebut 
adalah jutaan tahun cahaya. Perpindahan dapat terjadi tanpa melalui 
ruang di antaranya, karena ruang itu sendiri bersifat ilusif. 
Demikian semoga bermanfaat.









** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke