Namo Buddhaya,

Pertanyaan ini sebenarnya sangat menarik. Pertama-tama kita harus 
mengetahui dahulu apakah yang dimaksud "baik" dan "buruk" itu, 
dimana kedua hal yang bertolak belakang itu hanya ada pada tataran 
kebenaran relatif. Karena kita masih berada dalam tataran kebenaran 
ini tidak ada salahnya kita bahas dari sudut kebenaran ini.
Jadi, sekali lagi saya ulangi pertanyaannya: untuk apa berbuat "baik"? 
Pertama-tama kita harus memiliki definisi apa itu yang disebut "baik." 
Sebagai pembukaan, "baik" kita definisikan sebagai "tidak merugikan 
diri sendiri dan orang lain." Kita akan menelaahnya terhadap 
pengaruhnya terhadap masyarakat yang nyata saja, tidak perlu 
berbicara hal yang tidak nampak seperti "karma" atau "kelahiran 
mendatang." Ambil contoh "mencuri." Apakah "mencuri" ini baik? 
Anggaplah bahwa setiap orang di muka bumi ini adalah pencuri. Anda 
adalah pencuri dan saya juga adalah pencuri. Apakah hidup seperti itu 
akan nyaman? Anda mungkin dapat dengan mudah mengambil dari 
orang lain, tetapi jangan lupa bahwa apa yang Anda dapatkan juga 
akan dicuri oleh orang lain. Nah, silakan dijawab sendiri apakah 
kehidupan seperti ini nyaman.
Oleh karena itu, berbuat "baik" amatlah perlu agar dicapai ketertiban 
dalam masyarakat, bahkan masyarakat yang tidak "beragama" -pun 
juga menyatakan bahwa mencuri itu "tidak baik." Kalau Anda ke negara 
komunis, pencuri juga akan dihukum berat, bahkan di RRC pencuri 
(koruptor) dijatuhi hukuman mati.

Sekarang beralih pada posting Sdr. Sindu:

Kalo tidak ada roh yang kekal, buat apa kita berbuat baik, buat apa 
menanam kebajikan menjadi pahala, buat apa kita ke vihara, buat apa 
ada 5 agama, toh begitu mati semuanya lenyap.
Tentunya ada itu ROH yang kekal, Buddha Sakyamuni tidak pernah 
mengatakan tidak ada ROH yang kekal, beliau hanya mengatakan 
tidak ada AKU yang kekal. Jangan disamakan tidak ada ROH yang 
kekal dgn tidak ada AKU yang kekal(anatta).

AKU disini artinya badan jasmani kita ini, ini jelas tidak kekal, krn bisa 
sakit, bisa tua, bisa mati dan lenyap, tapi ROH yang kekal itu ada, dia 
tidak bisa lenyap, meskipun AKU (jasmani) ini lenyap, dia tetap tidak 
bisa lenyap, sebenarnya karena tidak kelihatan wujudnya maka roh 
dikatakan tidak ada, tetapi sebenarnya ada.

Justru buddha mengatakan, kalo sudah mengerti, karena tidak ada 
AKU yang kekal (anatta) maka kita harus membina sampai 
menemukan ROH yang kekal diri kita sendiri.

Pengertian ada dan tidak ada, mestinya dimengerti sendiri, memang 
ada itu ROH yang kekal tapi sayang tidak bisa dilihat dengan mata 
daging, maka ada yg mengatakan tidak ada ROH yang kekal, tapi 
sebenarnya ada.

Penjelasan saya:

Karena ini sudah menyangkut Buddhisme, maka saya juga akan 
menjawabnya berdasarkan agama Buddha. Menurut Buddha, semua 
makhluk terbentuk dari lima skandha. Lima skandha ini merupakan 
unsur2 yang juga selalu berubah. Salah satu dari skandha itu adalah 
vijnana atau kesadaran. Anda boleh menyebutnya sebagai ¡§roh,¡¨ 
karena itupun juga hanya semata-mata nama saja dan tidak 
mencerminkan hakekat sebenarnya.Inilah yang menyebabkan mengapa 
seseorang menerima buah karmanya, entah baik entah buruk. Menurut 
filsafat aliran Yogachara, benih-benih karma ini akan tenggelam pada 
kesadaran kedelapan (alaya-vijanana = gudang kesadaran) dan bersifat 
laten. Karena dibuahi oleh lobha, dosa, dan moha, maka bila saatnya 
tepat, benih-benih karma itu akan bertunas, berbuah, dan seterusnya. 
Jadi jelas sekali tidak diperlukan adanya konsep ¡§roh yang kekal¡¨ 
(atman) agar seseorang menerima akibat karma baik atau buruknya. 
Analogi hal ini, adalah sebuah benih. Selama ada kondisi yang 
menjaga agar benih itu tetap hidup (misalnya tidak dimasak atau 
dibakar serta kelembapan udara yang memadai), maka ia bersifat laten 
terhadap pertunasan dan pertumbuhan. Selanjutnya bila benih itu 
bertemu dengan tanah, barulah ia dapat bertumbuh. Untuk jelasnya 
silakan baca Sutra Salistamba, yang telah menjelaskan hal ini dengan 
gamblang.
Berdasarkan uraian ini, saya telah menjelaskan bahwa kalaupun ¡§roh¡¨ 
itu ada bukanlah keharusan bahwa ia merupakan sesuatu yang 
¡§kekal.¡¨ Mungkin Sdr. Sindu dapat menjelaskan alasannya mengapa 
harus ada sifat yang ¡§kekal¡¨ pada roh. Nanti akan kita diskusikan 
bersama-sama. Selain itu, saya telah menjawab pula mengapa kita 
tetap perlu berbuat baik (bila Anda masih menginginkan buah karma 
baik) kendati tidak harus ada ¡§roh¡¨ yang ¡§kekal.¡¨
Perlu Sdr. Sindu ketahui bahwa Agama Buddha bukanlah nihilisme 
dalam artian ¡§tidak ada apa-apa¡¨ sama sekali (0). Yang benar bahwa 
¡§sesuatu¡¨ itu memang ¡§ada,¡¨ tetapi karena melampaui kata-kata dan 
bahasa, maka tidak ada atribut yang tepat baginya, termasuk kata 
¡§kekal¡¨ itu sendiri. Kalau Sdr. Sindu renungkan, pengertian ¡§kekal¡¨ 
sendiri banyak macamnya. Ada ¡§kekal¡¨ yang berarti ¡§macet¡¨ atau 
¡§selamanya begitu.¡¨ Ini adalah pengertian ¡§kekal¡¨ dalam artian 
¡§kemandegan.¡¨ Sedangkan pengertian berikutnya adalah ¡§tetap ada¡¨ 
tetapi masih mungkin berubah-ubah atau berproses. Konsep ¡§kekal¡¨ 
kedua inilah yang barangkali lebih dekat dengan Buddhisme. 
Contohnya adalah ¡§kekekalan¡¨ energi. Energi memang tidak dapat 
diciptakan atau dimusnahkan, tetapi ia terus menerus berproses. 
Perdebatan terjadi karena kita terlalu melekat pada ¡§kata.¡¨ Banyak 
umat Buddha yang alergi terhadap kata ¡§kekal.¡¨ Mereka berpendapat 
bahwa ¡§pokok¡¨nya tidak ada yang ¡§kekal.¡¨ Padahal pandangan 
semacam ini justru membawa pada nihilisme. Oleh karena itu banyak 
sutra-sutra Mahayana (Sutra Samdhinirmocana dan Bhavasankranti) 
dengan terang-terangan memperingatkan agar kita jangan terjebak pada 
permainan kata-kata. Hasilnya sungguh berbahaya. ¡§Kata-kata¡¨ 
bukanlah untuk dimainkan.
Saya kira sekian dahulu. Nanti kalau ada yang perlu didiskusikan lebih 
lanjut mari kita sambung lagi pembicaraannya.

Salam metta,

Tan









** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke