Namo Buddhaya,

Oleh karena itu, umat Buddha harus all out dan mendukung Bapak 
Kwik agar dapat terpilih sebagai wakil presiden RI pada pemilu 
mendatang. Suara umat Buddha adalah signifikan sayang tidak pada 
satu komando. Dari peristiwa ini hendaknya, kita belajar bahwa sikap 
masa bodoh atau membeo akan merugikan diri sendiri. Mulai sekarang 
kita belajar untuk memilih calon yang jujur, pintar, tepat, dan membela 
aspirasi rakyat. Mari kita dukung Bapak Kwik sebagai wakil presiden 
Republik Indonesia.

Metta,

Tan

--- In [email protected], Jeritan Bisu <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
>   Kompas, Selasa, 01 Agustus 2006 
>   Harga BBM dan APBN Kita 
>   Kwik Kian Gie 
>   Menyikapi naiknya harga minyak mentah hingga 74 dollar AS per 
barrel, Wakil Presiden Jusuf Kalla setelah rapat dengan menteri-
menteri ekonominya mengatakan, sampai seberapa tingginya pun 
harga minyak mentah di pasar dunia, APBN tidak akan terpengaruh. 
Karena itu harga BBM dipastikan tidak akan naik, meski harga minyak 
mentah mencapai 100 dollar AS per barrel. 
>   Namun Menteri Keuangan mempunyai pendapat yang berbeda. Dia 
menyatakan, harga minyak dunia yang tinggi mengakibatkan subsidi 
BBM meningkat lagi. Demikian juga subsidi kepada PLN, sehingga 
APBN menjadi rawan. Menko Perekonomian Boediono mempunyai 
pendapat yang sama dengan Menkeu. Dia mengatakan, penerimaan 
migas akibat kenaikan harga minyak mentah masih lebih kecil 
dibanding dengan beban subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah. 
>   Bagaimana ekonomi mau beres jika untuk masalah yang begitu 
penting tidak ada pengetahuan dan pemahaman yang sama antara 
menteri-menteri ekonomi dengan Wapres yang memegang kendali 
ekonomi tertinggi ? 
>   Tidak lama setelah dilantik, dalam kesempatan bertemu singkat 
dengan Wapres JK, beliau mengatakan kepada saya, kalau harga 
minyak mentah mencapai 60 dollar AS per barrel, pemerintah harus 
mengeluarkan subsidi untuk BBM dalam bentuk uang tunai sebesar Rp 
115 triliun. Uang itu tidak ada. Terjadilah kenaikan harga BBM sampai 
sama dengan harga pasar dunia. 
>   Kalau kita ambil bensin premium, harganya naik dari Rp 2.700 
menjadi Rp 4.500 per liter. Dengan nilai tukar rupiah satu dollar AS 
sama dengan Rp 10.000, harga bensin premium yang menjadi Rp 4.500 
per liter ekuilaven dengan harga minyak mentah sebesar 61,55 dollar 
AS per barrel. Ketika itu, harga minyak mentah 60 dollar AS per barrel. 
>   Jelas sekali jalan pikirannya, harga BBM di dalam negeri harus 
selalu ekuivalen dengan harga minyak mentah di pasar dunia. 
Dikatakan oleh Wapres, selanjutnya harga BBM akan naik turun 
dengan persentase yang persis sama dengan naik turunnya harga 
minyak internasional yang ditentukan oleh New York Mercantile 
Exchange (NYMEX). Maka, katanya lebih lanjut, Indonesia sudah tidak 
akan lagi mempunyai masalah subsidi BBM. 
>   Segera setelah kenaikan harga BBM yang drastis itu, semua harga 
barang dan jasa meningkat tajam. Terutama PLN yang bahan bakunya 
BBM, langsung menyatakan akan rugi amat besar jika tarif dasar listrik 
(TDL) tidak dinaikkan. Mula-mula pemerintah mengatakan TDL akan 
dinaikkan. Tetapi setelah ada reaksi keras dari masyarakat, pemerintah 
ketakutan. Buru-buru mengatakan TDL tidak akan dinaikkan, yang 
berarti, listrik disubsidi. 
>   "Opportunity loss" 
>   BBM tidak disubsidi, TDL disubsidi. Yang lebih aneh lagi, "subsidi" 
BBM yang ditiadakan justru bukan subsidi, tetapi perbedaan antara 
harga yang dikenakan kepada konsumen Indonesia untuk minyak yang 
dimilik sendiri dengan harga yang ditentukan NYMEX. Kalaupun mau 
berpikir dalam arti "rugi", ruginya itu opportunity loss, bukan real cash 
money loss. Dalam hal TDL, karena PLN harus membayar bahan bakar 
yang mahal dari Pertamina, kerugiannya kerugian riil. Dan ini justru 
disubsidi. Jelas jalan pikiran pemerintah amat kacau balau. 
>   Dalam kekacau berpikir ini Wapres JK menyadari, yang 
dinamakan "subsidi BBM" tidak sama dengan pengeluaran uang. Maka 
dikatakan, sampai seberapapun harga minyak mentah di pasar 
internasional, APBN tidak akan terpengaruh. Apa artinya? 
>   Artinya, ketika Wapres JK mendukung sekuat tenaga menaikkan 
harga BBM sampai 126 persen, beliau dikecoh dan "disesatkan" oleh 
para menteri ekonominya sendiri. Kini ia baru menyadari. 
>   Tidak demikian dengan para menteri ekonominya. Bagi mereka 
mekanisme pasar adalah dogma dan doktrin yang harga mati. Jika di 
Indonesia tidak ada mekanisme pasar untuk minyak mentah, 
mekanisme pasar di New York atau NYMEX harus berlaku buat minyak 
mentah Indonesia. 
>   Kita harus bergembira bahwa Wapres JK mulai "berpikir normal". 
Untuk itu, izinkan saya menjelaskannya sekali lagi. 
>   Biaya pemompaan (lifting), pengilangan dan transportasi dari 
minyak mentah sampai menjadi BBM atau bensin yang siap pakai di 
pompa-pompa bensin sebesar 10 dollar AS per barrel. Kalau nilai tukar 
rupiah, misalnya, Rp 10.000 per dollar AS, maka per liter menjadi Rp 
630. 
>   Jadi sebelum harga bensin premium dinaikkan, yaitu ketika masih 
Rp 2.700 per liter pemerintah sudah kelebihan uang tunai sebesar Rp 
2.070 per liter. Mengapa dikatakan memberi subsidi? Karena 
doktrin "mekanisme pasar" mengatakan, BBM milik bangsa Indonesia 
yang harus dibayar pemiliknya sendiri dan harus ditentukan oleh 
NYMEX. 
>   Nah, NYMEX menentukan harga minyak mentahnya 60 dollar AS 
per barrel. Jika dengan nilai tukar RP 10.000 per dollar, maka sama 
dengan Rp 600.000 per barrel. Bila dibagi 159, maka per liternya 
menjadi Rp 3.774. 
>   Angka itu ditambah biaya-biaya lifting, pengilangan dan transportasi 
sebesar Rp 630 per liter tadi menjadi Rp 4.040. Doktrin mekanisme 
pasar mengatakan, ini yang namanya "harga" dan yang harus 
dikenakan kepada bangsa Indonesia. 
>   Selisih dengan harga yang dikenakan sebelum naik (Rp 2.700 per 
liter) sebesar Rp 1.340 adalah subsidi. Ini harus dihapus dengan 
menaikkannya menjadi Rp 4.500 per liter dengan bensin premium 
sebagai acuan. 
>   Mengingat Wapres menganggap mekanisme pasar bukan doktrin, 
saat menyadari kesalahan atau "penyesatan" yang diberikan 
kepadanya oleh menteri-menteri ekonominya, beliau dengan lantang 
mengatakan seperti dikutip di atas. Tetapi tidak demikian dengan 
menteri-menteri ekonominya. Mereka harus mempertahankan doktrin 
yang diperintahkan "majikan" mereka. Maka mereka tidak peduli 
apakah sesama anak bangsa mati kelaparan atau tidak akibat naiknya 
harga BBM yang harus selalu persis sama dengan harga yang dibentuk 
NYMEX. 
>   Sebagian memang impor 
>   Perlu dikemukakan, BBM yang dikonsumsi rakyat Indonesia 
sebagian harus diimpor. Untuk yang harus diimpor ini, pemerintah 
harus membayar harga internasional sepenuhnya. Maka jika harga jual 
BBM tidak ekuivalen dengan harga minyak mentah internasional, 
pemerintah memang rugi. 
>   Untuk yang dapat dipenuhi oleh minyak mentah yang menjadi hak 
Indonesia, pemerintah memperoleh surplus uang. Surplus uang tunai ini 
harus disandingkan dengan minus uang tunai dari bagian yang diimpor. 
Hasilnya mungkin masih minus, tetapi tidak banyak. Dan defisit yang 
tidak banyak ini dikompensasi dengan gas alam yang melimpah. 
>   Dalam menghitung defisit atau tidak, JK sekarang memperluas 
wawasannya dengan gas alam. Maka dikatakanlah kalaupun harga 
minyak mentah di New York sampai 100 dollar AS per barrel sekalipun, 
APBN kita tetap bergeming. 
>   Setelah "disesatkan" kini Wapres menjadi benar. Sayang BBM 
sudah telanjur dinaikkan 126 persen dengan akibat kerusakan ekonomi 
dan penderitaan rakyat yang amat luar biasa. 
>   Kwik Kian Gie Ekonom Senior 
>    
>   
>               
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low  PC-to-
Phone call rates.
>






** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke