"hadi santoso" <[EMAIL PROTECTED]> Rekan Hudoyo: terima kasih jawaban anda,masih ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan:
1,Ada 2 versi yang bertolak belakang dari jawaban anda: WAHYU>dalam bahasa umum kata wahyu adalah perintah/suara Tuhan,saya tidak tahu terjemahan dalam Buddha,dan setahu saya Budhha tidak mengenal kata wahyu,sehingga ada sebutan Buddha BUKAN agama wahyu,selanjutnya apabila pendiri aliran mendapat wahyu,maka dia hanyalah sebagai pelaksana atau biasa disebut utusan Tuhan. MERASA TIDAK PUAS>kalau dasar mendirikan sebuah aliran adalah karena tidak puas terhadap induknya,maka pendiri aliran tersebut mempunyai motivasi individu dan bukan atas perintah siapapun. Dari 2 latar belakang pendirian sebuah aliran tersebut diatas,penilaian juga menjadi berlawanan 180 derajat. 2,Kesimpulan saya>penilaian sebagai pahlawan atau pemberontak adalah sangat relatif,selain itu munculnya aliran dalam satu agama sepertinya sepertinya memang HARUS/PASTI terjadi,karena ke-aneka ragam-an karakter manusia,>tidak bisa dihindari. Sekian maaf kalau ada yang keliru. Salam dari Hadi. =============================== HUDOYO: Rekan Hadi Santoso yg baik, Bila kita membahas berbagai ajaran agama secara lintas-iman (interfaith), sedapat mungkin gunakanlah istilah-istilah yang bersifat universal (dapat dipahami dan diterima oleh penganut semua agama). Kalau tidak, maka kita akan mudah terjerumus dalam kontroversi dan pertentangan agama. Dan kita tidak bisa memahami agama lain, bahkan tidak pula agama kita sendiri, dalam kaitan dengan topik ybs. Contoh: Menggunakan pemahaman 'wahyu' dari agama monoteistik, seorang Buddhis akan sampai pada "kesimpulan" bahwa Agama Buddha tidak mengenal 'wahyu'. Ini sama seperti, bila dengan menggunakan pemahaman 'penerangan sempurna' dari Agama Buddha, seorang Islam akan berkata dalam Islam tidak dikenal 'penerangan sempurna'. Kedua-duanya adalah pandangan yang sempit dan tidak bermanfaat dalam dialog antar-agama maupun untuk pencerahan pribadi. Menurut pengertian saya, secara universal kata WAHYU/ILHAM mengacu pada "pengetahuan & pemahaman yang diperoleh--bukan dari hasil pemikiran atau perenungan intelektual dan rasional diri sendiri--melainkan dari suatu sumber yang dirasakan/disadari sebagai berada 'di luar' diri atau 'dari dasar lubuk' batin sendiri." Dengan definisi seperti itu maka kata WAHYU/ILHAM akan menjadi universal, dapat diterima oleh seorang Islam, seorang Buddhis atau seorang beragama apa pun. Dengan demikian tidak perlu terjadi kontroversi dan perdebatan, yang pada hakekatnya hanyalah pertentangan paradigma (kerangka berpikir) semata-mata, tanpa memahami lebih dalam hakekat dari kebenaran-kebenaran spiritual. *** 'Merasa tidak puas' adalah kata lain dari 'Dukkha'. Karena manusia merasakan 'dukkha', maka ia mencari pencerahan & pembebasan. Itu terjadi pada Pangeran Siddhartha, seandainya ia puas dengan kehidupan di istana bapaknya, tentu ia tidak akan meninggalkan istana, tidak akan menjadi Buddha, dan kita akan tetap dalam kegelapan. Kalau Nagarjuna puas dengan uraian dhamma-dhamma yang terkandung dalam Abhidhamma, tentu ia tidak akan bermeditasi dan menulis sutra-sutra Maha-prajnaparamita dengan prinsip sunyata-nya yang luhur. Kalau Bodhidharma merasa puas dengan kehidupan di vihara dengan chanting pagi-sore saja, tentu ia tidak akan bermeditasi bertahun-tahun menghadap tembok, dan kita tidak akan mengenal pencerahan Zen. Kalau J Krishnamurti merasa puas dengan kedudukan sebagai "Guru Dunia" yang disiapkan baginya oleh Perhimpunan Teosofi, tentu ia tidak akan membubarkan Perkumpulan Bintang dan keluar dari Teosofi dan kita tidak akan mendengar ceramah-ceramahnya yang mencerahkan. Kalau Anda atau saya merasa puas dengan Ajaran Buddha atau ajaran Krishnamurti yang saya baca dari buku-buku, tentu saya tidak akan bermeditasi untuk mengenali badan & batin saya dari saat ke saat, dan akan tetap berada dalam kegelapan dan keangkuhan ego saya. Orang yang merasa puas dengan agamanya atau sektenya sendiri, pasti ia akan berhenti, dan tidak maju lagi di "jalan spiritual". Dalam keadaan seperti itu, agama/sektenya itu tidak ada manfaatnya sama sekali untuk pencerahan & pembebasan. (Mungkin bermanfaat untuk penampilannya di tengah masyarakat sebagai "penganut suatu agama yang saleh", tapi itu tidak berarti apa-apa bagi pencerahan & pembebasannya sendiri.) Para orang-orang yang tercerahkan tidak ada niatan untuk memberontak atau tidak memberontak terhadap ajaran agama yang ada di sekitarnya. Mereka tidak mendapatkan pencerahan dari ajaran-ajaran yang mapan itu, lalu mencari jalannya sendiri, tapi mereka itu bukan menentang atau tidak menentang ajaran yang ada di sekitarnya. Pencerahan sejati yang mereka peroleh tidak memungkinkan atau membuat mereka membuat penilaian apa pun terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Yang bingung dan yang ribut mempersoalkan adanya berbagai sekte adalah masyarakat luas yang tidak tercerahkan. Mereka bingung karena menurut persepsi intelektual mereka dihadapkan pada beberapa pilihan. Mereka tidak bisa mengerti bahwa kebenaran yang sama, pencerahan yang sama, bisa diungkapkan dengan konsep-konsep yang berbeda sesuai dengan kerangka berpikir masing-masing orang. Jadi saya tidak melihat pertentangan seperti yang Anda lihat. 'RASA TIDAK PUAS' ADALAH AWAL DARI 'JALAN SPIRITUAL' UNTUK MENCAPAI PENCERAHAN & PEMBEBASAN (ALIAS WAHYU). *** Tentang penilaian sebagai pahlawan atau pemberontak bagi saya sama sekali tidak relevan. Untuk apa saya harus menilai begini atau begitu. Lebih baik saya menemukan jalan saya sendiri dan mencapai sendiri pencerahan & pembebasan itu. Itu mungkin sama, mungkin berbeda, bahkan mungkin bertentangan dengan apa yang diajarkan secara populer di kalangan masyarakat di sekitar saya. Salam, Hudoyo ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
