Dear all, 
berikut ini saya forward email dari bro Nicky.
Silakan menikmati yah......
===============================================================
Sekuntum Teratai Untuk Anda Semua Para Calon Buddha,

 

Hm...sudah banyak sekali sharingnya ternyata, tidak apa-apa deh, walaupun
kadaluarsa :p

Karena kemarin-kemarin sakit, jadi tidak bisa ikutan, dan tidak bermaksud
mengulang apa yang sudah ada, tapi hanya ingin menambahkan dari
sharing yang
sudah ada.

 

Steven cong:

Kami para peserta diberangkatkan pada tgl 20 malam hari dengan minibus
dari
Vihara Ekayana Graha, Jakarta. Saya ikut dengan mobil kedua bersama
beberapa
teman yang telat. Di perjalanan kami bercanda, tertawa, saling bertukar
cerita sambil diselingi makanan ringan. Teman saya ada yang membawa kripik
kentang, buah jambu dan anggur. Sepanjang perjalanan yang diisi oleh
suasana
tawa, bahagia serta makanan yang enak, perjalanan terasa begitu singkat.

 

Neir Kate (Tambahan):

Dalam mobil banyak hal yang kita ceritakan, mulai dari pengalaman dengan
hal-hal yang gaib, kemudian menceritakan tentang keampuhan dari parita
"Maha
Karuna Dharani" atau lebih dikenal sebagai "Da Pei cou" dan banyak hal
mengawang-awang lainnya yang diluar pemahaman kita. Entah bagaimana,
pembicaraan pun berlanjut sampai kepada niat (kenapa) orang-orang yang
ingin
terjun dalam kehidupan spiritual yang lebih "dalam/jauh", dengan menjadi
bhikhu, misalnya. Ada yang bilang, "karena ia senang untuk melayani", ada
yang mungkin sulit menjelaskan alasannya, karena memang suatu pengalaman
batin adalah beyond words, sehingga sulit untuk dideskripsikan, ada lagi
yang muncul dengan alasan karena "bingung" (atau mungkin "sadar") bahwa
manusia mulai dari kecil harus belajar lagi dan belajar lagi, kemudian
setelah meninggal dan terlahir pada kehidupan selanjutnya, ia harus
kembali
belajar lagi dan belajar lagi mulai dari 0 (kalau jadi orang), dan entah
untuk keberapa kalinya hal tersebut telah berulang dan berulang. Dari
sini,
muncul perdebatan, tentu saja hal ini menjadi alasan yang aneh, ada yang
langsung berasumsi bahwa 'itu tentu saja karena malas belajar, makanya
bisa
berpikir seperti itu' tentu saja ini benar, kalau yang ditekankan adalah
kata "belajar"nya saja, tapi ada juga yang melihat kata 'yang diulang lagi
dan lagi, bahkan mulai dari 0' maka perspektifnya sudah berbeda, entah
sadar
atau tidak, kehidupan kita sudah berjalan sedemikian banyak, dimana kita
juga bahkan tidak menyadari entah sudah berapa kali kita mengulangi
apa yang
kita lakukan hari ini. Mungkin kita berasumsi bahwa jalani saja hidup ini,
jadi konglomerat kemudian tua dan meninggal, tapi kita juga tidak
menyadari
entah sudah berapa kali kita menjadi konglomerat, tua, dan meninggal, atau
konglomerat, kena stroke, kemudian meninggal, mengulang hal yang sama
entah
berapa kali, dan entah untuk berapa lama lagi, bukankah itu pada akhirnya
menjadi suatu kesia-sia-an hidup. Apakah seperti ini hidup yang
berarti itu?

 

Kalau saya tidak salah, salah satu sutta mengatakan bahwa bahwa "Setiap
orang yang pernah kamu temui, pernah menjadi ibumu" (CMIIW) yang tentu
saja,
jangankan dalam satu bulan, dalam satu hari saja, entah berapa banyak
orang
yang kita temui, entah itu di jalan, di kantor, di rumah, dsb, apalagi
dalam
1 bulan, atau 1 tahun, sehingga sangatlah masuk akal apabila dikatakan
bahwa
asal mula itu tidak terpikirkan, karena kehidupan kita pun sebenarnya
sudah
tak terpikirkan lagi jumlahnya, bisa dilihat dari jumlah makhluk yang kita
temui setiap hari. Jadi apakah kita ingin membuat hidup yang sama lagi dan
lagi, atau sesuatu yang berbeda, yang lebih maju secara spiritual sampai
akhirnya lepas dari kehidupan yang berulang-ulang ini, semuanya
kembali pada
diri kita masing-masing.

 

Richard:

Tgl 22 Juli 2006 hari sabtu

Pagi harinya peserta dibagunkan pada jam 04.00 pagi. 04.15 sesuai jadwal
acara kita melakukan latihan ngondro bersama. Acara ngondro bersama ini di
pimpin oleh Bro Budi Chandra.Dalam ngondro ini kita melakukan latihan
perenungan,visualisasi. Dalam latihan perenungan ini memberikan efek yang
sangat besar bagi kehidupan saya.

 

Neir Kate (Tambahan):

Saya sendiri pada awalnya adalah yang bisa dibilang tidak suka dengan
aliran
Vajrayana, karena bagi saya disini terlalu mistis dan sangat ritual,
padahal
untuk mencapai Sotapanna seseorang harus tidak terikat pada ritual
(CMIIW),
tapi setelah terjun lebih dalam, karena didorong rasa ingin tahu juga,
akhirnya "terjebak" dalam ngondro ini, dan baru tahu bahwa semua itu ada
arti dan maknanya, yang tidak saya pahami dulu, dan sebenarnya malah
sangat
sesuai dengan apa yang saya pelajari selama ini, tentu saja, sampai
sekarang
pun masih banyak yang tidak saya pahami, dan masih dalam tahap belajar.

 

Richard:

Perenungan bahwa kesempatan kita untuk hidup sebagai manusia ini sangatlah
sulit bagaikan sebuah gelang kayu yang dilempar ke tengah samudra yang
luas
dan ada 1 kura kura bermata satu setiap 100 tahun sekali naik ke permukaan
untuk menghirup udara dan gelang kayu itu masuk ke kepala kura-kura
tersebut. Kesempatan kita terlahir sebagai manusia sama dengan perumpamaan
tersebut. Kita kadang lupa dan tidak sadar begitu berharganya
kehidupan kita
sebagai manusia dan sering mensia-siakan kehidupan manusia yang berharga
ini.

 

Neir Kate (Tambahan):

Sebenarnya perenungannya bukan itu saja, adalagi perenungan tentang
kematian, tentang (perlunya) inti ajaran Buddha, dan tentang Samsara.
Perumpamaan yang saya baca, versinya agak berbeda, ada versi yang
mengatakan
bahwa kelahiran sebagai manusia adalah lebih sulit dari perumpamaan
itu, ada
juga (dalam Buddha Vacana - bhante Dhammika), bukan kura-kura bermata
satu,
tapi kura-kura buta, dan itulah sulitnya terlahir sebagai manusia, itu
pula
lah, sulitnya munculnya seorang Buddha, dan itu lah juga, sulitnya Buddha
mengajarkan ajaran-Nya. Jadi perenungan ini menyadarkan kita bahwa, betapa
beruntung dan berharganya kehidupan kita ini.

 

Setelah absorption(pencerapan) (kalau tidak salah) kita ada perenungan
kedua, tentang makna dari "Kehidupan kita kini telah berharga, kita telah
memasuki keluarga Buddha, dan sekarang saya adalah anak Buddha, dst"
Perenungan ini membuat saya merasakan betapa agungnya guru Buddha, dan
betapa memalukan dan kotornya saya untuk hanya mengucapkan diri sebagai
seorang anak Buddha, rasa malu seketika itupun menghantam diri saya,
dan ada
pengalaman batin yang luar biasa yang sulit untuk dilukiskan dengan
kata-kata dari kalimat-kalimat itu, yang hampir membuat saya menangis dan
malu.

 

Richard: Makan dengan hening

Perenungan pertama : menyadari bahwa untuk menghadirkan sepiring makanan
yang kita makan melibatkan seluruh alam semesta, bumi,langit dan seluruh
kerja keras. Menyadari bahwa banyak orang yang saat ini sedang berjuang
keras untuk mendapatkan sepiring makanan.

 

Neir Kate (Sharing Pengalaman Pribadi):

Pernah suatu kali, saya sedang menonton berita di TV tentang bencana
paceklik (kalau tidak salah), salah satu petani sedang diwawancara, tidak
mendengar apa yang diwawancara, (mungkin karena perenungan yang kita
lakukan
ini yah) tiba-tiba timbul rasa hormat dan apresiasi yang begitu mendalam
kepada para petani, dan saya pun tiba-tiba terbayang bagaimana kerja keras
sang petani dibawah begitu teriknya matahari, terlihat dari kulit petani
tersebut yang hitam mengkilap, dan tiba-tiba saja, saya beranjali dan
menghormat pada petani tersebut sebagai ucapan rasa terima kasih yang
sangat
dalam, walaupun itu cuma dalam hati, tapi saya tujukan
setulus-tulusnya pada
para petani, khususnya tentu petani yang diwawancara waktu itu, karena
yang
terbayang hanya dia.

 

Lusy:

Semilir angin, kicau burung,  Kotek ayam, suara daun yg gugur dan suara2
lainnya menjadi lonceng kesadaran bg saya, menimbulkan kedamaian, menyatu
dan mensyukuri keindahan alam.

 

Neir Kate (Komen):

Kebetulan sama, setiap ayam berkokok, saya kembali pada napas sebanyak
tiga
kali, ditambah lagi terik matahari yang terus menyinari, sehingga saya pun
dapat terus eling dalam waktu yang lama, terutama pada panas yang
menyengat
tubuh, tapi juga bercampur dengan udara sejuk pegunungan, dan karena ini
pula, begitu pulang, kulit saya jadi lebih hitam. Biarlah, hitam manis :p
Terima kasih kepada alam, yang sudah menjadi bagian dari Sangha dalam
latihan saya kemaren. Juga terima kasih kepada suara-suara aneh dan suara
tawa dari dapur yang begitu kerasnya yang juga bisa dijadikan sebagai
lonceng kesadaran.

 

Dalam acara meditasi di pagi dan siang hari sewaktu Mindfullness Day,
peserta diberi kebebasan untuk melakukan ngondro, atau meditasi jalan,
atau
meditasi duduk, bagi yang tidak tahan duduk terus, boleh beristirahat
sebentar, atau bisa menggantinya dengan meditasi jalan. Saya sendiri
adalah
yang tidak tahan duduk selama 45 menit, jadi paling lama 30 menit, saya
sudah jalan. Ada sekali, saya sempat duduk dan bertekad untuk duduk dan
tidak akan bangun sampai lonceng dibunyikan, ternyata yang terjadi adalah,
(mungkin setelah 30 menit) kaki saya begitu sakit, sehingga sempat luntur
juga tekad tersebut dan muncullah, "ah, saya nyerah deh", kemudian kembali
mengamati rasa sakit itu, sempat konsen sebentar, mungkin sakitnya
lumayan,
sehingga saya sempat berada pada keadaan dimana hanya ada rasa sakit itu
sendiri, tapi tidak lama kemudian kembali lagi, ada "saya" yang sedang
mengalami rasa sakit itu, dan timbul lagi "ah, saya tidak kuat lagi",
tidak
lama terdengar suara kaki, dan timbul lagi "ah, akhirnya suara lonceng
akan
dibunyikan", tapi setelah menunggu sekitar 1-2 menit, tidak juga
dibunyikan,
kembali lagi muncul "aduh, nyerah saya!", kemudian berpikir bahwa itu
tidak
kekal, beberapa kali, terdengar lagi suara kaki, dan berpikir "ah, lega,
akhirnya lonceng akan dibunyikan" tapi menunggu dan lagi-lagi lonceng
tidak
berbunyi, mulai timbul pikiran "ah jangan-jangan udah lewat nih, dsb"
kemudian "sadar" lagi, dan kembali mengamati rasa sakit itu, dan beberapa
kali juga sempat berada pada state dimana hanya ada rasa sakit itu
sendiri,
tapi tidak pernah lama, dan akhirnya <TENG> timbulah pernyataan dalam hati
"SAYA KAPOK!" hahahaha mungkin ada yang salah dalam latihan saya, mohon
pencerahannya, walaupun menyadari proses itu, tapi yah hanya sekedar
sadar,
tapi sangat ingin bereaksi, karena masih ada campur tangan 'saya' disana
yang merasakan sakit yang luar biasa. Tapi biarpun kapok, saya lakukan
lagi
tekad tersebut pada sesi meditasi duduk kedua, walaupun mulainya agak
telat,
dan sempat kaget juga, ditengah-tengah dengan suara sampah yang jatuh.

 

Sisanya adalah idem dengan yang lain, biar tidak bosan karena
mengulang hal
sama, dan biar tidak terlalu panjang juga.

 

Terima Kasih kepada pada semua para Bodhisatva disana, semoga Bodhicitta
yang telah ada, bisa terus tumbuh dan berkembang dalam diri kita semua.

 

Dari yang kapok, tapi mau lagi :p

Kate

--- End forwarded message ---







** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke