Telaah Kritis Terhadap Buku Putih

Pada kesempatan kali ini, saya hendak mengajukan suatu telaah kritis 
terhadap buku putih karya Prof. Hasanu Simon.

a.Masalah sejarah

Hasanu Simon:

Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul 
menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum 
masyarakat memang menganggap agama Hindu dan Budha sama. Padahal 
ajaran kedua agama itu sangat berbeda dan antar keduanya pernah 
terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram 
Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. 
Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan 
Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat 
dengan pertikaian-pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan 
teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada 
abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama 
beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang 
bangsa Eropa.

Tan:

Memang benar bahwa agama Hindu tidak sama dengan agama Buddha 
(sayangnya Prof. Hasanu Simon menulis kata "Buddha" dengan satu 
huruf d, padahal ini tidak benar). Tetapi yang tidak benar adalah 
perseteruan antara agama Hindu dan Buddha yang mengakibatkan 
keruntuhan kerajaan Mataram. Marilah kita tengok buku Sejarah 
Nasional Indonesia jilid II karya Marwati Djoened Poesponugroho dan 
Nugroho Notosusanto halaman 253:

Adanya naskah yang menguraikan ajaran agama Buddha Mahayana dalam 
masa pemerintahan Pu Sindok, yang isi prasasti-prasastinya dan 
namanya mengesankan bahwa ia penganut agama Siwa, tidak perlu 
dipermasalahkan, karena sejak jaman wangsa Sailendra, agama Hindu 
dan agama Buddha berkembang BERDAMPINGAN SECARA DAMAI. Dan dari 
prasasti Kalkuta kita tahu bahwa anak Pu Sindok, yakn Sri 
Isanatungawijaya, ialah penganut agama Buddha (sugatapaksasaha).

Jadi jelas sekali perseteruan akut sebagaimana yang diungkapkan oleh 
Prof. Hasanu Simon itu tidak memiliki dasar yang kuat. Bila memang 
benar ada perseteruan antara Hindu dan Buddha, mengapa masih banyak 
candi-candi baik Hindu maupun Buddha yang tidak memperlihatkan 
adanya sisa-sisa penghancuran dengan sengaja? Bila perang agama 
memang pernah terjadi, maka tidak akan candi-candi yang masih 
berdiri.

b.Masalah teologis

Hasanu Simon:

Islam juga mengajarkan bahwa Nabi Ibrahim as, yang hidup sekitar 45 
abad sebelum era Walisongo yang lahir dari keluarga penyembah 
berhala, sepanjang hidupnya berdakwa untuk anti berhala. Ini 
menunjukkan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan zaman 
dibandingkan kisah orang-orang yang menjadi panutannya, padahal 
selisih waktu hidup mereka sangat jauh.

Tan:

Sebenarnya agama dan kitab suci apapun bisa saja jadi berhala jika 
tidak piawai menggunakannya, seperti pisau di tangan anak kecil. 
Kekajaman dan aksi kekerasan bernuansa agama adalah contoh bagi hal 
ini. Berhala tidak hanya patung atau sesuatu yang 
berbau "tahayulistis." Bagi saya berhala adalah sesuatu yang 
mengaburkan hakekat "kedemikianan segala sesuatu." Sesuatu benda 
bisa menjadi berhala bagi seseorang tetapi tidak bagi orang lainnya. 
Sebagai contoh adalah "pengkeramatan" sebuah pohon. Jika orang tahu 
dan dapat menghubungkan usaha "pengkeramatan" sebatang pohon atau 
hutan dengan lingkungan hidup, maka pengkeramatan itu bukanlah 
berhala. Tetapi bila dalam benak seseorang meyakini bahwa 
pohon "keramat" dapat dijadikan tempat meminta ini dan itu, barulah 
pohon itu menjadi berhala. Pohon adalah tetap pohon, bila dibakar ia 
akan menjadi abu, bagaimana mungkin ia dapat melindungi diri kita? 
Orang yang meyakini semacam itu sudah melenceng dari 
hakekat "kedemikianan segala sesuatu." Orang yang membawa 
persembahan dupa, buah, air, bunga, dan lain-lain ke hadapan patung 
Buddha dapat menjadi penyembah berhala atau bukan. Semuanya 
terletakdi pikiran. Jika seseorang membawa segenap persembahan itu 
dengan harapan agar Buddha senang, maka ia adalah penyembah berhala. 
Tetapi bila ia mengetahui makna air, bunga, buah, dan dupa, maka itu 
bukanlah penyembahan berhala. Jadi berhala atau bukan tidaklah 
terletak pada substansi materiilnya, tetapi dalam substansi imanensi-
pikiran manusia itu sendiri serta motivasi. Ajaran filosofi suatu 
agama terkadang sangat abstrak sehingga perlu diterjemahkan menjadi 
seni serta aneka bentuk ritualisme keagamaan. Yang Arya Mahabhikshu 
Hui Kuo, murid Amoghavajra serta guru Kobo Daishi; yang merupakan 
sesepuh agung aliran Tantra Timur (Shingon) pernah mengatakan bahwa 
ajaran Tantra sungguh rumit dan penyampaiannya hanya mungkin 
dilakukan melalui seni adiluhung. Oleh karena itu, ia lalu memesan 
beberapa patung-patung Buddha demi memungkinkan latihan Tantra. 
Berdasarkan motivasi luhur ini, patung-patung tersebut bukanlah 
berhala. Jadi tanpa motivasi luhur segala sesuatu adalah berhala.

Saya kira sekian dulu tanggapan dari saya.

Metta,

Tan








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke