Kompas, Jumat, 28 Juli 2006
Kikuo Morimoto, Lima Tahun Lagi...
"Lima tahun lagi? Mmm... dua-tiga tahun lagi saya akan melengkapi tempat ini. Lima-enam tahun lagi, semua sudah baik di sini. Bahkan, menggunakan sistem listrik tenaga surya," kata Kikuo Morimoto.
Matanya sejenak menyapu lahan "project for wisdom from the forest" (proyek untuk kearifan dari hutan), proyek jangka panjangnya di wilayah Chot Sam, pingggiran Provinsi Siem Reap, yang disinari terik matahari, bulan Juni lalu. Kalimat itu diucapkannya dengan tenang, tetapi mantap. Nada suaranya mengandung keyakinan, meski ia tahu, tidak mudah mewujudkan cita-citanya itu.
Kikuo Morimoto, laki-laki kelahiran Kyoto, Jepang, pada 3 November 1948, semula bekerja di Kyoto sebagai ahli Yuzen, seni pewarnaan kimono Jepang. Pada tahun 1983, ia pindah ke Thailand sebagai manajer pada usaha pewarnaan. Ia juga mengajarkan pewarnaan alami kepada masyarakat pedesaan.
Pada tahun 1995, Morimoto bekerja sebagai konsultan untuk proyek United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Kamboja. Diilhami ide bahwa tidak ada seni dan harapan yang dapat bertahan pada perut lapar, Morimoto meninggalkan pekerjaannya. Kemudian, pada tahun 1996 ia memulai langkahnya mendirikan Institute for Khmer Traditional Textiles (IKTT).
Perang sipil di Kamboja selama 30 tahun sejak tahun 1970 telah menguras energi dan keahlian seni budaya masyarakat. Perang itu juga meninggalkan ketakutan mendalam bagi masyarakat. Bukan masalah gampang untuk merestorasi budaya tradisional yang sudah goyah di tengah kehidupan masyarakat Kamboja.
Semula, IKTT didirikan di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Dalam perjalanannya, menghadapi kian tingginya risiko hilangnya keahlian mengerjakan sutra tradisional, pada tahun 2000 Morimoto memindahkan IKTT ke Siem Reap, provinsi nomor dua di Kamboja.
Dua lokasi
Di Siem Reap, saat ini IKTT berada di dua lokasi. Lokasi pertama di pinggiran kota Siem Reap, sedangkan lokasi kedua di Chot Sam, 23 kilometer barat laut kota Siem Reap. Di kota Siem Reap, terdapat dua rumah panggung yang menjadi bengkel kerja memintal benang, menenun sutra, mewarnai benang, hingga toko tempat menjual produksi IKTT. Sementara di Chot Sam terdapat lahan yang ditanami pohon mulberry (murbei), rumah untuk memelihara ulat sutra hingga menjadi kokon atau kepompong ulat sutra, bahkan lahan beragam tanaman yang nantinya diproses sebagai bahan pewarna alami.
Pada tahun 2004, Morimoto yang mendaftarkan proyeknya pada program The Rolex Award for Enterprise terpilih menjadi Rolex Laureate tahun 2004. Juri yang terdiri dari komite seleksi independen menilai tujuan Morimoto membantu masyarakat Kamboja yang mengalami pemiskinan dalam perang sipil, dengan menghidupkan kembali produksi sutra tradisional, layak memperoleh hadiah utama dalam kategori pelestarian budaya.
Morimoto menerima hadiah 100.000 dollar AS. "Uangnya sudah saya gunakan untuk membeli lahan ini," kata Morimoto. Selain lahan, sisa uangnya juga digunakan untuk membangun rumah panggung berukuran besar, yang pengelolaannya diserahkan kepada pekerja perempuan di IKTT yang dinilai paling mampu bertanggung jawab.
Lahan seluas 20 hektar itu dibelinya secara bertahap, dengan harga bervariasi. Ada yang per hektarnya 800 dollar AS, tetapi ada pula yang 8.000 dollar AS. Dengan uang hadiah itu pula Morimoto berusaha mewujudkan langkah berikutnya, membangun desa sutra, sebagai salah satu model untuk membantu merevitalisasi warga desa di Kamboja.
Bentuknya, melalui project for wisdom from the forest. Pada lahan seluas 20 hektar, Morimoto mengalokasikan setengah luasnya untuk area proyek sutra tradisional, sedangkan sisanya tetap seperti apa adanya semula, yakni hutan. "Mungkin, akhir tahun 2006 ini yang di Siem Reap pindah ke sini juga," kata Morimoto, dalam percakapan dengan sejumlah wartawan dari kawasan Asia yang diajak Rolex mengunjungi IKTT.
Bagi Morimoto, hadiah dari Rolex memberi tiga langkah ke depan bagi IKTT. Dampak paling nyata adalah "promosi gratis" atas keberadaan IKTT dan produknya. "Setidaknya, semakin banyak orang yang tahu. Dulu pembelinya sekitar 80 persen warga Jepang. Sejak menjadi pemenang Rolex Award, komposisi pembeli sutra produksi IKTT menjadi 50 persen warga Jepang dan 50 persen sisanya warga Eropa.
Dikisahkan Morimoto, usaha memulihkan industri sutra tradisional Kamboja tidak mudah. Sepuluh tahun lalu, upaya itu bukan hanya berarti menjaga tekstil tradisional, tetapi juga mengajak serta masyarakat Kamboja untuk menetap di satu tempat karena selama ini masyarakatnya masih suka berpindah tempat.
"Masalah tersulit adalah mengatur atau me-manage orang-orangnya. Karena, orang-orang ini adalah kunci untuk menghidupkan kembali industri sutra tradisional yang nyaris hilang," ujar Morimoto.
Kondisi di lapangan, orang-orang yang memiliki keterampilan membuat sutra tradisional hanya tinggal segelintir. Maka, siasat yang digunakan Morimoto adalah mengajak sekitar 15-20 orang—baik yang memiliki keahlian menenun sutra maupun yang memiliki kemauan untuk mempunyai keahlian menenun—untuk bergabung bersamanya.
Akan tetapi, Morimoto tak sembarangan menerima warga Kamboja yang ingin bergabung. "Kuncinya, lihat matanya. Kalau yang terlihat di mata itu baik dan membuat saya percaya, maka dia diterima," kata Morimoto sambil tersenyum, membuka rahasia kecilnya.
10 tahun peranan
Kini, 10 tahun sudah perjalanan IKTT. Bagi Morimoto, langkah IKTT sudah menunjukkan kemajuan yang baik bagi masyarakat maupun tekstil tradisional Kamboja sendiri. Indikasinya, kualitas material sutra yang semakin baik. Selain itu, komunitas masyarakat desa juga makin bertanggung jawab. "Saya pun berusaha memberikan tanggung jawab yang makin besar bagi mereka," tutur Morimoto.
Maka, sah-sah saja bila Morimoto bercita-cita melengkapi kawasan "project for wisdom from the forest" dengan kebutuhan industri sutra tradisional, mulai dari bahan baku, bahan pewarna alami, hingga pohon murbei untuk makanan ulat sutra. Kemudian, lima tahun mendatang menjadikan kawasan industri tradisional itu dengan kelengkapan sistem tenaga listrik energi sinar matahari. (IDR)


Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke