| Jumat, 14 Juli 2006 |
| Kemiskinan Mereka Bertahan di Tengah Kekeringan Oleh C Wahyu Haryo PS dan Aufrida Wismi Warastri Kamis siang (13/7) yang terik, tampak seorang petani menyiram benih padi yang tengah disemaikannya. Bolak-balik ia berjalan mengambil air dari Waduk Kedungombo dengan ember plastik, untuk menyiram sawah garapannya yang terletak di Dusun Klewor, Desa Klewor, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Jarak tepian Waduk Kedungombo dengan areal persawahan tersebut sekitar 100 meter. Sesekali ia melepas capingnya, menyeka peluh yang mengalir di wajah dengan baju lengan panjangnya, lalu mengibaskan-kibaskan caping ke arah wajahnya untuk sedikit
menghalau panas mentari yang menyengat. Setelah beristirahat sejenak, ia kembali menyiram tanamannya. Guratan wajahnya saat menyiram tanaman, seolah menyiratkan sejuta asa akan panenan padi pada tiga bulan mendatang. Setiap tahun petani di sini selalu berjuang melawan kekeringan. Kalau tidak mempertahankan kelangsungan tanaman hingga panen nanti, keluarga kami harus makan apa," kata Juwadi (41), si petani tadi. Meski mengetahui kalau musim kemarau sudah di depan mata, ia tetap bersikukuh menanami sawah garapannya. Ia mengaku, perasaanya jauh lebih tenang jika memiliki tanaman pertanian. Ia sama sekali tidak memperhitungkan tenaga atau pun biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga agar tanamannya bisa bertahan di musim kering. Kalau menggarap sawah, Juwadi tidak lagi
menghitung untung rugi. Mungkin kalau dihitung-hitung, menanami tanah garapan di musim kemarau jelas tidak menguntungkan. Hasilnya mungkin tidak sebanding dengan pengeluaran. Tapi mau bagaimana lagi, petani kalau tidak menggarap sawah ya tidak makan," katanya. Untuk mengantisipasi gagal panen padi akibat kekeringan berkepanjangan, sebagian lahan garapannya ditanami tanaman palawija seperti jagung, kacang hijau, kacang tanah, dan tanaman cabai. Meski hasilnya tidak seberapa, baginya panenan tanaman palawija tersebut bisa sedikit mengobati kekecewaannya saat tanaman padinya gagal panen. Tanaman palawija tidak begitu membutuhkan air. Berbeda dengan tanaman padi yang tidak bisa hidup jika tidak ada air. Dengan biaya perawatan yang lebih murah, hasil panenan palawija juga tidak seberapa. Tapi saya tetap mensyukurinya karena ini merupakan
hasil jerih payah saya sendiri," kata Juwadi. Apa yang dilakukan Juwadi tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Sukiman (57), petani di Dusun Grogol, Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu. Bahkan untuk mempertahankan tanah garapannya tetap basah, ia rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menyewa mesin pompa air. Ia menyewa mesin pompa selama 10 jam dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawahnya seluas 2.000 m2. Untuk itu ia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 100.000. Dalam satu musim tanam, uang yang harus dikeluarkannya untuk pengairan mencapai Rp 600.000. Belum lagi biaya yang dikeluarkannya untuk pemupukan yang minimal mencapai Rp 150.000. Jika sawah garapannya panen, penjualan hasil bumi yang diterimanya tak lebih dari Rp 500.000. Meski hampir
tiap tahun terus merugi, ia tetap menjalani rutinitas menggarap sawah tanpa mengeluhkan hasil panenan yang tidak sebanding dengan jerih payahnya. Lahan garapan sudah ditanami padi sejak 1,5 bulan yang lalu. Jika tidak diairi, Sukiman justru tidak panen sama sekali. Apapun akan dilakukan untuk mengairi sawah agar bisa menuai hasilnya. Meskipun untuk menyewa mesin pompa air, ia harus menjual barang yang dimiliki atau pun berutang. Yang penting saya tidak menganggur dan bisa memenuhi kebutuhan keluarga, meski hasilnya tidak seberapa," ujar Sukiman. Memutar Otak Memasuki musim kemarau, kisah kekeringan bergulir diantara petani. Sebagian mengeluh karena usulan penanganan kekeringan berpuluh tahun tak ditangani pemerintah hingga mereka sendiri kecapaian.
Sebagian lagi terus menerus mencari solusi bagaimana memecahkan masalah kawasannya entah jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satu yang mencoba memecahkan kekurangan air irigasi jangka pendek adalah Suroso (49). Petani di Desa Sokawera, Kecapatan Patikraja, Banyumas, Jateng itu telah dua minggu ini menjaga nyala pompa air 12 PK dan 8 PK di pinggir Sungai Serayu. Air Sungai Serayu yang melimpah disedot untuk membasahi sawah seluas 22 hektar di Sokawera Kulon. Kalau tidak begini akan puso seperti tahun lalu," kata Suroso, Kamis. Suroso mengaku melakukan hal itu dengan setengah memaksa petani. Lahannya seluas sekitar satu hektar yang ditanami padi berumur sekitar 1,5 bulan perlu diairi. Jika ia melakukan sendiri, praktis biayanya akan sangat mahal. Ia ambil pompa
air bantuan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Banyumas delapan tahun lalu yang terbengkalai di kelompok tani. Ia gerakkan dengan modal sendiri. Saya tawarkan ke petani, mereka bersedia membayar pembelian solar setelah hasil terlihat," terang Suroso. Sarodji (75), petani di Sokawera Kulon perlu membayar Rp 6.000 tiap kali sawahnya dialiri air. Memang harus membeli air untuk mengganti solar," gumamnya. Menurut Sarodji situasi ini berbeda jauh dengan situasi sekitar 15-20 tahun lalu. Saat itu saluran irigasi masih berfungsi baik dan debit air pun tidak banyak turun. Waktu itu yang dibutuhkan hanyalah giliran air. Kini saluran irigasi banyak yang rusak, debit air juga turun tajam. Para petani mempunyai ide untuk memanfaatkan air Sungai Serayu yang melimpah. Letak sawah yang tinggi diakali dengan menyedot air masuk ke
penampungan lalu dialirkan ke sawah. Tapi biayanya sangat mahal. Darimana dananya," keluh Suroso. Cerita kekeringan juga muncul di beberapa desa di Kecamatan Padureso, Kebumen, sekitar dua-tiga kilometer sebelum Waduk Wadaslintang. Meskipun jaraknya tak jauh dari waduk yang mampu mengairi 31.082 hektar sawah di Kabupaten Kebumen dan Purworejo, desa-desa itu tak terjamah air irigasi. Mereka mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. Rabu lalu, Sodiah (45), petani di Desa Sidototo, Padureso, Kebumen, bahkan tengah memotong tanaman padi yang telah berumur 1,5 bulan. mBoten wonten toya (tidak ada air)," katanya. Padi-padi itu dipotong seolah tengah memotong rumput saja. Selain Desa Sidototo, kekurangan
air juga terjadi di Desa Kaligubug, Padureso, Kalijering, Sendang, dan Rahayu, semuanya di Kecamatan Padureso. Ratusan hektar tanaman padi dipastikan puso karena kekurangan air. Penduduknya juga kesulitan air bersih. Mukidin (65) petani di Desa Kaligubug mengatakan tiap tahun petani hanya panen satu kali. Sejak Waduk Wadaslintang dibangun tahun 1979, belum pernah warga Kaligubung kebagian airnya. Usul pengadaan irigasi dan air bersih sudah sangat sering dilakukan, tapi belum pernah hal itu terlaksana. Menurut Mukidin dan Sodiah, memang harus ada orang pinter yang memikirkan hal itu. Kalau kami tidak mampu," katanya. Kades Sidototo, Marisa (37) mengatakan posisi desa yang berada di atas waduk memang menyulitkan aliran air. Pernah ada wacana untuk mengangkat air ke penampungan lalu dialirkan ke bawah. Tapi sekali lagi hal itu hanya
sebatas wacana. Menurut Marisa hanya enam hektar lahan di Sidototo yang tidak puso. Petani yang mampu kemudian menggunakan pompa untuk mengambil air dari bendung Sungai Gubug yang membelah desa guna mengairi sawah mereka. Sungai Gubug itu bisa dibendung warga atas bantuan LSM Plan Internasional yang masuk ke Kebumen. Bertahun-tahun Marisa juga memikirkan ketersediaan air bersih warganya. Dibantu para mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta yang melakukan tugas pemetaan di kawasan Padureso, Kebumen, Marisa menemukan beberapa sumber air yang bisa digunakan untuk air bersih. Dengan segala keterbatasan yang ada, para tokoh desa itu menjadi penggerak-penggerak yang mampu membangkitkan warga untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri, termasuk
membangun jaringan di luar desa. Penggerak-penggerak itu yang kini dinanti masyarakat. |
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
