ANALISIS EKONOMI
Hidup Siaga Bencana
Djisman S Simanjuntak
Sepintas lalu tidak dapat dipercaya bahwa bencana alam dan bencana buatan manusia menimpa Indonesia secara beruntun. Banjir, gempa tektonik, dan tsunami, tanah dan sampah longsor, dan kini musim kering silih berganti memukul Indonesia masing-masing dengan kerusakan dahsyat.
Kemungkinan statistikal runtunan bencana seperti itu adalah
hampir nol sehingga sebagian pemimpin Indonesia pun mengaitkannya dengan dosa-dosa kolektif, dosa-dosa pemimpin, dan nasib sial. Pengaitan seperti itu adalah keliru. Kemungkinan statistikal sekecil apa pun tidak memustahilkan sesuatu terjadi, sebagaimana kehidupan pun terjadi biarpun kemungkinan statistikalnya adalah "hampir nol" empat miliar tahun silam.
Indonesia yang sering dilukiskan orang sebagai kepulauan yang damai sentosa atau "Eden Timur", sebaliknya adalah tanah air yang rawan bencana menurut geografi fisikalnya, iklim dan cuacanya, maupun menurut keragaman makhluk-makhluk subselular yang dapat menimbulkan pandemik.
Sejak sejarah manusia
modern, Letusan Toba sekitar 75.000 tahun silam adalah yang terdahsyat di antara letusan vulkanik. Debunya naik hingga ke atmosfer Bumi pun menceritakan "Zaman Es Mini" dan manusia modern didesak hingga hampir punah. Ketika permukaan laut naik luar biasa menyusul akhir zaman es terakhir, peradaban tua diduga tenggelam di bawah Laut Jawa dan Laut China Selatan. Sepanjang sejarah tertulis manusia Letusan Tambora tahun 1815 adalah yang terdahsyat.
Ekonomi bencana alam adalah cabang yang tertinggal dalam ilmu ekonomi. Penaksiran biaya bencana adalah lebih kompleks lagi daripada penaksiran kemungkinan statistikal bencana itu. Taksiran biaya ekonomi bencana Aceh dan Nias tidak membuat bulu roma berdiri karena beberapa alasan. Pertama, biaya ditaksir berdasarkan produk domestik bruto (PDB) yang hilang dan karena itu
ufuk waktunya sangat pendek.
Kesan orang akan lain jika biaya didasarkan atas PDB yang hilang selama misalnya 20 tahun sejak kejadian karena menyusutnya modal alam, modal buatan, dan modal nirwujud, serta menurunnya penduduk. Misalnya sekitar 170.000 orang berkurang dalam kasus Aceh pada tsunami 2004. Seandainya ada harga pasar kehidupan yang sering ditaksir dengan "nilai kehidupan statistikal" (value of statistical life) biaya bencana alam pasti akan jauh lebih besar daripada kehilangan harta benda.
Seandainya setiap penduduk dan setiap kekayaan diasuransikan perusahaan asuransi akan mengungkapkan betapa biaya yang harus dipikul adalah jauh lebih besar
daripada yang dilaporkan. Biaya-biaya yang tidak dapat dikuantifikasi juga banyak. Biaya besar itu dapat diturunkan melalui pemupukan kesiagaan bencana secara berkelanjutan.
Masyarakat siaga bencana
Bersama tantangan-tantangan lain transformasi menjadi masyarakat siaga bencana juga dihadapi Indonesia sebagai tantangan yang harus dijawab segera. Kesiagaan seperti itu memerlukan investasi pada masing-masing masyarakat, perusahaan, partai politik, maupun pemerintah.
Pertama-tama, dalam mindset "rakyat Indonesia perlu ditanamkan kewaspadaan bahwa bencana adalah ancaman konstan yang dapat memukul setiap saat. Masing-masing dan sebagai kelompok warga negara perlu mempelajari risiko-risiko bencana yang mengintai sepanjang hidup. Kedua, kebiasaan melindungi kehidupan dan harta benda sendiri dengan fasilitas-fasilitas yang mengurangi kerentanan terhadap pukulan bencana dan kebiasaan melindungi diri terhadap risiko-risiko itu melalui asuransi bencana perlu ditanamkan. Walaupun asuransi itu sendiri adalah solusi yang tidak sempurna.
Ketiga, institusionalisasi filantropi warga melalui perhimpunan-perhimpunan filantrofik yang saling terkoneksi satu dengan yang lain perlu dipacu. Semangat saling membantu kiranya
masih tinggi di kalangan rakyat Indonesia seperti diungkapkan dalam setiap bencana. Kelemahannya adalah fragmentasi berlebihan yang dapat bermuara dalam upaya-upaya yang saling menghambat ketika dalam setiap krisis kesatuan langkah yang cepat adalah prasyarat.
Keempat, perusahaan-perusahaan Indonesia, terutama yang besar-besar, baik yang swasta maupun BUMN, perlu didorong untuk tampil dengan strategi filantrofi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial korporat (corporate social responsibility). Ketika dunia korporat menyentuh bagian yang semakin besar dari kehidupan rakyat karena pertumbuhan organik dunia korporat itu, maka korporatisasi dan swastanisasi perusahaan pun harus tampil dengan pokok urusan ganda. Berhenti memandang maksimalisasi nilai pemegang saham sebagai urusan pokok satu-satunya.
Kelima, partai politik pun harus memupuk literasi bencana (disaster literacy). Masing-masing partai besar harus mampu menginternalisasi kesiagaan bencana ke dalam politiknya. Anggota DPD yang mewakili daerah-daerah sekitar gugusan api (ring of fire) patutlah menjadi tempat bertanya tentang kesiagaan bencana. Akhirnya, peran pemerintah adalah dominan. Biarpun masyarakat kewargaan sudah tumbuh, pemerintah masih tetap sentral dalam tata kelembagaan Indonesia.
Hal itu merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menanamkan kesiagaan bencana di kalangan rakyat, bisnis, dan masyarakat kewargaan. Sebagai negara yang rentan bencana, Indonesia patut mempertimbangkan pelibatan
seluruh rakyat dalam internalisasi kesiagaan bencana. Misalnya dengan mewajibkan setiap warga negara pada usia tertentu mengikuti "Layanan Sosial Wajib" (Compulsory Social Service), dengan latihan penyegaran setiap lima tahun.
Menghadapi bencana alam, yang paling dapat diandalkan segera adalah bantuan mandiri (self help). Bantuan pihak ketiga selalu diselingi oleh tenggang waktu. Tanggung jawab pemerintah tentu lebih besar daripada fasilitasi. Pemerintah negara yang rawan bencana harus mempunyai kebijakan yang transparan tentang tata ruang di daerah-daerah rentan bencana. Peringatan dini, peringanan beban bencana, dan rekonstruksi pascabencana yang didukung sumber manusia dan keuangan yang memadai.
Kebutuhan sering berperan sebagai "ibu" kemajuan. Setiap kali suatu bangsa ditimpa bencana, sesering itu mestinya dilakukan dua hal. Pertama penanggalan (unlearning) praktik-praktik buruk seperti praktik korupsi. Kedua, pembelajaran praktik-praktik terbaik. Bencana akan datang terus dan sering secara tidak terduga. Ia harus ditransformasi menjadi "destruksi kreatif".
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___