Peringatan Asadha
Berskala Nasional, tapi Dilaksanakan secara Sederhana

 

Magelang, Kompas - Sekitar 6.000 umat Buddha dari sejumlah daerah di Indonesia, Sabtu (8/7) sekitar pukul 17.00, berkumpul di pelataran Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk merayakan Asadha 2550/2600 untuk memperingati pertama kalinya Sang Buddha Gautama menyebarkan ajarannya kepada lima bhiksu di Taman Rusa Isipathana, Benares, India.

 

Dalam rangkaian upacara ini, puluhan umat Buddha bersama sejumlah bhiksu dari Indonesia dan Sanggha Maharaja Kamboja, melakukan prosesi dari Vihara Mendut dengan membawa relik atau sebagian abu Buddha ke Candi Mendut. Prosesi ini dilanjutkan dengan puja bhakti yang diselenggarakan di pelataran Candi Borobudur, dan baru berakhir pukul 20.00, Sabtu.

 

Sebelum dilangsungkan puja bhakti sebagai bagian dari ritual Asadha ini, Ketua Panitia Puja Bhakti Agung Asadha 2550, Kurniadi Tjahya, mengatakan, upacara Asadha ini cukup istimewa karena baru kali ini diadakan secara nasional oleh umat Buddha dari Sanggha Theravada. Meski demikian, upacara tetap diselenggarakan secara sederhana mengingat Indonesia baru saja dilanda berbagai bencana alam.

 

"Seharusnya, setelah diadakan puja bhakti kami akan menyajikan sendratari. Tetapi, mengingat negara kita baru saja dilanda sejumlah bencana alam, acara itu kami batalkan. Sebaliknya, dalam puja bhakti ini kita akan berdoa bersama untuk keselamatan negara," katanya.

 

Direktur Jenderal Bina Masyarakat Buddha, Budi Setyawan, menyatakan, upacara Asadha ini memiliki makna yang sangat besar. Tanpa Asadha, agama Buddha pun tak akan berarti.

 

"Asadha ini merupakan momentum pertama kali Buddha membabarkan ajarannya kepada lima bhiksu. Dengan demikian, Asadha ini menjadi tonggak sejarah pertama kali ajaran Buddha disebarkan," ungkapnya.

 

Kurniadi Tjahya memaparkan, bulan purnama yang terbit pada bulan Juli ini jatuh bersamaan dengan bulan Asadha. Dalam penanggalan Buddhis, ini memiliki arti penting bagi setiap umat Buddha. "Kala purnama di bulan Asadha lebih dari 2500 tahun yang lalu Buddha Gautama mengajarkan dharma untuk pertama kalinya. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi tepat dua bulan setelah pencerahan sempurna di bulan Waishak (yang jatuh pada bulan Mei lalu)," ungkapnya.

 

Dharma yang diajarkan untuk pertama kalinya itu, menurut Kurniadi Tjahya, mengingatkan umat Buddha tentang dua cara hidup yang amat berbahaya, yakni pemuasan nafsu indriawi yang membuat mental rusak, dan spiritual parsial yang menghancurkan intelektual seseorang. "Untuk itu, Buddha Gautama mengajak setiap orang untuk berjalan di jalan tengah sebagai marga atau jalan untuk membebaskan diri dari penderitaan," katanya. (MDN)

 

Kompas. Minggu, 09 Juli 2006, halaman 3

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke