Dari: dipayana buddhis <[EMAIL PROTECTED]> >met siang > >Tujuan vipassana adalah tercapainya pencerahan dimana batin mampu >mencapai pengetahuan (wisdom) yang mampu melihat segala sesuatu apa >adanya (yatha bhutam nanadassanam), yaitu bersifat selalu berubah >(anicca), tidak memuaskan (dukkha) dan "ketiadaan inti/roh yang >merupakan unit yang utuh berdiri sendiri dan abadi", sehingga batin >tidak melekat pada segala sesuatu. Dengan demikian segala nafsu >keinginan rendah (tanha) tidak akan muncul, dengan putusnya salah >satu mata rantai rangkaian yang saling bergantungan maka kelahiran >kembali juga tidak terjadi. > >Mengenai silahturahmi dengan Buddha kuno tentu tidak dikenal dalam >Ajaran Buddha. Tidak akan terdapat dua Buddha dalam tataran >tatasurya yang sama dalam waktu yang sama. Selama Ajaran salah satu >Buddha msh eksis maka selama itu tak mungkin ada Sammasambuddha yang >muncul, Pacceka Buddha masih mungkin muncul tapi mereka mungkin gak >ambil pusing dengan perkembangan agama Buddha. > >salam sejahtera > >dipavamsa ================================= HUDOYO:
>['ANATTA' =] "ketiadaan inti/roh yang merupakan unit yang utuh >berdiri sendiri dan abadi" ------------- Umat Buddha suka sekali menjelaskan konsep 'anatta' sebagai "tiadanya ini/roh abadi". Penjelasan seperti ini tidak salah, tapi itu penjelasan di level METAFISIKAL di dalam KEPALA. Dengan demikian sama sekali tidak menyentuh HATI secara EKSPERIENSIAL atau EKSISTENSIAL. Padahal Sang Buddha sendiri TIDAK PERNAH menjelaskan 'anatta' secara metafisikal, sebagaimana sering dilakukan oleh para pakar Buddhis/Abhidhamma dan dihafalkan oleh anak-anak Buddhis di sekolah minggu-sekolah minggu. Sang Buddha mengajarkan 'anatta' secara SANGAT SEDERHANA, yakni berangkat dari PENGALAMAN BATIN setiap orang, dengan kata lain, secara EKSPERIENSIAL atau EKSISTENSIAL. Kata Sang Buddha: "Dalam diri seorang yg belum bebas selalu ada pikiran, 'Ini milikku, ini aku, ini atta[diri]-ku.' Dalam diri seorang yg tercerahkan, tidak pernah lagi ada pikiran, 'Ini milikku, ini aku, ini atta[diri]-ku.' " Barangkali sementara pakar Buddhisme menganggap penjelasan Sang Buddha seperti ini terlalu "simplistik", dan dianggap tidak cocok untuk menghadapi agama-agama lain di zaman modern. Oleh karena itu dicarilah penjelasan yang lebih "canggih", yakni penjelasan metafisikal; 'anatta' didefinisikan sebagai "tanpa ROH" atau "tanpa INTI". Dalam bahasa Inggris barangkali padanannya adalah "No-Soul" atau "No-Core"(?). Demikianlah maka di kalangan umat Buddha sering kita lihat keadaan yang paradoksal, di mana seseorang dengan gigih mempertahankan ajaran "Tanpa-Inti" sementara aku/egonya masih amat kuat. Umat Buddhis mudah sekali menerima doktrin "Tanpa-Inti", karena doktrin seperti itu sama sekali tidak menyentuh 'aku'-nya. Sebaliknya, banyak umat Buddhis bingung atau enggan melepaskan 'rasa-Aku'-nya; banyak orang ragu-ragu untuk melepaskan anggapan tentang 'aku'-nya yang selama ini disayanginya dan diumbarnya. Kalau kita ingin kembali kepada cara bagaimana Sang Buddha menjelaskan 'anatta' (lihat sutta-sutta dalam Sutta-pitaka, jangan lihat Abhidhamma-pitaka yang berkembang ratusan tahun setelah zaman Sang Buddha), maka saya sarankan istilah ANATTA diterjemahkan sebagai 'TANPA-DIRI' atau 'TANPA-AKU'. Dalam bahasa Inggris 'anatta' sudah lazim diterjemahkan sebagai 'No-Self', bukan 'No-Soul', apalagi 'No-Core'. *** Keengganan untuk melepaskan 'aku'-nya (setidak-tidaknya secara konseptual) juga tampak pada pemahaman sementara umat Buddhis yang beranggapan bahwa 'nibbana' adalah lenyapnya "segala nafsu rendah", sebagaimana tercantum dalam posting di atas: >Dengan demikian segala nafsu keinginan rendah (tanha) tidak akan >muncul, dengan putusnya salah satu mata rantai rangkaian yang saling >bergantungan maka kelahiran kembali juga tidak terjadi. Penambahan kata "RENDAH" pada "segala nafsu" sebagai penjelasan dari istilah 'TANHA' menunjukkan pemahaman yang setengah-setengah terhadap Jalan Pembebasan. (Mungkin ini sisa-sisa dari pelajaran di sekolah minggu Buddhis, karena tentu saja pada anak kecil tidak bisa diajarkan makna yang utuh/selengkapnya dari 'nibbana' atau pembebasan.) Dengan demikian, orang mudah sekali mendapat kesan bahwa orang yang telah bebas (mencapai nibbana) masih memiliki "keinginan yang luhur dan muilia". Dengan kata lain, seorang arahat masih memiliki 'aku' yang "baik, luhur dan mulia." Padahal TANHA seharusnya dipahami sebagai "segala macam keinginan, kehausan, baik rendah maupun tinggi/luhur". Ada 'KAMA-TANHA' (keinginan terhadap nafsu indra), tapi ada pula 'BHAVA-TANHA' (keinginan untuk tetap hidup/eksis, baik di alam dewata maupun alam brahma), ada pula 'VIBHAVA-TANHA' (keinginan untuk tidak ada/lenyap). 'Bhava-tanha', yang bisa disebut "keinginan tinggi/luhur" harus berakhir pula sebelum orang mencapai pembebasan terakhir. Dengan demikian orang harus mengakhiri semua kehendak/perbuatan, yang buruk maupun yang baik. Dengan demikian orang tidak akan lagi mengalami penderitaan (sebagai akibat perbuatan buruk) maupuan menikmati kebahagiaan (sebagai buah perbuatan baik). Syair Sang Buddha pada akhir Bahiya-sutta menjelaskan hal ini dengan gamblang: "Di mana air, tanah, api dan udara tak punya lagi tempat berpijak, di situ bintang-bintang tidak bersinar, matahari tak terlihat, rembulan tidak muncul, kegelapan tak terdapat. Dan ketika seorang suci, seorang brahmana berkat kearifan, mengetahui ini bagi dirinya, MAKA DARI WUJUD DAN TANPA-WUJUD [keinginan untuk eksis/ada di alam wujud atau alam tanpa-wujud], DARI KENIKMATAN/KEBAHAGIAAN DAN KESAKITAN [buah-buah karma yang buruk maupun baik], IA TERBEBASKAN." *** Tentang "tidak mungkin ada dua Buddha dalam zaman yang sama di tatasurya yang sama", itu tidak lebih dari sekadar dogma atau kepercayaan yang dipercaya oleh umat Buddha. Menurut saya pribadi, kebenaran yang hakiki & sama pada dasarnya bisa dicapai oleh siapa saja dan kapan saja, di luar maupun di dalam Buddha-sasana (wadah ajaran Buddha). Kemudian, artikulasi (uraian, penjelasan) dari pencapaian kebenaran itu bisa disampaikan dengan berbagai cara dan paradigma, tidak harus menurut sistematika ajaran Buddha. Apakah orang tercerahkan itu akan mengajar atau tidak, hal itu tidak relevan dengan kenyataan pencerahan itu sendiri. PS: Apakah Krishnamurti seorang arahat? Ia tidak belajar dari seorang Buddha. Apakah ia seorang Pacceka-Buddha? Ternyata ia mengajar orang banyak. Apakah ia seorang Buddha? Itulah repotnya kalau suatu fenomena transendental yang terjadi di luar suatu sistem pemahaman (paradigma) mau dipahami dan dimasukkan ke dalam kerangka sistem pemahaman itu. Ada jalan lain untuk mencoba mendekati suatu fenomena transendental di luar paradigma-paradigma keagamaan. Yakni dengan jalan FENOMENOLOGI, mengkaji pengalaman-pengalaman batin sebagaimana disadari oleh yang bersangkutan. Dalam hal ini, fenomena Krishnamurti, para Arahat, Buddha Gotama, dan Bernadette Roberts mempunyai ciri-ciri yang sama: yakni lenyapnya untuk selamanya 'aku' atau 'diri' yang sebelumnya ada. Itu saja yang bisa kita pahami. Sedangkan kita, sekalipun mengaku sebagai siswa Sang Buddha, masih memiliki fenomena 'aku' dalam kesadaran kita, sekalipun dalam pikiran/intelek kita menerima paham 'tanpa-aku', 'tanpa-diri', 'tanpa-roh', atau 'tanpa-inti'. Salam, Hudoyo ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
